Kamis, 27 April 2017

Time

Apapun teori tentang waktu, yang jelas manusia hanya ingin 2 hal. Turn back time and see the future.
Ah, manusia mana yang tidak ingin.
Bisa pergi ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahannya dan bisa pergi ke masa depan untuk sekedar melihat apa yang akan terjadi.
Tapi coba dipikir lagi, masa lalu itu paling asik buat jadi bahan ketawaan atau sekedar penghibur dikala bosan. Membayangkan kebodohan yang pernah dibuat, sambil berfikir seandainya dia yang dulu itu gua yang sekarang pasti semuanya bakal lebih baik. Yakin? Belum tentu.
Kecuali orang-orang yang tidak menyukai keadaan yang sekarang, masa lalu membuat kita menjadi kita yang sekarang.

Kalau bisa tau masa depan, mungkin kita bakal mati-matian ngerubahnya kalau nggak suka. Capek kan? Iya capek.

Dulu mungkin kita bodoh, akhirnya menyesal dan belajar bahwa kebodohan itu gak boleh terulang lagi.

Dulu mungkin semuanya terasa berat, toh sekarang semuanya bisa kita tertawakan.

Ever wonder what will come next to your life? 

Just wait. It will come to you.

Hari ini saya belajar bahwa hal kecil bisa mengubah hidup saya dengan mudahnya.

Dear God, i will be waiting for your next surprise. Like, whatever kind of surprises 😉

*Tulisan ini tercipta karena kejenuhan yang sangat amat tinggi dan pikiran yang entah kemana*

Rabu, 26 April 2017

Rokok dan Analoginya

 Hari ini gua meneruskan ketidaksuksesannya lewat postingan lanjutan.Postingan kali ini adalah tentang langkah-langkahnya.



Tapi tenang, gua tidak pernah bermaksud untuk menggurui, sebab ini adalah tentang rokok. Gua juga suka mikir bahwa petisi dan ajakan untuk tidak merokok adalah hal yang sia-sia. Jika semua berhenti merokok, petani tembakau akan bunuh diri. Jika semua orang berhenti merokok, Indonesia akan menjadi negara yang dipenuhi  pengangguran. Di negara yang penduduknya seringkali bertikai hanya karena perbedaan agama, tentu ketika kehilangan pekerjaan akibat terkena PHK dari pabrik rokok, akan menjadi alasan kuat kenapa kriminalitas meningkat pesat.

Yang merokok silahkan merokok pada tempatnya, yang tidak merokok tidak perlu melarang orang lain merokok, semua akur jika kita mengerti apa itu toleransi. Pun tentang beragama, yang beragama A silahkan beragama A, tidak perlu merasa memiliki Tuhan yang paling benar, tidak perlu merasa memiliki kitab suci yang paling menjamin masuk Surga, dan tidak perlu meninggikan agama sendiri dengan cara merendahkan agama yang lain.

Oke sorry, gua kebawa suasana Pilgub.. 

Sampai di mana tadi?


=====

Menghisap rokok sama saja dengan berpacaran, sedang berhenti merokok sama saja dengan berakhir selamat jalan.

Kenapa move on dari mantan itu sulit? Kenapa berhenti merokok itu sulit?

Ya, karena dua-duanya adalah tentang kebiasaan.

Perihal melupakan, sederhananya adalah tentang mengubah kebiasaan.

Dan sialnya, mengubah kebiasaan tak pernah sederhana.


Ini juga terjadi di bulan pertama gua mencoba berhenti dari asap rokok, semuanya terasa asing. Gua nggak membenci rokok, karena semakin gua benci, gua hanya akan kepikiran dengannya. Persis dengan mantan, semakin dibenci, hanya akan mempersulit proses move on. Yang harusnya dilakukan adalah melupakannya pelan-pelan, dengan cara memafkan. Sama halnya dengan rokok, yang gua lakukan hanyalah mengubah kebiasaan.

1) Kurangi Dosisnya

Seperti yang udah gua bahas di postingan sebelumnya, gua adalah pemuja garpit. Untung saat itu gua sudah dibekali dengan agama, jika tidak, sudah tentu gua akan menyembah garpit dan koreknya.

Benar-benar nggak keren.

Pertama-tama, gua nggak lantas tanpa asap rokok sama sekali. Itu mustahil. Itu seperti sudah bertahun-tahun bersama, tapi beberapa detik kemudian langsung talak tiga. Gua kurangi dosisnya, dari garpit sebungkus sehari, menjadi mild sebungkus sehari.

Apakah itu ngaruh?

Sangat.

Kalau udah biasa ngerokok berat, ketika ngerokok yang ringan akan terasa kempos. Dalam arti yang lebih mudah dicerna, itu artinya hampa tiada rasa. Persis seperti seminggu setelah putus, selalu akan ada rasa untuk menghubunginya. Jika semasih pacaran SMS-nya “Sayaaaaang, kos aku sepi lho..” dan sekarang hanya bisa,  “Hae lagi apa?”

Ya, dosisnya berkurang.

SMS seperti itu rasanya kempos, hampa tiada rasa.

Lalu untuk apa menurunkan dosis rokok berat ke rokok mild? Ya, untuk membiasakan tubuh menerima kadar nikotin dan tar yang lebih rendah.  Lalu untuk apa membiasakan diri mengurangi akses telfon kepada mantan? Untuk membiasakan diri pada kehilangan, bahwa kebersamaan tak selalu sejalan, bahwa kehilangan sejatinya adalah kebersamaan yang berbeda jalan.. #Tsaaah gaya lo daneee


2) Temukan Substitusi

Tiada kata yang tidak terganti, akan selalu ada kata-kata lain yang akan menggantikan. Sejak itu gue sadar, bahwa kalimat “Goodbye” tidaklah abadi, ia akan tergantikan dengan SMS “Hae lagi apa?” dari yang lain, sebut saja ia strangers.

Power strangers.

Ya, orang asing yang punya kekuatan untuk mengubah duka menjadi suka.

Begitu juga dengan rokok. Setelah gua sukses mengurangi dosis hisapan rokok dari mild sebungkus sehari, lalu menjadi setengah bungkus sehari, dan akhirnya cuma menjadi ketengan-ketengan sesempetnya. Tapi kesementaraan itu belumlah cukup.

Mari ke level selanjutnya, menemukan substitusi.

Yang namanya mencoba berhenti merokok, akan ada saat-saatnya sakau. Saat di mana tubuh menagih jatah nikotinnya. Seperti saat menunggu orang, saat berkumpul dengan teman-teman, saat ngerjain revisi skripsi terus nggak tau mau dibenerin yang mana, dan yang paling krusial adalah setelah makan. Ya, gejalanya adalah bibir pecah-pecah, tenggorakan sakit, dan sulit buang air besar. Ah, bukan. Gejalanya adalah bibir terasa asem, pikiran terasa tidak tenang, sanubari terkoyak, dan mata sepet-sepet burem.

Itu juga yang gua derita ketika seminggu berusaha tanpa rokok mild sama sekali.

Saat itu, galau tanpa kekasih mungkin tak semenderita galau tanpa sebatang rokok.

Ketika sakau datang menghampiri, gue mencoba tenang. Gua ambil sebungkus Oreo, putar sedikit, jilat perlahan, lalu celupkan. Seperti itu sampai sakau pergi. Tapi seiring perubahan zaman, harga Oreo sudah tidak murah lagi, bahkan harga sebungkus Oreo dengan krim coklat hampir menyamai harga sebungkus rokok mild isi 12 batang.

Setelah Oreo dikatakan berhasil meredam nafsu mengemut rokok, gue temukan bahwa susu Indomilk  dapat juga dapat menekan nafsu itu. Setelah makan, gua coba sempatkan untuk ke warung, beli minuman itu. Sekedar mencegah sakau dadakan.

Selain Oreo dan Indomilk, gua juga sempatkan membawa permen. Ketika kongko sama teman-teman, saat mulut mereka penuh dikepul asap, pipi gua tembem dipenuhi lollipop. Yeah..

Ternyata ngemut lollipop gaul juga..

Sama halnya ketika berhadapan dengan mantan, setelah mampu mengurangi dosis kangen, tentu saja harus mencari penggantinya. Tidak harus selalu dipacari, anggap saja pengalih perhatian. Ya, dari sanalah sebenarnya asal muasal pelarian dan PHP. Haha.

Bertemulah dengan yang lain, dengan yang asing. Jika cinta dimatikan oleh orang dekat, maka luka akan disembuhkan oleh orang asing.

Percayalah..


3. Bertahan

Konsisten yang akan membuat kita bertahan di kala suka, komitmen yang akan membuat kita bertahan di kala duka.

Kalimat sederhana di atas adalah sebuah prinsip yang selalu gua pegang dan gua bawa ke mana-mana. Segala yang dikatakan berjuang, butuh konsisten dan komitmen. Dan yang namanya berjuang, selalu berteman dengan godaan, halangan, dan rintangan. Mereka bertiga bertugas untuk membuat gua mengeluh. Membuat gua merasa pesimis, lalu mundur perlahan.

Apalagi jika berhadapan dengan yang namanya mengubah kebiasaan. Berhenti merokok adalah perjalanan panjang.  Ada banyak godaan yang gua rasakan untuk kembali ke pangkuan garpit.

Dan tentu saja ke pangkuan mantan.

Mantan adalah makhluk yang keji. Ia dapat berubah menjadi cantik dan semok sesaat setelah diputusin. Entah harus dengan hukum apa menjelaskannya, rambutnya makin harum, tubuhnya makin semampai, dan senyumnya makin bersinar.

Gua sadar, dia memang lebih bahagia dengan yang lain.

Saat gua mulai yakin bahwa dia memang lebih bahagia dengan yang lain, tiba-tiba dia SMS, “Ngerasa nggak sih kalau kita sebenarnya cuma emosi sesaat?” #Duarr

See?

Ketika hati paling kecil gua merasa kangen, dia datang kembali menawarkan perubahan.

Ketika tubuh gua sebenarnya masih membutuhkan nikotin, teman-teman gua datang ke depan gua, membanting  berbungkus-bungkus rokoknya dan berkata, “Dan, ini ambil, buat teman kayak lo, ini selalu gratis Dan, gratis. Ambil ini Dan, ini adalah karya terbaik anak bangsa.”

Damn.

Untuk itulah Tuhan menciptakan konsisten dan komitmen, sebab setia hanyalah kiasan. Setia hanyalah ketidakmampuan manusia dalam menyebut dua kata luar biasa yang sering luput dan disepelekan. Setia hanyalah satu kata, yang dibangun dari dua kata di atas.

Jika gua bisa setia untuk merokok, gua juga harus bisa setia untuk tidak lagi merokok. Selamanya.




=====

Sebenarnya, selain tiga langkah sederhana untuk jadi ganteng maksimal, untuk berhenti dari merokok, gua punya satu motivasi yang melatarbelakanginya, yang di postingan sebelumnya nggak gua ceritakan.

Ya, ini sangat rahasia, bahkan ini menjadi kunci penting dari keberhasilan gua berhenti merokok.

Tetep, tentang cinta.

Dulu, ketika gua merokok, pacar gua pernah bilang, “Bibir kamu bau aspal.”

Gua amat terpukul.


Ketika hatiku tak lagi diterima hatinya, di sanalah jarak terjauh untuk dicapai, dari sanalah perpisahan dimulai

Senin, 17 April 2017

My Best Regret

My Best Regret: ARSITEK Gagal

Ada satu hari di pertengahan Februari 2008 kemarin, yang menjadi momen krusial buat gua. Ya, gua hadir di sebuah acara besar yang dihadiri banyak mahasiswa dan mahasiswi, yang kompak memakai setelan hitam-hitam. Ya, setelan hitam-hitam dengan topi khas orang wisuda yang apabila setelah selesai dipakai akan mereka lempar tinggi-tinggi ke angkasa. Gua sudah siap dengan kamera yang telah disiapkan seorang teman gua, ketika ia melompat dan melempar toganya ke angkasa, bidikan kamera gua tepat membuatnya terlevitasi. Ya, dia adalah seorang teman gua yang telah diwisuda dari Fakultas Teknik.

Ya, sudah entah ke berapa kali, gua menjadi tukang potret wisuda temen sendiri. Kepedihan gua belum sampai di situ, gua juga bertemu dengan teman yang lain, dan kembali diminta untuk memotretnya. Sayangnya, dia adalah junior gua di kampus. Dia satu angkatan lebih muda.

Hati ini remuk redam.

Buat gua saat itu, acara wisuda yang memakai setelan hitam-hitam lebih mirip ke acara pemakaman. Ketika acara pemakaman, semua orang pasti sedih atas kepergian orang yang dicintai. Yang bisa mereka lakukan adalah mengikhlaskan dan mendoakan agar sang almarhum bisa bahagia di afterlife.

Begitu juga dengan gua saat itu, yang gua hanya bisa lakukan adalah mengucapkan selamat serta mendoakan agar teman-teman gua bisa sukses di dunia yang sebenarnya. Senyuman dan rasa bangga yang gua sematkan di tiap toga yang dikenakan teman-teman gua itu, selalu diikuti dengan rasa sedih setelahnya. Rasanya campur aduk, antara kapan gua menyusul mereka, dengan ketidakrelaan gua ditinggal teman-teman seperjuangan.

Di tengah-tengah euforia mereka, gua tertawa sambil menyembunyikan rasa sepi, penyesalan-penyesalan gua di hari kemarin seperti terputar kembali satu per satu. Kalimat, “Andai saja gua bisa kembali ke masa silam dan mengubah cerita.” – sebuah kalimat yang sungguh delusional, kembali muncul dan membuat gua terdiam sebentar.

=====

ARSITEK Gagal

Bokap gua adalah seseorang yang bekerja di bidang teknik. Karena di masa silam kakek gua tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan bokap gua di sekolah teknik, akhirnya kakek gua mendarat di sekolah STM. Sejak SD, gua sudah suka dengan yang namanya pelajaran MIPA terutama Fisika. Dan semenjak itulah, ketika masuk ke jenjang SMP, gua berniat mewujudkan keinginan terbesar bokap gua – dengan menjadi arsitek. Jika bokao gua saat itu nggak bisa menjadi arsitek, maka gua yang akan menggantikannya.

Setelah sukses merajai pelajaran fisika tiga tahun berturut-turut, dengan rambut tegak berdiri menantang, tatapan tegas, dan kepercayaan diri yang tiada cela, gual mantap melangkahkan kaki ke SNMPTN. Dan seperti yang sudah kalian duga, gua
bakal milih jurusan Fisipol.

Ya, nggaklah.

Gimana sih..

Ya, gua mantap untuk menuju fakultas teknik di salah satu dari tiga besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Di tahun itu, gua mengikuti 5 macam seringan masuk di PTN. Kalau tidak diterima di nomor satu PTN terbaik Indonesia, setidaknya gua masih bisa mendarat di nomor dua dan tiga.

Prinsip gua hanya satu, yaitu menjadi arsitek adalah harga mati. Lebih baik menjadi arsitek daripada menyerah pada kemunafikan. Gua tak mampu membayangkan bagaimana caranya menjalani masa muda tanpa sekolah di teknik sipil, pasti sangat menyedihkan sekali. Jika tidak diterima di teknik kemungkinan paling besar, gua hanya akan menjadi cowok ganteng pada umumnya.

Ini tidak boleh terjadi.

Tidak boleh..

Tiga dari lima saringan masuk yang gua ikuti sudah memberikan hasil. Ada yang diumumkan lewat harian pagi di koran, ada yang lewat situs universitas, dan ada yang langsung di-SMS ke hape peserta ujian. Kebetulan, hasil USM (Ujian Saringan Masuk) di univ A sudah keluar, kepastian gua diterima atau nggak diumumkan lewat SMS tepat pukul 7 pagi.

Setelah minum susu dan curcuma plus, gue beranikan membuka SMS yang masuk itu. Nomor di pesan itu terlihat sangat asing, seperti di-sms melalui komputer atau sistem, bukan nomor-nomor provider pada umumnya,

Gua klik pesan tersebut, degup jantung yang cepat mulai membahana di seisi ruangan kepala gua.

SELAMAT,

Sebuah kata yang sangat mengharukan, sebuah kata yang sangat tepat untuk menjawab sebuah pengharapan dan penantian.

Gua coba turunkan lagi pesan itu ke arah bawah untuk melihat isi keseluruhan SMS,

SELAMAT,

SELAMAT MENCOBA LAGI DI KESEMPATAN BERIKUTNYA,

JALAN MASIH PANJANG

JANGAN MENYERAH,

TERIMA KASIH TELAH MENGIKUTI USM UNIVERSITAS A.

Gua terdiam sebentar, tak lama kemudian gua terjerembab ke lantai. Menatap ke langit-langit kamar, bertanya-tanya di kepala, mengapa gua tidak terlahir dengan otak yang pandai.

Akhirnya, di pengumuman hasil ujian masuk universitas lainnya, gua juga ditolak masuk Fakultas Teknik. Nilai ujian gua nggak pernah nyentuh passing grade Fakultas Teknik di tiga besar PTN di Indonesia. Gua sadar, untuk bisa kuliah di teknik haruslah pintar. Tidak hanya sekedar pintar Biologi dan Fisika. Tapi juga harus pintar Matematika dan Kimia.

Teknik yang erat dengan basic Biologi dan Fisika, di mana dua bidang itu sangat gua kuasai, namun kenyataannya gua malah gagal karena kurangnya kemampuan gua di bidang Matematika dan Fisika. Jadi, gua nggak bisa jadi arsitek karena nggak jago Matematik dan Fisika. Walau gua gagal di ujian masuk, sampai sekarang gua masih percaya kalau gua akan sangat kompeten ketika sudah kuliah di sana.

Ini persis kayak nasib seorang lelaki yang mau bekerja keras, mau belajar untuk merancang masa depan yang mapan, namun ia ditolak dan dibuang oleh perempuan yang dicintainya karena satu hal: ia belum mapan di awal. Perempuan itu hanya ingin menerima lelaki itu dengan kesempurnaan sejak dari awal. Perempuan itu nggak menilai kemauan lelaki itu untuk bekerja keras membangun masa depan yang cerahh.

Persis kayak Fakultas Teknik yang membuang gua cuma karena gua nggak begitu jago Matematika dan Kimia. Fakultas Teknik nggak melihat kemampuan Biologi dan Fisika yang gua punya.

Akhirnya, sekarang gua kuliah di jurusan yang nggak gua suka, yang gua pilih sebagai pelarian. Kalau gua nggak bisa kuliah di Fakultas Teknik Universitas terbaik di Indonesia, gua akan milih jurusan lain. Yang penting masih di Universitas itu. Sekarang, gua sadar, keputusan gua salah besar.

Jangankan jadi Arsitrk, mengambil keputusan aja gua gagal..

=====

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengobati luka di hati ini. Sampai semester tiga, gua masih nggak rela kuliah di jurusan selain teknik. Tapi di sudut pandang yang lain, gua mengakui ketidakmampuan gua. Gua sadar dan menerima, sebab menerima adalah pekerjaan besar, karena harus berhadapan dengan ilmu tertinggi di  hidup ini,,,
Yaitu  Ikhlas.....






Mungkin benar, gagal hanyalah caraku menamai apa yang sesuai dengan kehendak-Nya, namun tak sesuai dengan kehendakku.

Minggu, 26 Maret 2017

Kehidupan (2)


"kelak kalo gua mau menguji kesabaran calon istri mau gua suruh dia internetan pakai indosat kalo dia ga treak kontol brati dia org yg tepat... Ya tepat utk menghadapi urusan biduk rumah tangga yg terjal" - danny


Menjadi manusia harus selalu belajar untuk mendewasakan akal dan pikiran seiring bertambahnya usia. Jangan sampai sikap kurang dewasa kita mempengaruhi kebahagian pernikahan.


Karena ketidakbahagiaan dalam pernikahan, efeknya tidak jauh beda dengan penyakit kronis: mematikan. Bedanya, yang satu kelihatan dan yang satunya tidak.

Ketidakbahagiaan dalam pernikahan bisa bersumber dari banyak hal. Namun secara garis besar bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Ketidakbahagiaan dari dalam diri sendiri

Sumber ketidakbahagiaan pernikahan yang berasal dari diri sendiri misalnya karena menikah dengan orang yang tidak dicintai & diri sendiri enggak ada usaha untuk belajar mencintai (jadi dari awal emang udah enggak sreg) atau bisa dari sikap diri sendiri yang pada dasarnya emang enggak pernah bersyukur sekalipun sudah memiliki & mendapatkan segalanya.

2. Ketidakbahagiaan yang berasal dari orang lain

Ketidakbahagiaan yang berasal dari luar diri sendiri bisa terjadi karena diri mendiamkan ketika dibully (bisa karena tidak berdaya atau yang lain) sehingga pihak ketiga pun bisa bebas semaunya. Suami suka main tangan, mertua dan ipar yang jahat, kedatangan pihak ketiga, anak yang tidak bisa diatur, adalah beberapa contoh di antaranya.

Dua penyebab di atas bisa berakibat fatal kalau dibiarkan. Bersikap seolah-olah kuat, sabar, & tabah bukanlah solusi karena pasti akan ada efeknya walau dalam bentuk tidak langsung.

Misal, seorang istri rela dan sabar diperlakukan kasar oleh suaminya. Sekilas sikap istri tersebut seolah bijak padahal ternyata ada efek negatifnya.

Atau, ketika mertua memiliki menantu laki-laki, dia berusaha menjadikan si menantu tersebut seperti dirinya dulu dan seolah enggak rela ketika menantunya bahagia bersama anaknya, ada saja hal yang diusik seperti membandingkan dengan keluarga yang lebih kaya dan lain sebagainya. Nah, bukankah ini juga tidak sehat? Bukankah banyak sekali yang semacam ini? Padahal si menantu pria enggak salah apa-apa. Dan kira-kira bagaimana perasaan orangtua si menantu pria ketika ayah mertuanya memiliki niat seperti itu walau tidak ia sadari.

Ketidakbahagiaan dalam pernikahan juga bisa membuat seseorang sangat tidak suka melihat orang lain bahagia. Seperti kata pepatah hurt people hurt people. Misal, berkata-kata pedas menyakitkan padahal orang lain enggak mengusik ketenangan hidupnya/enggak merebut suaminya:

 "Gitu aja dianterin, emang enggak bisa ya berangkat sendiri," padahal sejatinya dia ingin juga diperlakukan seperti itu.
"Kalau aku sih emang pekerja keras ya enggak suka nganggur. Bedalah sama kamu yang di rumah aja," padahal dia juga mau diperlakukan seperti itu.
"Kok gak hamil-hamil ya ntar suamimu nikah lagi lhoh," entah apa untungnya bilang begini. Kenapa bahagianya harus nunggu ketika perasaan orang lain hancur? Na'udzubillah.
"Kapan rumahmu kamu rehab, itu si A baru 2 tahun nikah sudah punya mobil dan rumahnya tingkatnya sudah mewah", nah bagaimana perasaan menantu laki-lakinya, padahal jika dibandingkan juga lebih banyak lelaki yang kurang beruntung dalam pekerjaanya.
"Suamimu mandul ya, kok kamu nggak hamil-hamil", padahal suaminya menyembunyikan masalah sulit hamil istrinya, karena rasa sayangnya.
Atau keusilan lainnya.

Jika mertua/orangtua sudah seperti ini, maka bisa dihitung detik-detik kehancuran rumah tangga anaknya.

Jika disimpulkan, ketidakbahagiaan dalam pernikahan bisa membuat seorang wanita/laki-laki menyakiti orang lain selain dirinya (ingin membuat orang lain menderita seperti dirinya) atau menyakiti diri sendiri (bunuh diri atau semacamnya).

Adakah wanita/laki-laki yang tidak bahagia dalam pernikahan tapi tidak seperti itu? Kenyataannya ada jika kita mau membuka mata, sangat banyak sekali perpecahan rumah tangga hanya karena campur tangan orangtua.

Jika kita sudah tahu bahwa efek ketidakbahagiaan dalam pernikahan ini sifatnya domino banget, semoga kita memiliki usaha untuk membuat pernikahan kita bahagia sesuai dengan kondisi masing-masing. Peradaban besar dimulai dari keluarga. Yang itu artinya untuk membentuk peradaban terbaikk dibutuhkan keluarga-keluarga yang sehat mental dan jiwanya, tidak hanya penampakan fisik saja yang mentereng. Semoga kita bisa mewujudkannya demi dunia yang lebih damai. Aamiin sodara - sodara ??

Selasa, 07 Maret 2017

Logika ....

Tiga Standar Ganda Terbaik

Pernah nggak kamu mendukung sesuatu, namun kalau sesuatu itu diaplikasikan ke kamu, hati kecilmu seperti berkata lain? Kamu jadi nggak dukung sesuatu itu lagi.

Contoh simpelnya, kamu menghujat LBGT, kamu menghunus agama layaknya pedang untuk menebas leher para LBGT yang berkeliaran di kampus-kampus, meneriaki LBGT itu penyakit yang harus dibasmi. Tapi kalau papasan sama Bunda Dorce, kamu salim, atau mungkin cium kening.

Atau, kamu mendukung LBGT, tapi begitu dagumu dijawil sama cowok ngondek, kamu mengurung diri di dalam kamar satu semester dan merasa bahwa dagumu sudah tidak memiliki kesucian lagi.

Kamu berdiri di dua kaki, namun masing-masing kaki berpijak di tempat yang berlawanan.

Kamu bermain dua kaki, kamu secara nggak sengaja menerapakan standar ganda pada pandanganmu terhadap sesuatu.

Sebagai anak muda belia yang hidup di belantara ibu kota, penuh macet, dan dipenuhi remaja yang pacaran beda agama (iya-iya, gue tau ini nggak nyambung tapi yasudah sih) gue pun menyadari hal ini. Sebijak-bijaknya manusia, pasti ada flaw -nya juga. Semantap-mantapnya gue berdiri dengan dua kaki, pasti ada sesekali kaki gue berpijak di hal yang berlawanan.

Iya, gue masih punya standar ganda, gue masih punya logical fallacy atas banyak hal.

Lewat tulisan yang gue buat dengan kemampuan seadanya ini, ijinkan gue untuk menjelaskan standar ganda yang mungkin dialami setiap lelaki.

Oh, nggak semua lelaki, ya?

Gue doang, ya?

Ini pasti bohong! Kalian semua telah berdusta padaku!

=======

1) Merokok dan Gemerlap Dunia Malam

Gue adalah cowok yang kayak gini. Tapi dulu. Buat gue, gapapa nggak punya pacar, yang penting bisa ngerokok dan dugem. Gue sangat senang bergaul dengan cewek-cewek di gemerlap malam.

Cewek-cewek dugem, atau yang lebih akrab disapa cewek 3B: belah tengah, behelan, dan blek mentolan, adalah tipe cewek yang gue idolai. Buat gue, mereka adalah tipe cewek yang sangat open minded. Enak banget ngobrol sama mereka, nggak ada GAP apapun. Teori-teori tentang cinta yang gue miliki banyak terinspirasi dari mereka.

Nah itu cuma sebelah kaki gue berpijak. Pada akhirnya, gue nggak mendukung sepenuhnya. Sebelah kaki gue berpijak di tempat yang berbeda. Gue adalah lelaki yang sangat mengidolai ibu. Gue pengin punya pacar atau bahkan istri yang mirip dengan ibu gue. Dan itu sangat berbeda dengan para cewek cantik yang merokok dan suka mabok ini.

Gue sangat mendukung cewek untuk ngerokok, mabuk, dugem, dll, namun sebagai teman. Tidak untuk pacar ataupun sebagai istri. Itulah kenapa gue nggak pernah langgeng kalau pacaran sama cewek yang merokok dan besar di tempat dugem.

Pernah waktu itu gue megang tangan mantan, terus bilang, "Kamu abis bangun rumah ya?"

Dia cuma mengernyitkan dahi, mungkin dia ngira mau digombalin. "Hah, kenapa emangnya?" Tanyanya.

"Tangan kamu baunya kayak kuli yang lagi istirahat terus ngerokok sambil minum kupi, bau aspal."

Abis itu, dia nggak mau megang tangan gue lagi. Iya, mantan gue itu rokoknya Jarum super.

Gue nggak rela ngeliat pacar gue ngerokok. Mungkin, karena gue udah nggak ngerokok.

Gue nggak jahat kan, ya?

2) Virginity

Ini juga menjadi kasus mainstream di kalangan para lelaki. Gue juga bingung dengan para lelaki ini, mereka kepengin punya istri yang perawan, tapi pas pacaran maunya merawanin.

Jujur, masalah keperawanan ini sebenarnya, buat gue, nggak penting banget. Cuma karena ada atau nggaknya selaput tipis aja, cewek udah bisa di-judge masih berharga atau nggak. Asli, ini stereotype yang jahat banget.

Padahal, buat lelaki, dapetin cewek perawan itu cuma sebatas memuaskan ego batiniah atau pride semata. Lelaki kayak abis menang  pertandingan lalu ngangkat trophy gitu.

Ini terjadi juga ke temen gue yang punya cewek, yang bekgrondnya, mohon maaf, pernah dipakai banyak cowok. Gue berulang kali menasehati bahwa itu cuma masa lalunya. "Sebenarnya di situlah tugas lo sob, lo harus bisa menerima semua masa lalunya, dan menjadi masa depan yang cerah untuknya." Kata gue ke Acong, temen gue yang IPK-nya 1,9 itu.

Nah, sialnya, kaki sebelah gue belum berpijak di pandangan yang sama. Entah karena ilmu sekuler gue yang belum seberapa, atau guenya yang belum seratus persen dewasa, gue juga merasakan apa yang dirasakan Acong.

Gue pernah juga punya pacar kayak gini. Bekas anak dugem. Dia gue selamatkan dari dunia tersebut. Padahal sih, emang guenya aja yang nggak punya duit lagi buat bayarin pacar untuk dugem.

Setiap ada mantannya yang berusaha untuk mendekatinya kembali, gue selalu sedih. Gue selalu kebayang ketika dulu, ketika banyak tangan para lelaki singgah dan bermain di tubuh pacar gue.

Kadang, gue masih nggak rela.

Suatu kondisi yang anjingbanget buat gue. Di satu sisi gue harus jadi dewasa dan berkata, "Gapapa, itu cuma masa lalu kamu kan, cintaku ke kamu adalah tetap, selalu, dan akan." Namun, di satu sisi lagi, "Lah anjing, murahan amat lo jadi cewek!"

Di bungkus gue yang nampak bajingan ini, gue masih menyimpan sisi anak kecil yang merindukan sosok perempuan yang belum dijamah banyak tangan lelaki. Walau gue sadar, perempuan yang gue cari, nyaris hampir nggak ada.

Gue nggak jahat kan, ya?

3) Seagama atau Tidak

Kalau kamu merasa bahwa hidup ini perjalanan dari ketidakberuntungan satu ke ketidakberuntungan lainnya, mungkin akan gue iyakan.

Dari sekian banyak cewek yang seagama, kenapa yang tertarik sama gue yang nggak seagama, ya?

No luck for me..

Apakah, ini disebut kesialan?

Nah, sebelah kaki gue, seperti yang kamu sudah tau, tentu akan sangat mendukung pacaran beda agama. Gue nggak peduli sama agamanya, yang gue tau, gue cinta. Buat gue, mencintai umat beragama adalah lakum dinukum waliyadin yang gue terapkan. Sebuah harga mati.

Ya udah, gue cintai deh yang nggak seagama.

Ternyata, penerapannya nggak semudah itu. Gue nggak nyangka bakal diusir. Gue juga nggak nyangka kalau endingnya dia bilang, "Sayang, papa aku nanya, kamu kapan pindah agama?"

Bahkan, belum pacaran nih, baru nembak aja gue udah kena ospek dari beda agama.

Malam itu gue beranikan diri untuk ungkapkan perasaan, "Aya, kita udah cocok banget kan, kamu ngerasain apa yang aku rasain kan?" Tanya gue sambil memegang tangannya.

"Emang apa sih yang kamu rasain, Don?" Tanyannya kembali.

"Setiap menatapmu, aku menemukan jalan pulang.." Jawab gue, pelan.

"Aww.." Balas Aya sambil menggigit bibirnya.

"Ja-jadi, mau kan jadi pacarku?" Tanya gue kembali.

"Iyah, Downy, kamu ganteng deh kalo ngomongnya pelan gitu." Jawab Aya sambil tersipu-sipu.

Belum selesai, hati gue berteriak "WOOOHH ANJINGGG AKHIRNYA ILANG JOMLO GUEEEEEH!! KENISTAAN DI HIDUP INI TELAH SIRNA!!!! THANKS GOD!!!"

Tiba-tiba Aya memotong,

"Eh tunggu, tapi kamu nanti bakal pindah agama kan?"

Satu kafe hening.

"A-apa, Ya? Gi-gimana?"

"Iya, kamu tapi bakal pindah agama kan?" Tanyanya lagi.

"Ngg, yaudah kita jalanin dulu aja, Sayang.." Jawab gue sekenanya.

"Oh, yaudah, kalo gitu gajadi."

LAH ANJING, NEMBAKNYA HARI INI, DITERIMANYA HARI INI, EH DI-CANCELNYA JUGA HARI INI.

Bayangin, dia udah bilang iya, terus tiba-tiba di-cancel.

Anjing.

Di sinilah sebelah kaki gue yang lain berpijak. Di indonesia, pacaran beda agama 90% tidak bermasa depan. Ketika gue sangat mendukung remaja yang pacaran beda agama, di sebelah sisi lain gue juga sangat menyayangkan.

Karena 90% pasti putus. Dan yang paling sedihnya, ketika kamu udah kasih semuanya, tapi kamu tetap nggak bisa bersatu denganya. Taruhannya berat: pindah agama, atau putus.

Tiga standar ganda terbaik, yang pernah gue miliki..

Jumat, 03 Maret 2017

Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah

Beberapa minggu ini gua jadi sering ketemu dengan kalimat yang sebenarnya multitafsir, dan nggak gua suka. Kalimat ini sering gua temukan dalam bentuk percakapan orang-orang maupun dalam bentuk curhatan org. Kalimatnya, menurut gua, udah semacam ideologi atau prinsip gitu. Kalimatnya kayak gini,

“Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah.”

Atau, “Lebih baik menunggu orang yang tepat daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah.”

Nggak ada yang salah kan?

Oh tentu, tentu saja nggak salah, lha wong  gua udah sering baca nya di medsos. setidaknya, kalimat itu diamini banyak orang. Ada banyak orang yang setuju dengan kalimat itu.

Gua juga meyakini bahwa tidak ada yang salah ketika membahas semua hal tentang cinta. Sebab cinta, menurut gua, adalah semacam argumen dan nggak pernah ada teori yang saklek tentang cinta. Toh, teori-teori yang dikeluarkan para pakar cinta di seminar-seminar yang mereka adakan, gak selalu diiyakan orang-orang. Nggak semua cewek bakal takluk dengan teori A, nggak semua cowok bisa melakukan teori A dan sebaliknya. Intinya ya argumen, selama bisa mempertahankan argumen itu, ya bisa dianggap benar. Ada yang setuju, ada yang nggak setuju, dan ada yang bilang sok tau. Semua bebas berpendapat.

Oke, kembali ke kalimat “Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah.”


PERTAMA.

Pertanyaan sederhana gua yang pertama adalah, “Kita ini bisa berhasil pada berapa kali percobaan, sih?” Dan tentu aja sangat mudah untuk dijawab dengan, nggak tau. Ya jelas nggak ada yang tau pasti seseorang bakal sukses atau berhasil lewat berapa kali percobaan. 

Begitu juga urusan cinta.

Siapa yang langsung tau siapa cinta sejati kita di hidup ini? Siapa yang bisa langsung menemukan orang yang tepat di sekali kesempatan? Siapa cowok yang bisa langsung dapet cewek di sekali sepikan? Nggak ada yang tau. Ada yang langsung berhasil menemukan di sekali pacaran, ada yang dua kali, ada yang berkali-kali. Bahkan yang udah menikah aja masih ada yang merasa bahwa suami atau istrinya sebenarnya bukan cinta sejati, bukan orang yang tepat.

Kalimat “lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah”, dan “Lebih baik menunggu orang yang tepat daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah”  di mata gua adalah kalimat pemalas, kalimat yang nggak mau susah, kalimat yang egois. Ketika di luar sana ada banyak orang harus berkali-kali jatuh bangun untuk menemukan seseorang yang tepat di hatinya, lha kalimat bercetak miring di atas kemudian datang seolah-olah tidak ingin merasakan gagalnya jatuh cinta. Nggak fair.

Buat gua, orang yang nggak mau gagal dalam sesuatu dan hanya maunya sukses, nggak layak mendapat kesuksesan. Padahal, kata orang-orang bijak jaman dulu, kini, hingga yang akan datang, gagal adalah kesuksesan yang buffering #tsaah gayaak lo dan. Kalau mau sabar dan perbaiki koneksi, ya bisa lancar lagi. Atau terinspirasi dari mbah Agus Hadi Sujiwo atau yang akrab dipanggil Sujiwotejo, “Gagal hanyalah sesuatu yang berjalan tidak sesuai keinginanmu, namun sesuai dengan kehendak-Nya.”

Begitu juga soal cinta, bagaimana cara menuju bahagia jika hanya mau mencari baiknya namun tidak mau menerima buruknya? Padahal, di depan cinta, baik dengan buruk cuma sedekat jantung dengan detaknya. Nah loh... Wekekekekek penggalauan 


KEDUA.

Pertanyaan kedua gua yang tak kalah sederhana adalah, “Mengapa kita bisa berkata bahwa orang yang sedang bersama kita adalah orang yang salah atau tidak tepat?” Apa karena dia melakukan perbuatan yang melukai hati kita? Seperti selingkuh, misalnya? Apa karena dia adalah orang yang egois? Apa karena dia bukan orang yang membuat nyaman? Apa karena dia bukan dari keluarga yang mapan? Apa karena dia  pacar orang? Apa karena dia nggak bisa lupain mantannya? Apa karena dia nggak mau bayarin SPP dan nggak mau bayarin tagihan kartu kredit seperti apa yang biasa dilakukan om-om kepada cewek-cewek sosialita simpenannya?

Jadi, apa karena itu dia dianggap salah dan tidak tepat?

Orang yang salah” di sini benar-benar multitafsir dan rawan disalahartikan. Kenapa nggak pernah ada kalimat, “Lebih baik kamu sendiri daripada bersama aku yang salah”? Apakah manusia adalah hakim yang adil untuk diri sendiri, namun tidak kepada orang lain? Apakah kesalahan dalam suatu hubungan selalu mutlak berada pada orang lain, bukan berasal dari diri sendiri? #Duarr!!!

Jika ada dua orang yang berpacaran dan esok masing-masing dari mereka beranggapan, “Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah”, berarti dua orang tersebut saling menyalahkan satu sama lain. Mereka berdua berpendapat bahwa orang yang tengah mereka pacari adalah orang yang salah.

Tapi tidak satupun dari mereka yang merasa bahwa dirinyalah yang salah.

Iya kalau dia adalah orang yang salah, kalau bukan?

Kalau ternyata dia adalah orang yang benar dan tepat, tapi cara kita melihatnya yang selalu salah, gimana? Hayoooo loh


=====

Gua jadi teringat dengan cerita seorang lelaki yang berdoa pada Tuhannya tentang perempuan yang tepat. Lelaki itu selalu berbincang pada Tuhan tentang perempuan yang diinginkannya, di sela-sela percakapannya, ia selalu meminta agar Tuhan mengabulkan doanya.

Tidak lama kemudian, lelaki itu merajut cinta dengan seorang perempuan yang berbeda kota. Sang perempuan menerima lelaki itu dengan segala kondisinya, dan dengan segala jarak yang merentang di tengah-tengah mereka.

Lelaki itu merasa kesepian, kadang ia sering merasa jauh dengan kekasihnya. Ia seperti harus membayar mahal kepada jarak untuk cinta yang kata orang-orang happens effortly. Lantas lelaki itu kembali berbincang dengan Tuhan, ia bertanya apakah perempuan yang tepat untuknya harus berada jauh di luar jangkauannya. Namun Tuhan tak menjawab, Tuhan hanya diam dan tersenyum.

Beberapa minggu kemudian, lelaki itu bertemu dengan seorang perempuan lain yang mirip kekasihnya. Lelaki itu melihat wajah kekasihnya yang jauh di sana sedang tersenyum kepadanya lewat perempuan itu. Perempuan itu putih mulus dan lebih seksi dari kekasihnya yang jauh di sana. Lelaki itu sempat beranggapan bahwa cinta adalah ketika kuat ia rasakan bibir kekasihnya di bibir kekasih orang lain. Lelaki itu menemukan seseorang yang mampu mengisi kekosongan ruang yang jarak jauh telah ciptakan. Tak butuh waktu lama untuk membuat seseorang berpaling. Kali pertama lelaki itu menatap perempuan lain layaknya ia menatap kekasihnya, sebenarnya ia telah berpaling.

Setelah tidak menjalin asmara dengan perempuan yang jauh di sana, lelaki itu mantap menjalani hari bersama perempuan baru yang ia temui dan jatuh cintai pada pandangan pertama itu. Hubungan mereka berdua tampak bahagia seperti pasangan yang baru mendapat mobil dari kuis super deal dua milyar. Semua baik-baik saja sampai akhirnya batu kerikil dan jalan berlubang mewarnai perjalanan mereka. Biduk rumah tangga pacaran mereka seperti membuka tirai di kuis super deal dua milyar, terus isinya zonk. Uya Kuya ketawa puas.

Perempuan yang dicintainya mulai menunjukkan sifat asli yang awalnya tidak diketahui olehnya. Ya, mabuk-mabukkan. Hidup di hingar-bingar dunia malam. Sering pulang pagi, dan akrab dengan hangover. Melihat kelakuan kekasihnya yang selalu mabuk-mabukkan diam-diam, lelaki itu tentu berang. Entah sudah berapa tangan lelaki hinggap di paha mulus kekasihnya itu yang suka berpakain seksi dan ketat, pikirnya. Masalah pun berlarut-larut, lelaki itu kecewa pada perempuannya. Dan ia pun kembali berbincang pada Tuhan tentang kekasihnya yang dianggapnya mudharat itu. Ia kembali bertanya pada Tuhan apakah perempuan yang tepat baginya adalah perempuan yang tiap hari pulang pagi dan tubuhnya dihinggapi banyak tangan lelaki. Namun Tuhan tak menjawab. Tuhan hanya kembali diam dan tersenyum.

Di sela karut-marut dan kalut hatinya, lelaki itu dipertemukan dengan seorang gadis yang kebetulan berpapasan di kampus Hukum UN***. Entah apa yang membawa lelaki itu berkunjung ke kampus Hukum, tapi nyatanya ia berpapasan dengan perempuan yang teduh sekali senyumnya. Tubuh mereka berjalan ke arah yang berbeda, namun tatapan mereka searah. “Mungkin inilah jawaban Tuhan untukku.” bisik lelaki itu dalam hati.

Mereka berdua kembali dipertemukan dalam seminar yang diadakan di kampus perempuan itu. Seminar nasional tentang Kedaulatan Negara. “Persetan dengan tema seminarnya, yang penting hatiku dengan hatinya harus segera berdaulat.” Bisik lelaki itu kepada hati kecilnya. Perempuan itu berbeda sekali dengan kekasihnya yang dianggap mudharat itu. Senyumnya teduh, bicaranya sopan, dan tak kalah seksi pula. Beberapa minggu kemudian, mereka memutuskan untuk melangkahkan kaki bersama. “Aku kaki kirimu, engkau kaki kananku.” Bisik lelaki itu tepat di telinga kekasih barunya. Perempuan itu tersipu malu.

Lelaki itu bahagia sekali, kekurangan-kekurangan mantannya di masa lalu, dipenuhi oleh kekasihnya sekarang. Dekat di hati, bukan perempuan yang hidup di hingar-bingar malam, dan hebatnya menerima apapun kondisi si lelaki itu. “Terimakasih Tuhan, kau menjawab doaku, dialah perempuan yang benar dan tepat untukku!” Teriak lelaki itu keras-keras di dalam hati.

Belum lama lelaki itu mengucap terimakasih kepada Tuhan akan kehadiran kekasih barunya, lelaki itu kembali diguncang prahara. Sang perempuan tau jika orang tuanya tak satu pemikiran, maka ia tak pernah memberitahu sosok lelakinya kepada orang tuanya. Namun, sepandai-pandainya menutupi bau badan dengan deodorant, jika jarang mandi, kelak akan tercium juga aroma kelek sopir taksinya. Akhirnya, perbedaan pemikiran tersebut tercium juga. Orang tua sang perempuan berang.

Lelaki itu galau, hatinya hacep bor. Lelaki itu pun langsung berlari dan mengetuk pintu di mana Tuhan bertempat tinggal, ya hatinya. Ia bertanya, harus di mana ia menemukan perempuan yang tepat? Apakah ia lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah? 

“Tuhan hadirkan aku perempuan yang tepat, aku suduh cukup menghadapi perempuan yang salah..” Pinta lelaki itu.

“Aku sudah menghadirkanmu tiga perempuan yang tepat, dan semuanya kau anggap salah?” Tuhan tidak lagi diam, Ia kini menjawab.

Lelaki itu menahan rasa herannya.

“Aku hadirkan perempuan yang tepat namun jauh darimu agar kau belajar bagaimana mengelola rasa rindu, agar kau tahu bahwa sesungguhnya jarak tidak diukur oleh satuan kilometer, melainkan satuan kepercayaan.”

Lelaki itu diam.

“Namun kau anggap bahwa perempuan itu kurang tepat, maka aku hadirkan perempuan yang dekat denganmu, yang akan mencintaimu dengan terlalu namun ia memiliki sifat yang kau benci. Kubuat ia seperti itu agar kau tahu cara memaafkan seseorang. Untuk melihat seberapa hebat kau mencintai perempuan itu, jika kau cinta, maka kau akan bawa ia pada perubahan yang lebih baik, pada jalan yang lebih baik. Namun kau anggap perempuan itu salah, tidak tepat. Kau tinggalkan ia yang menaruh harapan besar padamu.” Jawab Tuhan kembali.

Lelaki itu menelan bulat-bulat rasa bersalahnya.

“Dan telah juga kau kupertemukan dengan perempuan yang baik hatinya, yang ketika kau lihat senyumnya akan kau temukan Aku di sana. Namun kubuat pihaknya berbeda denganmu dan kubuat kau berbeda dengannya, agar kau tahu apa itu perbedaan. Agar kau belajar bahwa cinta yang aku ajarkan ke dunia akan selalu mampu menyatukan perbedaan. Akan selalu. Namun kau berhenti berjuang, kau terlalu takut menghadapi perbedaan, dan apa yang membuatmu takut tidaklah dapat kausebut cinta. Sebab, cinta yang kuberi hanya akan menguatkanmu, bukan sebalikya.” Tuhan kembali melanjutkan.

Lelaki itu terjatuh dan ia sadar, bahwa ia sebenarnya telah salah.

“Sayang, tak akan cukup jika hidupmu digunakan untuk selalu mencari yang tepat. Sebab yang tepat berada di dalam dirimu sendiri, di dalam cara berpikirmu, di dalam sudut pandangmu.” Tuhan kembali menambahkan.

“Lalu bagaimana cara untuk bisa bertemu dengan orang yang tepat, Tuhan?

Tuhan hanya tersenyum.

Lelaki itu akhirnya sadar, bahwa seseorang yang tepat tidaklah datang begitu saja, tidak sekadar menunggu yang tepat saja, mungkin seseorang yang tepat adalah seseorang yang awalnya dianggap salah, seseorang yang awalnya diragukan, namun seiring kematangan berpikir dan berproses, kelak bisa menjadi orang yang tepat.

Atau sesuai dengan kalimat yang akrab di telinga kita, “Daripada cuma menunggu orang yang tepat, lebih baik memperbaiki diri untuk menjadi orang yang tepat.”


You are the anwer that i never questioned.



Jadi, yakin lebih baik sendiri dan menunggu yang tepat daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah?

Nggak mau introspeksi lagi?



Oh iya, lelaki di atas adalah, gue....

Danny kelahiran 9 Februari .. 



Perbincangan dengan Tuhan pada cerita di atas hanyalah perumpamaan belaka, tidak ada maksud untuk sok tau ataupun menjelek-jelekkan, dan berasal dari nasihat org terdekat

Kamis, 02 Maret 2017

Namanya juga idup ....

Kehidupan

keluh kesah itu rata-rata sama. Nggak jauh-jauh dari sikluspedekate-ngajakjalan-nembak-pacaran-putus-ngajakbalikan-dan-begitu-terus-sampai-kiamat.

Sebenarnya, nggak ada yg salah keluhan kayak siklus kampret di atas. Yang jadi kesalahan adalah: klo nanya ke gua. Otomatis, gua pun jarang nggak pernah kasih solusi. Bukannya mencerahkan, gua malah memperkeruh kegalauan mereka.

Tapi belakangan, rentetan keberhasilankegagalan gue dalam mengarungi kejamnya dunia pedekate-ngajakjalan-nembak-pacaran-putus-ngajakbalikan-dan-begitu-terus-sampai-kiamat, membuat gua lebih peka terhadap banyak hal. Terutama kode-kodeThey were right, men are from mars, women are from venus, orang di planet Mars nggak pernah ngerti kode-kode kampret orang di planet Venus.

Kegagalan datang nggak dengan tangan kosong, dia datang membawa jam terbang. Iya, jam terbang. Di kesempatan ini, gua nggak bermaksud tipsy atau menggurui, gua cuma mau berbagi cerita berdasarkan pengalaman kelam di masa silam

Semoga tidak menginspirasi.

Berjuta-juta orang udah ngebahas ini di mana-mana, pasti setiap hari ada aja yang ngebahas tentang hal yang satu ini.

Gua harus jawab apa?

Nggak ada kata salah dan benar untuk urusan cinta. Jadi nggak ada paham saklek untuk memulai jatuh cinta. Ngedeketin cewek orang aja bisa dianggap benar kok. Contohnya, ketika ngedeketin cewek yang suka disakitin cowoknya, kamu datang di sana untuk menyelamatkan. Di primbon playboy, ini disebutmenikung dengan tujuan menyelamatkan. Gayak lo daneeeeeh

Satu-satunya jalan paling benar adalah dengan memulai pembicaraan dengannya. Bisa ngajak dia ketemuan, atau kalau belum berani, bisa mulai via chatting. Belum selesai gua bercerita, mereka-mereka ini langsung melontarkan pertanyaan lagi.

“Gua mesti ngomong apa aja ke dia?”

Piye? Aku mesti njawab apa, Cuk?

Oke, tehnik paling sederhana yang paling sering gue pakai untuk memulainya adalah tehnik FORM.

FORM itu apa ya?

FORM itu singkatan dari Familly, Occupatiom, Recreation, and Message. Inget, yang terakhir itu Message. Bukan Massage.

Bingung mau ngajak ngomong apa?

Nah, coba tanyain family-nya. Contohnya:“Kamu asli mana?” “Kamu ngekos di mana?”“Kamu punya saudara kembar ya, kok mirip sama mantan aku?” “Kamu punya anjing ya?”(anggap aja anjing adalah salah satu keluarganya). Dan masih banyak lagi.

Setelah kelar ngepoin family-nya, coba masukin topik recreation atau hobi. Ajak ngobrolin hobinya. Menurut ilmu psikologi, orang itu paling suka kalau ditanyain tentang hal yang dia suka. Kalau dia cewek clubbing,udah jelas jangan ajak dia ngomongin tentang sembahyang mengaji. Bukannya dia nggak suka sembahyang mengaji, tapi saat itu cuma Si Doel yang kerjaanya sembahyang mengaji. Coba ajak ngomong tentang minuman. Seperti wedang jahe, bajigur, atau STMJ. Kalau dia cowok gamer, coba ajak ngomong tentang permainan yang dia suka. Gua yakin, dia bakal panjang lebar ngomongin game kesukaannya. Intinya, tanya hal kesukaannya dia, dan gali terus di sana. Biarkan dia menceritakan semuanya ke kamu. 

Be a great listener.

Udah puas ngomongin hal kesukaannya, coba masuk di occupation atau kerjaan, atau minimal kesibukannya. Setelah ngomongin hal yang disuka, pada topik pekerjaan, dia kemungkinan akan bercerita tentang keluh kesahnya. Pengalaman gua, jangan tergoda untuk memberi solusi, dengerin aja sambil manggut-manggut pertanda menyimak keluhannya.

Tak terasa obrolan ringan di depan indomaret berlanjut ke obrolan di kamar kosan. Ah bukan. Bukan itu. Tak terasa obrolan ringan itu berlangsung berjam-jam lamanya. Nah, di sinilah sesi Message dibutuhkan. Bukan, bukanMassage. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Abis ngajak ngobrol terus minta dipijet? Tidak tahu diri sekali kamu. Message di sini adalah meninggalkan pesan. Ini contoh sederhana yang paling sering gua pakai saat menyudahi obrolan dengan cewek embem: “Eh, bentar lagi aku ada kuliah, kayaknya kita bakal ketemu lagi besok, kamu bisa save nomor aku. Miskol ya.”

Dapet deh nomor telfonnya...
Urusan selanjutnya terserah anda ...

Tapi ini nggak harus nomor telfon. Bisa pin BB, skype, atau yang lain. Kalau Line, Kakao, Wechat, Watsap, dll itu mudah. Jaman sekarang, orang udah dengan sendirinya memberi tau alamat chatting mereka di profil FB dan twitter. Buuuuuh..

Kemungkinan dapat nomer telfon dia, ditentukan dari seberapa hebat kamu melakukan ice-breaking di awal dengan topik family, occupation, dan recreation. Semakin seru dan enak jalan obrolan, kemungkinan berhasil dalam meninggalkan pesan akan semakin besar. Oh iya, gua juga belajar bahwa saat ngobrol, usahakan jangan tergoda untuk menceritakan diri sendiri, buatlah lawan bicara yang menceritakan semua tentang dirinya.

Dulu, hal kecil di atas adalah hal yang paling besar gua sepelekan.

Udah dapet nomor telfonnya, udah sering BBM-an, udah sering telfon-telfonan, kemungkinan besar hubungan yang sedang dibangun tersebut akan berakhir di kamar kosan. Ah bukan. Bukan itu. ....

Hubungan akan menuju pada stepngajak jalan. Yang paling berharap besar pada hubungan itu pasti yang akan berinisiatif ngajak jalan. Kalau cewek, bisa ngajak lewat telfon dengan cara seperti ini: “Eh, aku besok mau nyari buku di Gramed, kamu nggak mau temenin aku?” tentunya keberhasilan juga ditentukan dari desahan. Semakin mendesah, cowok akan semakin tidak punya pilihan selain, iya.

Oke, gua becanda lagi ...

Pada awal-awal membangun hubungan, mayoritas step ngajak jalan akan dilakukan oleh cowok. Mungkin cowok punya nafsu lebih untuk urusan yang satu ini. Oke, urusan di kamar kosan juga. Oke-oke, untuk banyak urusan, cowok memang lebih bernafsu. Yang cewek, ati-ati aja.

Lah, sampai di mana tadi?

Kembali lagi ke masa lalu, gua ini adalah tipikal cowok glory hunter. Gua mengejar cewek seperti Cheetah yang mengejar Impala. Niat abis. Nggak berhenti sampai Impala berhasil diterkam. Makanya, cara gua ngajak jalan itu sering barbar atau lebih tepatnya cara “mbuh piye carane dek’e kudu jalan karo aku”

Yang paling kampret, gua pernah nelfon ngajak jalan seorang cewek tepat di depan pagar kosannya. Ketika ditelfon dia mengelak lagi di luar sama temennya, otomatis gua nggak bisa ditipu. Ya karena gua tau dia ada di dalem. Mau nggak mau akhirnya dia keluar nemuin gua dengan rasa malu.

Kampret kan? Hahahahahahahahahahaps

Sekali lagi, belajar dari kegagalan, dulu gua selalu ngajak jalan dengan kesan “memohon”. Seperti misalnya di telfon, “Eh, malem nanti kamu ada acara nggak?” dan tentu aja bakal mudah dijawab, “Oh, ada.”  Atau seperti, “Eh, kemarin kan kamu janji jalan sama aku, nanti aku jemput ya?”

Akhirnya gua tau, kalau ini bukan cara yang elegan. Gue kehilangan postur di sini.

Gua memutuskan untuk belajar dari teman lain. Ya, dari telemarketer! Itu tuh, yang suka nawarin asuransi atau langganan internet lewat telfon. Jangan salah, mereka bisa ngejual barang cuma lewat telfon dan orang bisa percaya !? Itu keren! Makanya, setiap ditelfon telemarketer yang nawarin asuransi, internet, atau produk lain, gua selalu pelajari kalimat-kalimat yang mereka ucapkan.

Intinya, bukalah sebuah ajakan dengan memberi peluang atau tawaran. Bukan dengan memohon. Percaya nggak percaya, itu naikinpostur gua saat ngajak jalan.

Awalnya agak ragu, tapi jika melihat status jomblo gua yang mulai berkarat, gua beranikan diri untuk mencoba tehnik baru ini. Berikut adalah contoh yang sering gua praktekin lewat telfon:

“Eh, kebetulan aku punya 2 tiket nonton, dan kayaknya kamu adalah orang yang tepat untuk tiket ini.”

“Kita baru bertemu, dan aku tau ini gila, tapi seneng bisa ngobrol sama kamu, aku pengin ngobrol-ngobrol lagi sama kamu di kafe ini. Dan aku juga tau kalau kamu punya waktu.”

“Kebetulan aku mampir di daerah sini, kita kayaknya bisa ketemu di situ deh.”

“Kamu lagi senggang kan? Nah, aku juga. Kalau kesenggangan di antara kita digabungin, itu bisa jadi kesibukan baru loh.”

Kampret nggak? 
Apa ? Norak ?! Oh yaudah deh ...

Gua orang yang nggak nyerah dengan segala keterbatasan. Yang penting maju dulu. Karena aksi punya pacar yang niat ini juga, salah satu temen gua, anak otomotif,  bikin kalimat ini.

“Mesin boleh standar, tapi cara bawanya tetep moto jipi.”

Mungkin, tampang boleh standar, tapi cara ngajak jalan nggak standar.

Entahlah.

Tapi sekali lagi, cara-cara ini nggak akan langsung berhasil. Ingat lagi kalimat di awal-awal postingan ini. Nggak ada cara yang saklek buat mengawali semua ini. Kembali pada diri masing-masing. Saat itu, gua gagal di mana-mana. Gua belajar bahwa ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menaikkan intesitas kegantengan.

Setelah banyak kencan dilalui, setelah getaran di hati kian bergejolak, mungkin inikah saat yang tepat untuk nembak?

Nggak.

Nggak tau, maksudnya.

Pertanyaan paling tidak ingin dijawab adalah, “Kapan waktu yang tepat untuk mengutarakan rasa?” Satu-satunya orang yang bisa menjawabnya adalah orang yang tengah menjalin cinta itu sendiri. Kalau dari pengalaman temen-temen gue, katanya sih, nembak itu harus menciptakan momen. Momen saat lagi manis-manisnya, saat lagi ketawa-ketawanya, saat lagi intensnya percakapan di telfon, dan saat dia sudah tak ragu lagi nginep di kamar kosan kamu.

Yang terakhir, tolong diabaikan.

Lalu kenapa nggak pakai pengalaman gua?

Semenjak sering ditolak, gua udah dari lama nggak nembak. Buat gua, mengutarakan rasa lewat “Aku sayang kamu, kamu mau kan jadi pacarku?” sekali lagi menurunkan postur. Di sini gua sebagai pihak yang memohon. Harusnya kalau udah sama-sama cinta, nggak ada lagi yang harus saling memohon untuk dicintai.

Beberapa momen terakhir, cara gua mengutarakan rasa udah seperti pihak yang menawarkan kerja sama.

Salah satunya ini. 

Waktu itu hari Jumat, seperti biasa gua udah nongkrong di depan kosannya buat nungguin dia kelar dandan. Hari itu kami sepakat nonton di bioskop. Kami menonton film boneka beruang yang hidup karena wish anak kecil – TED. Sesampainya di mall tersebut, gua reflek ngegandeng tangannya. Dia cuma bisa menatap gua sembari sedikit melihat apa yang tengah terjadi di antara tangan kami.

Gua tau dia kaget.

Kejadian gua menggandeng tangannya dan dia cuma bisa bengong, berlangsung sampai naik di eskalator.

“Danny, ini maksudnya apaa?”

Gua menatap matanya, “Kamu bisa ngerti kan apa yang aku rasain ke kamu selama ini?”

Dia cuman senyum .

“Oke, senyummu telah menjawabnya.” Bales gua lagi.

Eskalator terus berjalan dan semakin ke atas.

“Kalau kamu belum siap, kamu bisa lepasin tangan aku. Kalau kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarang, diamlah di sana. Biarkan genggaman kita yang bicara.” Bisik gua dekat di telinganya.

Dia hening.

Sampai mengantri di depan loket tiket, tangannya masih ada di genggaman tangan gua. Mungkin itu jawabannya. Kami pun bahagia sehidup semati sampai akhirnya pihak ketiga memisahkan. #duaar 

Kisah cinta yang seperti menawarkan kerja sama ini, mengingatkan gua pada ucapan gua.

“Relationship is am open tender, everyone can submit their proposal, so make sure you have an excellent portfolios.”

Sekali lagi, nggak harus dengan cara di atas, kalau dengan “Aku sayang kamu, kamu mau jadi pacarku” udah bikin dia klepek-klepek, kenapa nggak? Nggak ada cara yang runut dalam mengutarakan perasaan.

Itu cerita nembak gua, bagaimana cerita nembakmu?

Apa? Ditolak?

Hahaha. Ciyan.

Pacaran udah, kemana-mana pegang tangan udah, nyium udah, digampar bokapnya gara-gara seharian anak gadisnya nggak dipulangin udah, nah terus apa lagi?

Biasalah. Tiga bulan pertama, semua terasa surga dunia. Semua milik berdua. Hati-hati, pulang berbadan dua.

Biasalah. Tiga bulan kedua, semua masih terasa surga dunia. Masih terasa milik berdua, walau sudah ada yang mulai menganggu. Tapi tetep, hati-hati pulang berbadan dua.

Biasalah. Tiga bulan ketiga, atau sembilan bulan lamanya, mulai diganjar batu kerikil. Jalan kini tak lagi mulus. Bebatuan dan terjal pun terlintas di depan mata. Mulai saling menyalahkan satu sama lain. Kini ego yang bicara. Suara mulai meninggi. Suara yang tinggi itu dibalas dengan dengki. Pecah ketuban. Selamat, anak telah lahir setelah mengandung sembilan bulan lamanya. Anak itu diberi nama..... Cemburu.

Biasalah. Menginjak tahun pertama. Jika bertahan, akan saling menguatkan. Mulai tumbuh kedewasaan antar pasangan. Yang tadinya marah karena satu pihak lupa nge-like status FB pacar, kini mulai rutin nge-like tanpa diminta. Yang tadinya emosi karena mention twitter nggak dibales, kini mulai rajin bales. Timbul pengertian yang tidak biasa di tengah mereka. Kini mulai melihat tentang masa depan. Melihat sebuah rumah. Rumah yang dibangun dari fondasi kesetiaan.

NB: Ini tidak berlaku bagi kaum LDR (Ketemu aja jarang).

Iya, bagi mereka yang bertahan? Yang tidak?

Selamat, anda kandas di persimpangan jalan.

Salah satu pihak yang paling dirugikan akan mengucapkan kalimat penuh kode-minta-putus seperti “Ayang, nyadar nggak sih kalau kita setiap hari berantem terus?” atau “Mbem, kamu sekali-sekali ngertiin aku bisa nggak sih? Aku capek kayak gini terus!” atau bisa juga “Beb, mama kamu kok makin cantik?”

Salah satu kalimat putus paling absurd menurut gue, “Sayang, kamu terlalu baik buat aku” bener-bener kampret. Ini contoh minder yang tak pantas ditunjukkan oleh generasi muda. Harusnya kalimat itu direvisi jadi,“Sayang, kita mending sampai di sini aja, aku terlalu baik buat kamu”. Nah, di sini pihak yang mutusin bener-bener punya postur saat mutusin. Seakan-akan dia adalah pihak yang benar-benar dirugikan. Dan dia berusaha menyelamatkan hidupnya dari kekangan pacarnya.

Sebelum menutup tulisan ini, salah seorang temen gua pernah menepuk bahu gue, dan berkata, “Dan, kalau ada duit, semua yang lu bilang barusan itu nggak ada gunanya. Money always talks louder than anything.”

Gua cuma bisa berdehem sambil mengiyakan. Nggak ada yang salah. Kembali lagi pada pelaku yang ingin menjatuhkan cintanya.

Pengalaman mengajarkan bahwa pedekate, pacaran, sampai menemukan pasangan yang tepat, layaknya memancing di lautan bebas. Ikan yang dipancing tergantung dengan umpannya. Jika umpannya uang, akan banyak ikan yang terpancing. Jika uangnya tidak ada, ikan tidak akan kembali lagi ke kail yang sama. Jika umpannya attitude, mungkin akan sedikit ikan yang tergiur, tapi gua yakin, ikan itu adalah ikan yang sebenar-benarnya dibutuhkan, bukan sekedar diinginkan.

Sekali lagi, iya sekali lagi, ini semua tidak menggurui. Pilih mana jalan yang dianggap sesuai. Kembali pada diri masing-masing.
Semoga tidak menginspirasi.

Mungkin tak bisa mendapatkan semua yang diinginkan, tapi jika sedikit lebih bersyukur, Tuhan bisa kasih sesuatu yang benar-benar kita butuhkan.

Security di kantor gua, di tengah kegalauan gua, pernah menepuk pundah gua dan berbisik, “Mas jangan nyerah buat pacaran lagi, toh ending-nya cuma dua. Kalau nggak jadi mantan, ya jadi manten.. Hehe.”

Gak kerasa udah jam 9 malam

28 02 2017

Anjay, endingnya khas om-om gini..... Kamphang

Danny -manusia yang riang, terampil, dan gembira. Sering jalan-jalan. Kalau ketemu, disapa aja..

Senin, 20 Februari 2017

2016 - 2017 - Dhanny

CIYEEEE ULANG TAHUN

Gua bahkan nggak pernah bikin resolusi di umur yg baru. Mungkin selain ritual agama, ritual membahas resolusi ulang tahun adalah ritual yang wajib banget untuk dilakukan oleh nyaris setiap orang.

Gua punya tujuan atau goal di masing-masing setiap tahun. Tapi bukan seperti resolusi orang lain yang tidak akan jauh dari target menikah, target membeli barang yang tentunya karena harganya tidak affordable sehingga harus direncanakan plan dan strategi bagaimana cara mencapainya jauh-jauh hari sebelumnya, target akan kurus atau atletis yang pada akhirnya malah dimasukkan kembali ke daftar wishlist tahun berikutnya, atau bahkan target mainstream yang jauh dari kata spesifik: “Tahun depan saya harus sukses.”

Gua nggak punya resolusi-resolusi di atas.

TARGET APA RESOLUSI, NIH?

Gua selalu punya sebuah target di setiap tahunnya yang malah makin jauh dari kata spesifik namun terdengar filosofis dan sufistik tsaaah, sekaligus menjawab semua keresahan beserta kekhawatiran di kepala gua,

“Tahun ini gua harus lebih lucu dari tahun kemarin.”

Lucu aja gitu kalau gua naik jabatan dalam pekerjaan di tahun ini. Lucu aja gitu kalau ternyata gua berhasil nikahin dia tahun ini. digit. Lucu aja gitu kalau tahun ini aku udah meluk kamu dari belakang, nyium pundak kamu, nyium pipi kamu, pas kamu lagi masak di dapur.

Ah, bukan..

Buat gua, hidup ini hanyalah perihal menunda kesedihan. Gua menundanya dengan berbahagia. Senyum, tawa, dan keriangan gua hari ini hanya semata-mata untuk menunda sedih di esok hari. Itulah mengapa gua harus lebih lucu dari tahun kemarin, agar gua lebih mudah untuk tertawa, agar lebih banyak orang yang tersenyum dan tertawa di sekitar gua, (yang sesuai dengan prinsip sederhana di hidup ini: Jika kau tidak bisa mewarnai hidup orang lain, jangan malah kau pudarkan warna aslinya. Setidaknya, jika kau ragu untuk bisa membahagiakannya, mulailah dari memunculkan senyum di wajahnya). Dan tentunya agar gua makin hebat dalam menunda kesedihan, yang nyatanya selalu datang lebih sering daripada kebahagiaan.

Buat gua, resolusi-resolusi di atas hanyalah potongan-potongan kecil, hanyalah hasil yang bahkan semua orang bisa dapat jika keseharian diisi dengan berbahagia. Gua selalu yakin bahwa hal-hal besar di hidup ini dibangun dari wajah yang sudah siap untuk senyum. Proses berbahagia tersebut gua tempuh dengan cara menjadi lucu, setidaknya buat gua sendiri. Gua adalah stand-up comedian bagi diri gua sendiri. Menjadi lucu adalah bahan bakar untuk terus bisa menunda kesedihan yang seringkali justru menjadi biang keladi dari kegagalan gua di hidup ini.

Selalu ada cara paling sederhana untuk menunda kesedihan: menjadi lucu.

Kita bisa menertawai banyak hal, bersenda gurau untuk hal apapun, tensi menurun, dan tidak ada tendensi untuk melukai perasaan orang lain.

Kamu boleh bilang “TSADEEEEST” dalam hati kok.

Mau muntah juga boleh.

Mau bilang “Halah prekk.” Juga boleh.

Mau ngatain gua kayak tukang duku juga boleh.

Boleh banget.

Yawlaa.. (akhir akhir ini kalimat jadi Viral)

========

“Jadi sebenernya lu mau ngobrolin apa sih, Dan?”

Iya-iya kamu ndak sabar banget sih.

Sebenernya, tiap tahun itu gua cuma nungguin hal-hal yang lucu, tentunya terlepas dari hubungan kita yang lucu loh.. udah deket tapi tidak kunjung bersama.. Eh, maksudnya gini, tunggu, aku bisa jelasin.

Jadi gini, gua selalu nunggu hal-hal lucu yang akan terjadi di hidup gua, terutama di 2016 ini. Kalau mau sedikit di-flashback, sosial media di tahun 2016 telah menyajikan kita banyak bit komedi. Beberapa di antaranya masih nyangkut di kepala gua bahkan terngiang-ngiang di telinga kalian.

BIT KOMEDI TERGARING TAHUN LALU

·     Polisi ganteng yang disinyalir dapat meningkatkan standar para perempuan dalam mencari pasangan hidup.

·     Kasus hap Saiful Jamil yang barang buktinya adalah kerak air liur di batang sosis korban.

·         Kasus sidang Jessica yang kayaknya akan diangkat ke layar bioskop: Sidang Jessica Reborn.

·      Kasus Drama Kiswinar dengan motivator kondang yang tidak lain dan tidaklah     bukan, bokapnya sendiri.

·       Drama Awkarin yang putus dari cowok yang punya bargain position tinggi, yang    lulus kompetensi untuk menerapkan sistem sekali pake buang untuk urusan cewek,  yang ya sudah kita samarkan saja namanya, Gaga.

·        Drama yang lagi-lagi menambah pundi-pundi kekayaan Awkarin, yang kali ini berduet lagu rap namun lebih terdengar seperti gejala ayan menahun, dengan cowok rapper berwajah slip gaji UMR, yang nampaknya kalau lewat di komplek gue akan dipanggil, “Somay di plastik tiga rebu, bang” yang haibat betul dalam melantunkan segala barang perabotan rumah tangga seperti gunting batagor, lampu taman, gayung martabak, singlet bapak, dan bedak harumsari ibu, menjadi satu lirik panjang yang dinyanyikan secara cepat dan spontan tapi malah lebih terlihat seperti kemasukan makhlus halus pas uji nyali, yang belakangan dia sebut.. free style.

Kemudian, ada yang nyaris gue anggap sebagai bit terbaik yaitu, aksi nonton bokep akbar dan live di jalanan menggunakan media videotron selama nyaris dua jam penuh, yang ditutup dengan aksi heroik tokoh masyarakat, yaitu memberanikan diri membedah tiang videotron guna mematikan paksa tayangan bermutu tersebut.

Khanmaen..

Belum gua selesai ketawa ngakak untuk aksi nobar bokep paling berani 2016 itu, gua harus  kembali diserang tawa oleh bit-bit keren berupa aksi bela agama, yang diteruskan aksi boikot stasiun tivi, boikot produsen roti tawar berbagai varian, sampai boikot air putih bermutu tinggi yang harganya bisa buat nyicil motor sebulan, yang kemudian harus ditebus dengan sidang blasphemy gubernur minoritas kita semua.

Gua udah mau nangis, mau mati ketawa.

Ajegileeee....

======

DHANNY SELAMA UMUR SEBELUMNYA KAYAK GIMANA, YHA?

Kalau ditanya bagaimana keseluruhan di tahun sebelumnya, mungkin buat gua, tahun itu adalah the beginning yang kesekian kalinya.Haha! Kok bisa? Ya, ini disebabkanketidaklucuan gua di tahun sebelumnya lagi yang harus gue bayar lagi di tahun 2016. Tahun 2015 adalah tahun yang paling bikin gua nge-drop, paling ancur, dan lebih banyak kesedihan daripada canda tawanya. Untuk itulah kenapa gua sebut tahun 2016 adalah the beginning. Gua mau kembali ke fitrah. Bangkit sekali Leader MLM selalu bilang, “Hidup tidak dilihat seberapa banyak kamu jatuh, hidup ini dibangun dari seberapa banyak kamu bisa bangkit sekali lagi.”

Ternyata nggak sia-sia gua dideketin cewek cakep, terus malah diajak ke seminar MLM.

KARIRNYA GIMANA, MAS?

Bulan November 2016 kemarin gua baru pindah kerjaan. Suasana baru, kerjaan baru, dan tantangannya juga baru. Yang lebih peliknya lagi, kerjaan gua juga harus ditempuh dengan pendidikannya yang digelar di dalamnya selama setahun. Singkat kata, gua kerja hampir 24 jam.

Dan ini akan terlihat sangat jomblo di mata masyarakat sekitar.... .... .....

Gimana ini..

Yah, didoakan saja supaya Mas Dhanny bisa meraup pundi-pundi kekayaan yang berlimpah supaya bisa macarin cewek embem kayak Nabila Syakieb, atau paling tidak dengan kekayaan berlimpah, jadi tidak perlu merasakan pahit getirnya ditinggal sama cewek pas lagi sayang-sayangnya.

KISAH ASMARANYA GIMANA, MAS?

Nggak bisa nanya yang lain aja, ya?

Di pertengahan tahun 2015, gua putus sama pacar. Untungnya, selang dua bulan bulan berikutnya, kegalauan gua terobati, gua udah jadian lagi sama yang baru, dan nggak kalah embem. Namun sialnya, di bulan Februari 2017, pacar gue mau dinikahin sama mantannya. Usia pacaran gua nggak sampai delapan bulan.

Lah.

Ini begimana ceritanya, dah.

Ya, intinya, pacar gua itu memang lebih tua satu  tahun dari gua. Dan menurut keluarganya, yang juga menurut pandangan orang-orang Indonesia, kalau cewek udah di usia 26 sampai 28 dan belum nikah, maka dianggap sebagai blunder besar dalam hidup. Usut punya usut, daripada nunggu gua yang menurut dia nggak punya kepastian mau nikahin, ya udah mantan gua memutuskan untuk nikah sama mantannya.

Mantan yang udah putus dan nggak kontek-kontekan selama dua tahun.

Mungkin, tipe mantan kayak ginilah yang disebut, mantan kompor mleduk.Mantan yang udah lama nggak ketemu, tapi sekalinya ketemu malah ngajak kawin. Bener-bener nggak sopan.. ckckck

Pikiran polos gua berkata, ah yaudahlah ya, toh pacar gua ini kan tulang punggung di keluarganya, masih punya tanggungan sana-sini yang harus dibiayain. Untuk itulah dia butuh dinikahin sama cowok yang lebih mapan dari gua. Sampai di situ gue ngerti. Nikah nggak semudah yang orang lain bilang.

Tapi kenyataannya nggak gitu.

Cowok yang nikahin pacar gua itu, ternyata nggak lebih baik kondisi finasialnya dari gua. Utangnya banyak, bahkan dia punya utang roko di warung ucok yang udah nunggak tiga bulan. Kalau dilihat dari segi muka, dia lebih mirip helm uji nyali. Entah apalah ni yang dicari sama pacar gua.

Jadi alasan pacar gua nikah ya…. ya karena pengin nikah aja.

Udah.

Gua hanya bisa mendoakan dari jauh supaya dia bisa langgeng dengan suaminya. Nggak ada ribut-ribut ketika pacaran sama gua. Mungkin hanya itu yang bisa gua lakukan, sebab cuma mendoakan yang dapat dilakukan tanpa harus memiliki..

Tapi overall, gua udah selesai dengan itu. Tahun diumur guaa sebelumnya jadi tahun yang untuk ke sekian kalinya jadi tahun bangkit sekali lagi, khususnya buat kisah asmara.

HARAPAN DI UMUR YG BARU INI GIMANA NI, MAS?

Harapan gua di tahun 2017 adalah supaya orang-orang nggak bikin resolusi di tahun 2017. Haha!

Ya harapan gua, semoga gua bisa lebih lucu dari tahun 2016. Kalau gua bisa lebih lucu, tentunya gua bakal cerita terus. Akan selalu ada cerita dan unpopular opinion yang bisa gua ceritain di sini walaupun nggak ada yang baca. Haha!

Dengan menjadi lebih lucu, akan membawa gua pada senyumannya, dan canda tawanya. Mereka bilang bahwa untuk bisa membuatmu jatuh cinta, aku harus membuatmu tersenyum. Namun, saat kau tersenyum, aku yang jatuh cinta.Yha~

Semoga di umur ini gua bisa menemukan perempuan yang hanya dengan menatap wajahnya, membuat gua berkata dalam hati, “Saya sampai pada tujuan”. Semoga di tahun ini gua bisa menemukan perempuan yang hanya dengan membelai rambutnya, membuat gua bergumam, “Kayakya gua udah siap nih dipanggil, Daddy”. Semoga di tahun 2017 gua menemukan perempuan yang hanya dengan memegang erat jemarinya, membuat gua berbisik dalam hati, “Lah anjir ini ngapa jempol semua”. Semoga di tahun 2017 gua bisa menemukan perempuan yang kalau gua ajak ke kaepci, terus gua ambil kulit kaepci-nya, dia pasrah aja. She is the one!

Ah, bukan.

Ya, pokoknya gitu deh.

Terakhir dari gua,

Semoga di tahun depan, kita bisa mengulang tahun ini, lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Hey 2017, salaman dulu.