Kamis, 27 April 2017

Time

Apapun teori tentang waktu, yang jelas manusia hanya ingin 2 hal. Turn back time and see the future.
Ah, manusia mana yang tidak ingin.
Bisa pergi ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahannya dan bisa pergi ke masa depan untuk sekedar melihat apa yang akan terjadi.
Tapi coba dipikir lagi, masa lalu itu paling asik buat jadi bahan ketawaan atau sekedar penghibur dikala bosan. Membayangkan kebodohan yang pernah dibuat, sambil berfikir seandainya dia yang dulu itu gua yang sekarang pasti semuanya bakal lebih baik. Yakin? Belum tentu.
Kecuali orang-orang yang tidak menyukai keadaan yang sekarang, masa lalu membuat kita menjadi kita yang sekarang.

Kalau bisa tau masa depan, mungkin kita bakal mati-matian ngerubahnya kalau nggak suka. Capek kan? Iya capek.

Dulu mungkin kita bodoh, akhirnya menyesal dan belajar bahwa kebodohan itu gak boleh terulang lagi.

Dulu mungkin semuanya terasa berat, toh sekarang semuanya bisa kita tertawakan.

Ever wonder what will come next to your life? 

Just wait. It will come to you.

Hari ini saya belajar bahwa hal kecil bisa mengubah hidup saya dengan mudahnya.

Dear God, i will be waiting for your next surprise. Like, whatever kind of surprises 😉

*Tulisan ini tercipta karena kejenuhan yang sangat amat tinggi dan pikiran yang entah kemana*

Rabu, 26 April 2017

Rokok dan Analoginya

 Hari ini gua meneruskan ketidaksuksesannya lewat postingan lanjutan.Postingan kali ini adalah tentang langkah-langkahnya.



Tapi tenang, gua tidak pernah bermaksud untuk menggurui, sebab ini adalah tentang rokok. Gua juga suka mikir bahwa petisi dan ajakan untuk tidak merokok adalah hal yang sia-sia. Jika semua berhenti merokok, petani tembakau akan bunuh diri. Jika semua orang berhenti merokok, Indonesia akan menjadi negara yang dipenuhi  pengangguran. Di negara yang penduduknya seringkali bertikai hanya karena perbedaan agama, tentu ketika kehilangan pekerjaan akibat terkena PHK dari pabrik rokok, akan menjadi alasan kuat kenapa kriminalitas meningkat pesat.

Yang merokok silahkan merokok pada tempatnya, yang tidak merokok tidak perlu melarang orang lain merokok, semua akur jika kita mengerti apa itu toleransi. Pun tentang beragama, yang beragama A silahkan beragama A, tidak perlu merasa memiliki Tuhan yang paling benar, tidak perlu merasa memiliki kitab suci yang paling menjamin masuk Surga, dan tidak perlu meninggikan agama sendiri dengan cara merendahkan agama yang lain.

Oke sorry, gua kebawa suasana Pilgub.. 

Sampai di mana tadi?


=====

Menghisap rokok sama saja dengan berpacaran, sedang berhenti merokok sama saja dengan berakhir selamat jalan.

Kenapa move on dari mantan itu sulit? Kenapa berhenti merokok itu sulit?

Ya, karena dua-duanya adalah tentang kebiasaan.

Perihal melupakan, sederhananya adalah tentang mengubah kebiasaan.

Dan sialnya, mengubah kebiasaan tak pernah sederhana.


Ini juga terjadi di bulan pertama gua mencoba berhenti dari asap rokok, semuanya terasa asing. Gua nggak membenci rokok, karena semakin gua benci, gua hanya akan kepikiran dengannya. Persis dengan mantan, semakin dibenci, hanya akan mempersulit proses move on. Yang harusnya dilakukan adalah melupakannya pelan-pelan, dengan cara memafkan. Sama halnya dengan rokok, yang gua lakukan hanyalah mengubah kebiasaan.

1) Kurangi Dosisnya

Seperti yang udah gua bahas di postingan sebelumnya, gua adalah pemuja garpit. Untung saat itu gua sudah dibekali dengan agama, jika tidak, sudah tentu gua akan menyembah garpit dan koreknya.

Benar-benar nggak keren.

Pertama-tama, gua nggak lantas tanpa asap rokok sama sekali. Itu mustahil. Itu seperti sudah bertahun-tahun bersama, tapi beberapa detik kemudian langsung talak tiga. Gua kurangi dosisnya, dari garpit sebungkus sehari, menjadi mild sebungkus sehari.

Apakah itu ngaruh?

Sangat.

Kalau udah biasa ngerokok berat, ketika ngerokok yang ringan akan terasa kempos. Dalam arti yang lebih mudah dicerna, itu artinya hampa tiada rasa. Persis seperti seminggu setelah putus, selalu akan ada rasa untuk menghubunginya. Jika semasih pacaran SMS-nya “Sayaaaaang, kos aku sepi lho..” dan sekarang hanya bisa,  “Hae lagi apa?”

Ya, dosisnya berkurang.

SMS seperti itu rasanya kempos, hampa tiada rasa.

Lalu untuk apa menurunkan dosis rokok berat ke rokok mild? Ya, untuk membiasakan tubuh menerima kadar nikotin dan tar yang lebih rendah.  Lalu untuk apa membiasakan diri mengurangi akses telfon kepada mantan? Untuk membiasakan diri pada kehilangan, bahwa kebersamaan tak selalu sejalan, bahwa kehilangan sejatinya adalah kebersamaan yang berbeda jalan.. #Tsaaah gaya lo daneee


2) Temukan Substitusi

Tiada kata yang tidak terganti, akan selalu ada kata-kata lain yang akan menggantikan. Sejak itu gue sadar, bahwa kalimat “Goodbye” tidaklah abadi, ia akan tergantikan dengan SMS “Hae lagi apa?” dari yang lain, sebut saja ia strangers.

Power strangers.

Ya, orang asing yang punya kekuatan untuk mengubah duka menjadi suka.

Begitu juga dengan rokok. Setelah gua sukses mengurangi dosis hisapan rokok dari mild sebungkus sehari, lalu menjadi setengah bungkus sehari, dan akhirnya cuma menjadi ketengan-ketengan sesempetnya. Tapi kesementaraan itu belumlah cukup.

Mari ke level selanjutnya, menemukan substitusi.

Yang namanya mencoba berhenti merokok, akan ada saat-saatnya sakau. Saat di mana tubuh menagih jatah nikotinnya. Seperti saat menunggu orang, saat berkumpul dengan teman-teman, saat ngerjain revisi skripsi terus nggak tau mau dibenerin yang mana, dan yang paling krusial adalah setelah makan. Ya, gejalanya adalah bibir pecah-pecah, tenggorakan sakit, dan sulit buang air besar. Ah, bukan. Gejalanya adalah bibir terasa asem, pikiran terasa tidak tenang, sanubari terkoyak, dan mata sepet-sepet burem.

Itu juga yang gua derita ketika seminggu berusaha tanpa rokok mild sama sekali.

Saat itu, galau tanpa kekasih mungkin tak semenderita galau tanpa sebatang rokok.

Ketika sakau datang menghampiri, gue mencoba tenang. Gua ambil sebungkus Oreo, putar sedikit, jilat perlahan, lalu celupkan. Seperti itu sampai sakau pergi. Tapi seiring perubahan zaman, harga Oreo sudah tidak murah lagi, bahkan harga sebungkus Oreo dengan krim coklat hampir menyamai harga sebungkus rokok mild isi 12 batang.

Setelah Oreo dikatakan berhasil meredam nafsu mengemut rokok, gue temukan bahwa susu Indomilk  dapat juga dapat menekan nafsu itu. Setelah makan, gua coba sempatkan untuk ke warung, beli minuman itu. Sekedar mencegah sakau dadakan.

Selain Oreo dan Indomilk, gua juga sempatkan membawa permen. Ketika kongko sama teman-teman, saat mulut mereka penuh dikepul asap, pipi gua tembem dipenuhi lollipop. Yeah..

Ternyata ngemut lollipop gaul juga..

Sama halnya ketika berhadapan dengan mantan, setelah mampu mengurangi dosis kangen, tentu saja harus mencari penggantinya. Tidak harus selalu dipacari, anggap saja pengalih perhatian. Ya, dari sanalah sebenarnya asal muasal pelarian dan PHP. Haha.

Bertemulah dengan yang lain, dengan yang asing. Jika cinta dimatikan oleh orang dekat, maka luka akan disembuhkan oleh orang asing.

Percayalah..


3. Bertahan

Konsisten yang akan membuat kita bertahan di kala suka, komitmen yang akan membuat kita bertahan di kala duka.

Kalimat sederhana di atas adalah sebuah prinsip yang selalu gua pegang dan gua bawa ke mana-mana. Segala yang dikatakan berjuang, butuh konsisten dan komitmen. Dan yang namanya berjuang, selalu berteman dengan godaan, halangan, dan rintangan. Mereka bertiga bertugas untuk membuat gua mengeluh. Membuat gua merasa pesimis, lalu mundur perlahan.

Apalagi jika berhadapan dengan yang namanya mengubah kebiasaan. Berhenti merokok adalah perjalanan panjang.  Ada banyak godaan yang gua rasakan untuk kembali ke pangkuan garpit.

Dan tentu saja ke pangkuan mantan.

Mantan adalah makhluk yang keji. Ia dapat berubah menjadi cantik dan semok sesaat setelah diputusin. Entah harus dengan hukum apa menjelaskannya, rambutnya makin harum, tubuhnya makin semampai, dan senyumnya makin bersinar.

Gua sadar, dia memang lebih bahagia dengan yang lain.

Saat gua mulai yakin bahwa dia memang lebih bahagia dengan yang lain, tiba-tiba dia SMS, “Ngerasa nggak sih kalau kita sebenarnya cuma emosi sesaat?” #Duarr

See?

Ketika hati paling kecil gua merasa kangen, dia datang kembali menawarkan perubahan.

Ketika tubuh gua sebenarnya masih membutuhkan nikotin, teman-teman gua datang ke depan gua, membanting  berbungkus-bungkus rokoknya dan berkata, “Dan, ini ambil, buat teman kayak lo, ini selalu gratis Dan, gratis. Ambil ini Dan, ini adalah karya terbaik anak bangsa.”

Damn.

Untuk itulah Tuhan menciptakan konsisten dan komitmen, sebab setia hanyalah kiasan. Setia hanyalah ketidakmampuan manusia dalam menyebut dua kata luar biasa yang sering luput dan disepelekan. Setia hanyalah satu kata, yang dibangun dari dua kata di atas.

Jika gua bisa setia untuk merokok, gua juga harus bisa setia untuk tidak lagi merokok. Selamanya.




=====

Sebenarnya, selain tiga langkah sederhana untuk jadi ganteng maksimal, untuk berhenti dari merokok, gua punya satu motivasi yang melatarbelakanginya, yang di postingan sebelumnya nggak gua ceritakan.

Ya, ini sangat rahasia, bahkan ini menjadi kunci penting dari keberhasilan gua berhenti merokok.

Tetep, tentang cinta.

Dulu, ketika gua merokok, pacar gua pernah bilang, “Bibir kamu bau aspal.”

Gua amat terpukul.


Ketika hatiku tak lagi diterima hatinya, di sanalah jarak terjauh untuk dicapai, dari sanalah perpisahan dimulai

Senin, 17 April 2017

My Best Regret

My Best Regret: ARSITEK Gagal

Ada satu hari di pertengahan Februari 2008 kemarin, yang menjadi momen krusial buat gua. Ya, gua hadir di sebuah acara besar yang dihadiri banyak mahasiswa dan mahasiswi, yang kompak memakai setelan hitam-hitam. Ya, setelan hitam-hitam dengan topi khas orang wisuda yang apabila setelah selesai dipakai akan mereka lempar tinggi-tinggi ke angkasa. Gua sudah siap dengan kamera yang telah disiapkan seorang teman gua, ketika ia melompat dan melempar toganya ke angkasa, bidikan kamera gua tepat membuatnya terlevitasi. Ya, dia adalah seorang teman gua yang telah diwisuda dari Fakultas Teknik.

Ya, sudah entah ke berapa kali, gua menjadi tukang potret wisuda temen sendiri. Kepedihan gua belum sampai di situ, gua juga bertemu dengan teman yang lain, dan kembali diminta untuk memotretnya. Sayangnya, dia adalah junior gua di kampus. Dia satu angkatan lebih muda.

Hati ini remuk redam.

Buat gua saat itu, acara wisuda yang memakai setelan hitam-hitam lebih mirip ke acara pemakaman. Ketika acara pemakaman, semua orang pasti sedih atas kepergian orang yang dicintai. Yang bisa mereka lakukan adalah mengikhlaskan dan mendoakan agar sang almarhum bisa bahagia di afterlife.

Begitu juga dengan gua saat itu, yang gua hanya bisa lakukan adalah mengucapkan selamat serta mendoakan agar teman-teman gua bisa sukses di dunia yang sebenarnya. Senyuman dan rasa bangga yang gua sematkan di tiap toga yang dikenakan teman-teman gua itu, selalu diikuti dengan rasa sedih setelahnya. Rasanya campur aduk, antara kapan gua menyusul mereka, dengan ketidakrelaan gua ditinggal teman-teman seperjuangan.

Di tengah-tengah euforia mereka, gua tertawa sambil menyembunyikan rasa sepi, penyesalan-penyesalan gua di hari kemarin seperti terputar kembali satu per satu. Kalimat, “Andai saja gua bisa kembali ke masa silam dan mengubah cerita.” – sebuah kalimat yang sungguh delusional, kembali muncul dan membuat gua terdiam sebentar.

=====

ARSITEK Gagal

Bokap gua adalah seseorang yang bekerja di bidang teknik. Karena di masa silam kakek gua tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan bokap gua di sekolah teknik, akhirnya kakek gua mendarat di sekolah STM. Sejak SD, gua sudah suka dengan yang namanya pelajaran MIPA terutama Fisika. Dan semenjak itulah, ketika masuk ke jenjang SMP, gua berniat mewujudkan keinginan terbesar bokap gua – dengan menjadi arsitek. Jika bokao gua saat itu nggak bisa menjadi arsitek, maka gua yang akan menggantikannya.

Setelah sukses merajai pelajaran fisika tiga tahun berturut-turut, dengan rambut tegak berdiri menantang, tatapan tegas, dan kepercayaan diri yang tiada cela, gual mantap melangkahkan kaki ke SNMPTN. Dan seperti yang sudah kalian duga, gua
bakal milih jurusan Fisipol.

Ya, nggaklah.

Gimana sih..

Ya, gua mantap untuk menuju fakultas teknik di salah satu dari tiga besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Di tahun itu, gua mengikuti 5 macam seringan masuk di PTN. Kalau tidak diterima di nomor satu PTN terbaik Indonesia, setidaknya gua masih bisa mendarat di nomor dua dan tiga.

Prinsip gua hanya satu, yaitu menjadi arsitek adalah harga mati. Lebih baik menjadi arsitek daripada menyerah pada kemunafikan. Gua tak mampu membayangkan bagaimana caranya menjalani masa muda tanpa sekolah di teknik sipil, pasti sangat menyedihkan sekali. Jika tidak diterima di teknik kemungkinan paling besar, gua hanya akan menjadi cowok ganteng pada umumnya.

Ini tidak boleh terjadi.

Tidak boleh..

Tiga dari lima saringan masuk yang gua ikuti sudah memberikan hasil. Ada yang diumumkan lewat harian pagi di koran, ada yang lewat situs universitas, dan ada yang langsung di-SMS ke hape peserta ujian. Kebetulan, hasil USM (Ujian Saringan Masuk) di univ A sudah keluar, kepastian gua diterima atau nggak diumumkan lewat SMS tepat pukul 7 pagi.

Setelah minum susu dan curcuma plus, gue beranikan membuka SMS yang masuk itu. Nomor di pesan itu terlihat sangat asing, seperti di-sms melalui komputer atau sistem, bukan nomor-nomor provider pada umumnya,

Gua klik pesan tersebut, degup jantung yang cepat mulai membahana di seisi ruangan kepala gua.

SELAMAT,

Sebuah kata yang sangat mengharukan, sebuah kata yang sangat tepat untuk menjawab sebuah pengharapan dan penantian.

Gua coba turunkan lagi pesan itu ke arah bawah untuk melihat isi keseluruhan SMS,

SELAMAT,

SELAMAT MENCOBA LAGI DI KESEMPATAN BERIKUTNYA,

JALAN MASIH PANJANG

JANGAN MENYERAH,

TERIMA KASIH TELAH MENGIKUTI USM UNIVERSITAS A.

Gua terdiam sebentar, tak lama kemudian gua terjerembab ke lantai. Menatap ke langit-langit kamar, bertanya-tanya di kepala, mengapa gua tidak terlahir dengan otak yang pandai.

Akhirnya, di pengumuman hasil ujian masuk universitas lainnya, gua juga ditolak masuk Fakultas Teknik. Nilai ujian gua nggak pernah nyentuh passing grade Fakultas Teknik di tiga besar PTN di Indonesia. Gua sadar, untuk bisa kuliah di teknik haruslah pintar. Tidak hanya sekedar pintar Biologi dan Fisika. Tapi juga harus pintar Matematika dan Kimia.

Teknik yang erat dengan basic Biologi dan Fisika, di mana dua bidang itu sangat gua kuasai, namun kenyataannya gua malah gagal karena kurangnya kemampuan gua di bidang Matematika dan Fisika. Jadi, gua nggak bisa jadi arsitek karena nggak jago Matematik dan Fisika. Walau gua gagal di ujian masuk, sampai sekarang gua masih percaya kalau gua akan sangat kompeten ketika sudah kuliah di sana.

Ini persis kayak nasib seorang lelaki yang mau bekerja keras, mau belajar untuk merancang masa depan yang mapan, namun ia ditolak dan dibuang oleh perempuan yang dicintainya karena satu hal: ia belum mapan di awal. Perempuan itu hanya ingin menerima lelaki itu dengan kesempurnaan sejak dari awal. Perempuan itu nggak menilai kemauan lelaki itu untuk bekerja keras membangun masa depan yang cerahh.

Persis kayak Fakultas Teknik yang membuang gua cuma karena gua nggak begitu jago Matematika dan Kimia. Fakultas Teknik nggak melihat kemampuan Biologi dan Fisika yang gua punya.

Akhirnya, sekarang gua kuliah di jurusan yang nggak gua suka, yang gua pilih sebagai pelarian. Kalau gua nggak bisa kuliah di Fakultas Teknik Universitas terbaik di Indonesia, gua akan milih jurusan lain. Yang penting masih di Universitas itu. Sekarang, gua sadar, keputusan gua salah besar.

Jangankan jadi Arsitrk, mengambil keputusan aja gua gagal..

=====

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengobati luka di hati ini. Sampai semester tiga, gua masih nggak rela kuliah di jurusan selain teknik. Tapi di sudut pandang yang lain, gua mengakui ketidakmampuan gua. Gua sadar dan menerima, sebab menerima adalah pekerjaan besar, karena harus berhadapan dengan ilmu tertinggi di  hidup ini,,,
Yaitu  Ikhlas.....






Mungkin benar, gagal hanyalah caraku menamai apa yang sesuai dengan kehendak-Nya, namun tak sesuai dengan kehendakku.