Kehidupan
keluh kesah itu rata-rata sama. Nggak jauh-jauh dari sikluspedekate-ngajakjalan-nembak-pacaran-putus-ngajakbalikan-dan-begitu-terus-sampai-kiamat.
Sebenarnya, nggak ada yg salah keluhan kayak siklus kampret di atas. Yang jadi kesalahan adalah: klo nanya ke gua. Otomatis, gua pun jarang nggak pernah kasih solusi. Bukannya mencerahkan, gua malah memperkeruh kegalauan mereka.
Tapi belakangan, rentetan keberhasilankegagalan gue dalam mengarungi kejamnya dunia pedekate-ngajakjalan-nembak-pacaran-putus-ngajakbalikan-dan-begitu-terus-sampai-kiamat, membuat gua lebih peka terhadap banyak hal. Terutama kode-kode. They were right, men are from mars, women are from venus, orang di planet Mars nggak pernah ngerti kode-kode kampret orang di planet Venus.
Kegagalan datang nggak dengan tangan kosong, dia datang membawa jam terbang. Iya, jam terbang. Di kesempatan ini, gua nggak bermaksud tipsy atau menggurui, gua cuma mau berbagi cerita berdasarkan pengalaman kelam di masa silam
Semoga tidak menginspirasi.
Berjuta-juta orang udah ngebahas ini di mana-mana, pasti setiap hari ada aja yang ngebahas tentang hal yang satu ini.
Gua harus jawab apa?
Nggak ada kata salah dan benar untuk urusan cinta. Jadi nggak ada paham saklek untuk memulai jatuh cinta. Ngedeketin cewek orang aja bisa dianggap benar kok. Contohnya, ketika ngedeketin cewek yang suka disakitin cowoknya, kamu datang di sana untuk menyelamatkan. Di primbon playboy, ini disebutmenikung dengan tujuan menyelamatkan. Gayak lo daneeeeeh
Satu-satunya jalan paling benar adalah dengan memulai pembicaraan dengannya. Bisa ngajak dia ketemuan, atau kalau belum berani, bisa mulai via chatting. Belum selesai gua bercerita, mereka-mereka ini langsung melontarkan pertanyaan lagi.
“Gua mesti ngomong apa aja ke dia?”
Piye? Aku mesti njawab apa, Cuk?
Oke, tehnik paling sederhana yang paling sering gue pakai untuk memulainya adalah tehnik FORM.
FORM itu apa ya?
FORM itu singkatan dari Familly, Occupatiom, Recreation, and Message. Inget, yang terakhir itu Message. Bukan Massage.
Bingung mau ngajak ngomong apa?
Nah, coba tanyain family-nya. Contohnya:“Kamu asli mana?” “Kamu ngekos di mana?”“Kamu punya saudara kembar ya, kok mirip sama mantan aku?” “Kamu punya anjing ya?”(anggap aja anjing adalah salah satu keluarganya). Dan masih banyak lagi.
Setelah kelar ngepoin family-nya, coba masukin topik recreation atau hobi. Ajak ngobrolin hobinya. Menurut ilmu psikologi, orang itu paling suka kalau ditanyain tentang hal yang dia suka. Kalau dia cewek clubbing,udah jelas jangan ajak dia ngomongin tentang sembahyang mengaji. Bukannya dia nggak suka sembahyang mengaji, tapi saat itu cuma Si Doel yang kerjaanya sembahyang mengaji. Coba ajak ngomong tentang minuman. Seperti wedang jahe, bajigur, atau STMJ. Kalau dia cowok gamer, coba ajak ngomong tentang permainan yang dia suka. Gua yakin, dia bakal panjang lebar ngomongin game kesukaannya. Intinya, tanya hal kesukaannya dia, dan gali terus di sana. Biarkan dia menceritakan semuanya ke kamu.
Be a great listener.
Udah puas ngomongin hal kesukaannya, coba masuk di occupation atau kerjaan, atau minimal kesibukannya. Setelah ngomongin hal yang disuka, pada topik pekerjaan, dia kemungkinan akan bercerita tentang keluh kesahnya. Pengalaman gua, jangan tergoda untuk memberi solusi, dengerin aja sambil manggut-manggut pertanda menyimak keluhannya.
Tak terasa obrolan ringan di depan indomaret berlanjut ke obrolan di kamar kosan. Ah bukan. Bukan itu. Tak terasa obrolan ringan itu berlangsung berjam-jam lamanya. Nah, di sinilah sesi Message dibutuhkan. Bukan, bukanMassage. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Abis ngajak ngobrol terus minta dipijet? Tidak tahu diri sekali kamu. Message di sini adalah meninggalkan pesan. Ini contoh sederhana yang paling sering gua pakai saat menyudahi obrolan dengan cewek embem: “Eh, bentar lagi aku ada kuliah, kayaknya kita bakal ketemu lagi besok, kamu bisa save nomor aku. Miskol ya.”
Dapet deh nomor telfonnya...
Urusan selanjutnya terserah anda ...
Tapi ini nggak harus nomor telfon. Bisa pin BB, skype, atau yang lain. Kalau Line, Kakao, Wechat, Watsap, dll itu mudah. Jaman sekarang, orang udah dengan sendirinya memberi tau alamat chatting mereka di profil FB dan twitter. Buuuuuh..
Kemungkinan dapat nomer telfon dia, ditentukan dari seberapa hebat kamu melakukan ice-breaking di awal dengan topik family, occupation, dan recreation. Semakin seru dan enak jalan obrolan, kemungkinan berhasil dalam meninggalkan pesan akan semakin besar. Oh iya, gua juga belajar bahwa saat ngobrol, usahakan jangan tergoda untuk menceritakan diri sendiri, buatlah lawan bicara yang menceritakan semua tentang dirinya.
Dulu, hal kecil di atas adalah hal yang paling besar gua sepelekan.
Udah dapet nomor telfonnya, udah sering BBM-an, udah sering telfon-telfonan, kemungkinan besar hubungan yang sedang dibangun tersebut akan berakhir di kamar kosan. Ah bukan. Bukan itu. ....
Hubungan akan menuju pada stepngajak jalan. Yang paling berharap besar pada hubungan itu pasti yang akan berinisiatif ngajak jalan. Kalau cewek, bisa ngajak lewat telfon dengan cara seperti ini: “Eh, aku besok mau nyari buku di Gramed, kamu nggak mau temenin aku?” tentunya keberhasilan juga ditentukan dari desahan. Semakin mendesah, cowok akan semakin tidak punya pilihan selain, iya.
Oke, gua becanda lagi ...
Pada awal-awal membangun hubungan, mayoritas step ngajak jalan akan dilakukan oleh cowok. Mungkin cowok punya nafsu lebih untuk urusan yang satu ini. Oke, urusan di kamar kosan juga. Oke-oke, untuk banyak urusan, cowok memang lebih bernafsu. Yang cewek, ati-ati aja.
Lah, sampai di mana tadi?
Kembali lagi ke masa lalu, gua ini adalah tipikal cowok glory hunter. Gua mengejar cewek seperti Cheetah yang mengejar Impala. Niat abis. Nggak berhenti sampai Impala berhasil diterkam. Makanya, cara gua ngajak jalan itu sering barbar atau lebih tepatnya cara “mbuh piye carane dek’e kudu jalan karo aku”.
Yang paling kampret, gua pernah nelfon ngajak jalan seorang cewek tepat di depan pagar kosannya. Ketika ditelfon dia mengelak lagi di luar sama temennya, otomatis gua nggak bisa ditipu. Ya karena gua tau dia ada di dalem. Mau nggak mau akhirnya dia keluar nemuin gua dengan rasa malu.
Kampret kan? Hahahahahahahahahahaps
Sekali lagi, belajar dari kegagalan, dulu gua selalu ngajak jalan dengan kesan “memohon”. Seperti misalnya di telfon, “Eh, malem nanti kamu ada acara nggak?” dan tentu aja bakal mudah dijawab, “Oh, ada.” Atau seperti, “Eh, kemarin kan kamu janji jalan sama aku, nanti aku jemput ya?”
Akhirnya gua tau, kalau ini bukan cara yang elegan. Gue kehilangan postur di sini.
Gua memutuskan untuk belajar dari teman lain. Ya, dari telemarketer! Itu tuh, yang suka nawarin asuransi atau langganan internet lewat telfon. Jangan salah, mereka bisa ngejual barang cuma lewat telfon dan orang bisa percaya !? Itu keren! Makanya, setiap ditelfon telemarketer yang nawarin asuransi, internet, atau produk lain, gua selalu pelajari kalimat-kalimat yang mereka ucapkan.
Intinya, bukalah sebuah ajakan dengan memberi peluang atau tawaran. Bukan dengan memohon. Percaya nggak percaya, itu naikinpostur gua saat ngajak jalan.
Awalnya agak ragu, tapi jika melihat status jomblo gua yang mulai berkarat, gua beranikan diri untuk mencoba tehnik baru ini. Berikut adalah contoh yang sering gua praktekin lewat telfon:
“Eh, kebetulan aku punya 2 tiket nonton, dan kayaknya kamu adalah orang yang tepat untuk tiket ini.”
“Kita baru bertemu, dan aku tau ini gila, tapi seneng bisa ngobrol sama kamu, aku pengin ngobrol-ngobrol lagi sama kamu di kafe ini. Dan aku juga tau kalau kamu punya waktu.”
“Kebetulan aku mampir di daerah sini, kita kayaknya bisa ketemu di situ deh.”
“Kamu lagi senggang kan? Nah, aku juga. Kalau kesenggangan di antara kita digabungin, itu bisa jadi kesibukan baru loh.”
Kampret nggak?
Apa ? Norak ?! Oh yaudah deh ...
Gua orang yang nggak nyerah dengan segala keterbatasan. Yang penting maju dulu. Karena aksi punya pacar yang niat ini juga, salah satu temen gua, anak otomotif, bikin kalimat ini.
“Mesin boleh standar, tapi cara bawanya tetep moto jipi.”
Mungkin, tampang boleh standar, tapi cara ngajak jalan nggak standar.
Entahlah.
Tapi sekali lagi, cara-cara ini nggak akan langsung berhasil. Ingat lagi kalimat di awal-awal postingan ini. Nggak ada cara yang saklek buat mengawali semua ini. Kembali pada diri masing-masing. Saat itu, gua gagal di mana-mana. Gua belajar bahwa ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menaikkan intesitas kegantengan.
Setelah banyak kencan dilalui, setelah getaran di hati kian bergejolak, mungkin inikah saat yang tepat untuk nembak?
Nggak.
Nggak tau, maksudnya.
Pertanyaan paling tidak ingin dijawab adalah, “Kapan waktu yang tepat untuk mengutarakan rasa?” Satu-satunya orang yang bisa menjawabnya adalah orang yang tengah menjalin cinta itu sendiri. Kalau dari pengalaman temen-temen gue, katanya sih, nembak itu harus menciptakan momen. Momen saat lagi manis-manisnya, saat lagi ketawa-ketawanya, saat lagi intensnya percakapan di telfon, dan saat dia sudah tak ragu lagi nginep di kamar kosan kamu.
Yang terakhir, tolong diabaikan.
Lalu kenapa nggak pakai pengalaman gua?
Semenjak sering ditolak, gua udah dari lama nggak nembak. Buat gua, mengutarakan rasa lewat “Aku sayang kamu, kamu mau kan jadi pacarku?” sekali lagi menurunkan postur. Di sini gua sebagai pihak yang memohon. Harusnya kalau udah sama-sama cinta, nggak ada lagi yang harus saling memohon untuk dicintai.
Beberapa momen terakhir, cara gua mengutarakan rasa udah seperti pihak yang menawarkan kerja sama.
Salah satunya ini.
Waktu itu hari Jumat, seperti biasa gua udah nongkrong di depan kosannya buat nungguin dia kelar dandan. Hari itu kami sepakat nonton di bioskop. Kami menonton film boneka beruang yang hidup karena wish anak kecil – TED. Sesampainya di mall tersebut, gua reflek ngegandeng tangannya. Dia cuma bisa menatap gua sembari sedikit melihat apa yang tengah terjadi di antara tangan kami.
Gua tau dia kaget.
Kejadian gua menggandeng tangannya dan dia cuma bisa bengong, berlangsung sampai naik di eskalator.
“Danny, ini maksudnya apaa?”
Gua menatap matanya, “Kamu bisa ngerti kan apa yang aku rasain ke kamu selama ini?”
Dia cuman senyum .
“Oke, senyummu telah menjawabnya.” Bales gua lagi.
Eskalator terus berjalan dan semakin ke atas.
“Kalau kamu belum siap, kamu bisa lepasin tangan aku. Kalau kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarang, diamlah di sana. Biarkan genggaman kita yang bicara.” Bisik gua dekat di telinganya.
Dia hening.
Sampai mengantri di depan loket tiket, tangannya masih ada di genggaman tangan gua. Mungkin itu jawabannya. Kami pun bahagia sehidup semati sampai akhirnya pihak ketiga memisahkan. #duaar
Kisah cinta yang seperti menawarkan kerja sama ini, mengingatkan gua pada ucapan gua.
“Relationship is am open tender, everyone can submit their proposal, so make sure you have an excellent portfolios.”
Sekali lagi, nggak harus dengan cara di atas, kalau dengan “Aku sayang kamu, kamu mau jadi pacarku” udah bikin dia klepek-klepek, kenapa nggak? Nggak ada cara yang runut dalam mengutarakan perasaan.
Itu cerita nembak gua, bagaimana cerita nembakmu?
Apa? Ditolak?
Hahaha. Ciyan.
Pacaran udah, kemana-mana pegang tangan udah, nyium udah, digampar bokapnya gara-gara seharian anak gadisnya nggak dipulangin udah, nah terus apa lagi?
Biasalah. Tiga bulan pertama, semua terasa surga dunia. Semua milik berdua. Hati-hati, pulang berbadan dua.
Biasalah. Tiga bulan kedua, semua masih terasa surga dunia. Masih terasa milik berdua, walau sudah ada yang mulai menganggu. Tapi tetep, hati-hati pulang berbadan dua.
Biasalah. Tiga bulan ketiga, atau sembilan bulan lamanya, mulai diganjar batu kerikil. Jalan kini tak lagi mulus. Bebatuan dan terjal pun terlintas di depan mata. Mulai saling menyalahkan satu sama lain. Kini ego yang bicara. Suara mulai meninggi. Suara yang tinggi itu dibalas dengan dengki. Pecah ketuban. Selamat, anak telah lahir setelah mengandung sembilan bulan lamanya. Anak itu diberi nama..... Cemburu.
Biasalah. Menginjak tahun pertama. Jika bertahan, akan saling menguatkan. Mulai tumbuh kedewasaan antar pasangan. Yang tadinya marah karena satu pihak lupa nge-like status FB pacar, kini mulai rutin nge-like tanpa diminta. Yang tadinya emosi karena mention twitter nggak dibales, kini mulai rajin bales. Timbul pengertian yang tidak biasa di tengah mereka. Kini mulai melihat tentang masa depan. Melihat sebuah rumah. Rumah yang dibangun dari fondasi kesetiaan.
NB: Ini tidak berlaku bagi kaum LDR (Ketemu aja jarang).
Iya, bagi mereka yang bertahan? Yang tidak?
Selamat, anda kandas di persimpangan jalan.
Salah satu pihak yang paling dirugikan akan mengucapkan kalimat penuh kode-minta-putus seperti “Ayang, nyadar nggak sih kalau kita setiap hari berantem terus?” atau “Mbem, kamu sekali-sekali ngertiin aku bisa nggak sih? Aku capek kayak gini terus!” atau bisa juga “Beb, mama kamu kok makin cantik?”
Salah satu kalimat putus paling absurd menurut gue, “Sayang, kamu terlalu baik buat aku” bener-bener kampret. Ini contoh minder yang tak pantas ditunjukkan oleh generasi muda. Harusnya kalimat itu direvisi jadi,“Sayang, kita mending sampai di sini aja, aku terlalu baik buat kamu”. Nah, di sini pihak yang mutusin bener-bener punya postur saat mutusin. Seakan-akan dia adalah pihak yang benar-benar dirugikan. Dan dia berusaha menyelamatkan hidupnya dari kekangan pacarnya.
Sebelum menutup tulisan ini, salah seorang temen gua pernah menepuk bahu gue, dan berkata, “Dan, kalau ada duit, semua yang lu bilang barusan itu nggak ada gunanya. Money always talks louder than anything.”
Gua cuma bisa berdehem sambil mengiyakan. Nggak ada yang salah. Kembali lagi pada pelaku yang ingin menjatuhkan cintanya.
Pengalaman mengajarkan bahwa pedekate, pacaran, sampai menemukan pasangan yang tepat, layaknya memancing di lautan bebas. Ikan yang dipancing tergantung dengan umpannya. Jika umpannya uang, akan banyak ikan yang terpancing. Jika uangnya tidak ada, ikan tidak akan kembali lagi ke kail yang sama. Jika umpannya attitude, mungkin akan sedikit ikan yang tergiur, tapi gua yakin, ikan itu adalah ikan yang sebenar-benarnya dibutuhkan, bukan sekedar diinginkan.
Sekali lagi, iya sekali lagi, ini semua tidak menggurui. Pilih mana jalan yang dianggap sesuai. Kembali pada diri masing-masing.
Semoga tidak menginspirasi.
Mungkin tak bisa mendapatkan semua yang diinginkan, tapi jika sedikit lebih bersyukur, Tuhan bisa kasih sesuatu yang benar-benar kita butuhkan.
Security di kantor gua, di tengah kegalauan gua, pernah menepuk pundah gua dan berbisik, “Mas jangan nyerah buat pacaran lagi, toh ending-nya cuma dua. Kalau nggak jadi mantan, ya jadi manten.. Hehe.”
Gak kerasa udah jam 9 malam
28 02 2017
Anjay, endingnya khas om-om gini..... Kamphang
Danny -manusia yang riang, terampil, dan gembira. Sering jalan-jalan. Kalau ketemu, disapa aja..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar