Senin, 17 April 2017

My Best Regret

My Best Regret: ARSITEK Gagal

Ada satu hari di pertengahan Februari 2008 kemarin, yang menjadi momen krusial buat gua. Ya, gua hadir di sebuah acara besar yang dihadiri banyak mahasiswa dan mahasiswi, yang kompak memakai setelan hitam-hitam. Ya, setelan hitam-hitam dengan topi khas orang wisuda yang apabila setelah selesai dipakai akan mereka lempar tinggi-tinggi ke angkasa. Gua sudah siap dengan kamera yang telah disiapkan seorang teman gua, ketika ia melompat dan melempar toganya ke angkasa, bidikan kamera gua tepat membuatnya terlevitasi. Ya, dia adalah seorang teman gua yang telah diwisuda dari Fakultas Teknik.

Ya, sudah entah ke berapa kali, gua menjadi tukang potret wisuda temen sendiri. Kepedihan gua belum sampai di situ, gua juga bertemu dengan teman yang lain, dan kembali diminta untuk memotretnya. Sayangnya, dia adalah junior gua di kampus. Dia satu angkatan lebih muda.

Hati ini remuk redam.

Buat gua saat itu, acara wisuda yang memakai setelan hitam-hitam lebih mirip ke acara pemakaman. Ketika acara pemakaman, semua orang pasti sedih atas kepergian orang yang dicintai. Yang bisa mereka lakukan adalah mengikhlaskan dan mendoakan agar sang almarhum bisa bahagia di afterlife.

Begitu juga dengan gua saat itu, yang gua hanya bisa lakukan adalah mengucapkan selamat serta mendoakan agar teman-teman gua bisa sukses di dunia yang sebenarnya. Senyuman dan rasa bangga yang gua sematkan di tiap toga yang dikenakan teman-teman gua itu, selalu diikuti dengan rasa sedih setelahnya. Rasanya campur aduk, antara kapan gua menyusul mereka, dengan ketidakrelaan gua ditinggal teman-teman seperjuangan.

Di tengah-tengah euforia mereka, gua tertawa sambil menyembunyikan rasa sepi, penyesalan-penyesalan gua di hari kemarin seperti terputar kembali satu per satu. Kalimat, “Andai saja gua bisa kembali ke masa silam dan mengubah cerita.” – sebuah kalimat yang sungguh delusional, kembali muncul dan membuat gua terdiam sebentar.

=====

ARSITEK Gagal

Bokap gua adalah seseorang yang bekerja di bidang teknik. Karena di masa silam kakek gua tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan bokap gua di sekolah teknik, akhirnya kakek gua mendarat di sekolah STM. Sejak SD, gua sudah suka dengan yang namanya pelajaran MIPA terutama Fisika. Dan semenjak itulah, ketika masuk ke jenjang SMP, gua berniat mewujudkan keinginan terbesar bokap gua – dengan menjadi arsitek. Jika bokao gua saat itu nggak bisa menjadi arsitek, maka gua yang akan menggantikannya.

Setelah sukses merajai pelajaran fisika tiga tahun berturut-turut, dengan rambut tegak berdiri menantang, tatapan tegas, dan kepercayaan diri yang tiada cela, gual mantap melangkahkan kaki ke SNMPTN. Dan seperti yang sudah kalian duga, gua
bakal milih jurusan Fisipol.

Ya, nggaklah.

Gimana sih..

Ya, gua mantap untuk menuju fakultas teknik di salah satu dari tiga besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Di tahun itu, gua mengikuti 5 macam seringan masuk di PTN. Kalau tidak diterima di nomor satu PTN terbaik Indonesia, setidaknya gua masih bisa mendarat di nomor dua dan tiga.

Prinsip gua hanya satu, yaitu menjadi arsitek adalah harga mati. Lebih baik menjadi arsitek daripada menyerah pada kemunafikan. Gua tak mampu membayangkan bagaimana caranya menjalani masa muda tanpa sekolah di teknik sipil, pasti sangat menyedihkan sekali. Jika tidak diterima di teknik kemungkinan paling besar, gua hanya akan menjadi cowok ganteng pada umumnya.

Ini tidak boleh terjadi.

Tidak boleh..

Tiga dari lima saringan masuk yang gua ikuti sudah memberikan hasil. Ada yang diumumkan lewat harian pagi di koran, ada yang lewat situs universitas, dan ada yang langsung di-SMS ke hape peserta ujian. Kebetulan, hasil USM (Ujian Saringan Masuk) di univ A sudah keluar, kepastian gua diterima atau nggak diumumkan lewat SMS tepat pukul 7 pagi.

Setelah minum susu dan curcuma plus, gue beranikan membuka SMS yang masuk itu. Nomor di pesan itu terlihat sangat asing, seperti di-sms melalui komputer atau sistem, bukan nomor-nomor provider pada umumnya,

Gua klik pesan tersebut, degup jantung yang cepat mulai membahana di seisi ruangan kepala gua.

SELAMAT,

Sebuah kata yang sangat mengharukan, sebuah kata yang sangat tepat untuk menjawab sebuah pengharapan dan penantian.

Gua coba turunkan lagi pesan itu ke arah bawah untuk melihat isi keseluruhan SMS,

SELAMAT,

SELAMAT MENCOBA LAGI DI KESEMPATAN BERIKUTNYA,

JALAN MASIH PANJANG

JANGAN MENYERAH,

TERIMA KASIH TELAH MENGIKUTI USM UNIVERSITAS A.

Gua terdiam sebentar, tak lama kemudian gua terjerembab ke lantai. Menatap ke langit-langit kamar, bertanya-tanya di kepala, mengapa gua tidak terlahir dengan otak yang pandai.

Akhirnya, di pengumuman hasil ujian masuk universitas lainnya, gua juga ditolak masuk Fakultas Teknik. Nilai ujian gua nggak pernah nyentuh passing grade Fakultas Teknik di tiga besar PTN di Indonesia. Gua sadar, untuk bisa kuliah di teknik haruslah pintar. Tidak hanya sekedar pintar Biologi dan Fisika. Tapi juga harus pintar Matematika dan Kimia.

Teknik yang erat dengan basic Biologi dan Fisika, di mana dua bidang itu sangat gua kuasai, namun kenyataannya gua malah gagal karena kurangnya kemampuan gua di bidang Matematika dan Fisika. Jadi, gua nggak bisa jadi arsitek karena nggak jago Matematik dan Fisika. Walau gua gagal di ujian masuk, sampai sekarang gua masih percaya kalau gua akan sangat kompeten ketika sudah kuliah di sana.

Ini persis kayak nasib seorang lelaki yang mau bekerja keras, mau belajar untuk merancang masa depan yang mapan, namun ia ditolak dan dibuang oleh perempuan yang dicintainya karena satu hal: ia belum mapan di awal. Perempuan itu hanya ingin menerima lelaki itu dengan kesempurnaan sejak dari awal. Perempuan itu nggak menilai kemauan lelaki itu untuk bekerja keras membangun masa depan yang cerahh.

Persis kayak Fakultas Teknik yang membuang gua cuma karena gua nggak begitu jago Matematika dan Kimia. Fakultas Teknik nggak melihat kemampuan Biologi dan Fisika yang gua punya.

Akhirnya, sekarang gua kuliah di jurusan yang nggak gua suka, yang gua pilih sebagai pelarian. Kalau gua nggak bisa kuliah di Fakultas Teknik Universitas terbaik di Indonesia, gua akan milih jurusan lain. Yang penting masih di Universitas itu. Sekarang, gua sadar, keputusan gua salah besar.

Jangankan jadi Arsitrk, mengambil keputusan aja gua gagal..

=====

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengobati luka di hati ini. Sampai semester tiga, gua masih nggak rela kuliah di jurusan selain teknik. Tapi di sudut pandang yang lain, gua mengakui ketidakmampuan gua. Gua sadar dan menerima, sebab menerima adalah pekerjaan besar, karena harus berhadapan dengan ilmu tertinggi di  hidup ini,,,
Yaitu  Ikhlas.....






Mungkin benar, gagal hanyalah caraku menamai apa yang sesuai dengan kehendak-Nya, namun tak sesuai dengan kehendakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar