Minggu, 26 Maret 2017

Kehidupan (2)


"kelak kalo gua mau menguji kesabaran calon istri mau gua suruh dia internetan pakai indosat kalo dia ga treak kontol brati dia org yg tepat... Ya tepat utk menghadapi urusan biduk rumah tangga yg terjal" - danny


Menjadi manusia harus selalu belajar untuk mendewasakan akal dan pikiran seiring bertambahnya usia. Jangan sampai sikap kurang dewasa kita mempengaruhi kebahagian pernikahan.


Karena ketidakbahagiaan dalam pernikahan, efeknya tidak jauh beda dengan penyakit kronis: mematikan. Bedanya, yang satu kelihatan dan yang satunya tidak.

Ketidakbahagiaan dalam pernikahan bisa bersumber dari banyak hal. Namun secara garis besar bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Ketidakbahagiaan dari dalam diri sendiri

Sumber ketidakbahagiaan pernikahan yang berasal dari diri sendiri misalnya karena menikah dengan orang yang tidak dicintai & diri sendiri enggak ada usaha untuk belajar mencintai (jadi dari awal emang udah enggak sreg) atau bisa dari sikap diri sendiri yang pada dasarnya emang enggak pernah bersyukur sekalipun sudah memiliki & mendapatkan segalanya.

2. Ketidakbahagiaan yang berasal dari orang lain

Ketidakbahagiaan yang berasal dari luar diri sendiri bisa terjadi karena diri mendiamkan ketika dibully (bisa karena tidak berdaya atau yang lain) sehingga pihak ketiga pun bisa bebas semaunya. Suami suka main tangan, mertua dan ipar yang jahat, kedatangan pihak ketiga, anak yang tidak bisa diatur, adalah beberapa contoh di antaranya.

Dua penyebab di atas bisa berakibat fatal kalau dibiarkan. Bersikap seolah-olah kuat, sabar, & tabah bukanlah solusi karena pasti akan ada efeknya walau dalam bentuk tidak langsung.

Misal, seorang istri rela dan sabar diperlakukan kasar oleh suaminya. Sekilas sikap istri tersebut seolah bijak padahal ternyata ada efek negatifnya.

Atau, ketika mertua memiliki menantu laki-laki, dia berusaha menjadikan si menantu tersebut seperti dirinya dulu dan seolah enggak rela ketika menantunya bahagia bersama anaknya, ada saja hal yang diusik seperti membandingkan dengan keluarga yang lebih kaya dan lain sebagainya. Nah, bukankah ini juga tidak sehat? Bukankah banyak sekali yang semacam ini? Padahal si menantu pria enggak salah apa-apa. Dan kira-kira bagaimana perasaan orangtua si menantu pria ketika ayah mertuanya memiliki niat seperti itu walau tidak ia sadari.

Ketidakbahagiaan dalam pernikahan juga bisa membuat seseorang sangat tidak suka melihat orang lain bahagia. Seperti kata pepatah hurt people hurt people. Misal, berkata-kata pedas menyakitkan padahal orang lain enggak mengusik ketenangan hidupnya/enggak merebut suaminya:

 "Gitu aja dianterin, emang enggak bisa ya berangkat sendiri," padahal sejatinya dia ingin juga diperlakukan seperti itu.
"Kalau aku sih emang pekerja keras ya enggak suka nganggur. Bedalah sama kamu yang di rumah aja," padahal dia juga mau diperlakukan seperti itu.
"Kok gak hamil-hamil ya ntar suamimu nikah lagi lhoh," entah apa untungnya bilang begini. Kenapa bahagianya harus nunggu ketika perasaan orang lain hancur? Na'udzubillah.
"Kapan rumahmu kamu rehab, itu si A baru 2 tahun nikah sudah punya mobil dan rumahnya tingkatnya sudah mewah", nah bagaimana perasaan menantu laki-lakinya, padahal jika dibandingkan juga lebih banyak lelaki yang kurang beruntung dalam pekerjaanya.
"Suamimu mandul ya, kok kamu nggak hamil-hamil", padahal suaminya menyembunyikan masalah sulit hamil istrinya, karena rasa sayangnya.
Atau keusilan lainnya.

Jika mertua/orangtua sudah seperti ini, maka bisa dihitung detik-detik kehancuran rumah tangga anaknya.

Jika disimpulkan, ketidakbahagiaan dalam pernikahan bisa membuat seorang wanita/laki-laki menyakiti orang lain selain dirinya (ingin membuat orang lain menderita seperti dirinya) atau menyakiti diri sendiri (bunuh diri atau semacamnya).

Adakah wanita/laki-laki yang tidak bahagia dalam pernikahan tapi tidak seperti itu? Kenyataannya ada jika kita mau membuka mata, sangat banyak sekali perpecahan rumah tangga hanya karena campur tangan orangtua.

Jika kita sudah tahu bahwa efek ketidakbahagiaan dalam pernikahan ini sifatnya domino banget, semoga kita memiliki usaha untuk membuat pernikahan kita bahagia sesuai dengan kondisi masing-masing. Peradaban besar dimulai dari keluarga. Yang itu artinya untuk membentuk peradaban terbaikk dibutuhkan keluarga-keluarga yang sehat mental dan jiwanya, tidak hanya penampakan fisik saja yang mentereng. Semoga kita bisa mewujudkannya demi dunia yang lebih damai. Aamiin sodara - sodara ??

Selasa, 07 Maret 2017

Logika ....

Tiga Standar Ganda Terbaik

Pernah nggak kamu mendukung sesuatu, namun kalau sesuatu itu diaplikasikan ke kamu, hati kecilmu seperti berkata lain? Kamu jadi nggak dukung sesuatu itu lagi.

Contoh simpelnya, kamu menghujat LBGT, kamu menghunus agama layaknya pedang untuk menebas leher para LBGT yang berkeliaran di kampus-kampus, meneriaki LBGT itu penyakit yang harus dibasmi. Tapi kalau papasan sama Bunda Dorce, kamu salim, atau mungkin cium kening.

Atau, kamu mendukung LBGT, tapi begitu dagumu dijawil sama cowok ngondek, kamu mengurung diri di dalam kamar satu semester dan merasa bahwa dagumu sudah tidak memiliki kesucian lagi.

Kamu berdiri di dua kaki, namun masing-masing kaki berpijak di tempat yang berlawanan.

Kamu bermain dua kaki, kamu secara nggak sengaja menerapakan standar ganda pada pandanganmu terhadap sesuatu.

Sebagai anak muda belia yang hidup di belantara ibu kota, penuh macet, dan dipenuhi remaja yang pacaran beda agama (iya-iya, gue tau ini nggak nyambung tapi yasudah sih) gue pun menyadari hal ini. Sebijak-bijaknya manusia, pasti ada flaw -nya juga. Semantap-mantapnya gue berdiri dengan dua kaki, pasti ada sesekali kaki gue berpijak di hal yang berlawanan.

Iya, gue masih punya standar ganda, gue masih punya logical fallacy atas banyak hal.

Lewat tulisan yang gue buat dengan kemampuan seadanya ini, ijinkan gue untuk menjelaskan standar ganda yang mungkin dialami setiap lelaki.

Oh, nggak semua lelaki, ya?

Gue doang, ya?

Ini pasti bohong! Kalian semua telah berdusta padaku!

=======

1) Merokok dan Gemerlap Dunia Malam

Gue adalah cowok yang kayak gini. Tapi dulu. Buat gue, gapapa nggak punya pacar, yang penting bisa ngerokok dan dugem. Gue sangat senang bergaul dengan cewek-cewek di gemerlap malam.

Cewek-cewek dugem, atau yang lebih akrab disapa cewek 3B: belah tengah, behelan, dan blek mentolan, adalah tipe cewek yang gue idolai. Buat gue, mereka adalah tipe cewek yang sangat open minded. Enak banget ngobrol sama mereka, nggak ada GAP apapun. Teori-teori tentang cinta yang gue miliki banyak terinspirasi dari mereka.

Nah itu cuma sebelah kaki gue berpijak. Pada akhirnya, gue nggak mendukung sepenuhnya. Sebelah kaki gue berpijak di tempat yang berbeda. Gue adalah lelaki yang sangat mengidolai ibu. Gue pengin punya pacar atau bahkan istri yang mirip dengan ibu gue. Dan itu sangat berbeda dengan para cewek cantik yang merokok dan suka mabok ini.

Gue sangat mendukung cewek untuk ngerokok, mabuk, dugem, dll, namun sebagai teman. Tidak untuk pacar ataupun sebagai istri. Itulah kenapa gue nggak pernah langgeng kalau pacaran sama cewek yang merokok dan besar di tempat dugem.

Pernah waktu itu gue megang tangan mantan, terus bilang, "Kamu abis bangun rumah ya?"

Dia cuma mengernyitkan dahi, mungkin dia ngira mau digombalin. "Hah, kenapa emangnya?" Tanyanya.

"Tangan kamu baunya kayak kuli yang lagi istirahat terus ngerokok sambil minum kupi, bau aspal."

Abis itu, dia nggak mau megang tangan gue lagi. Iya, mantan gue itu rokoknya Jarum super.

Gue nggak rela ngeliat pacar gue ngerokok. Mungkin, karena gue udah nggak ngerokok.

Gue nggak jahat kan, ya?

2) Virginity

Ini juga menjadi kasus mainstream di kalangan para lelaki. Gue juga bingung dengan para lelaki ini, mereka kepengin punya istri yang perawan, tapi pas pacaran maunya merawanin.

Jujur, masalah keperawanan ini sebenarnya, buat gue, nggak penting banget. Cuma karena ada atau nggaknya selaput tipis aja, cewek udah bisa di-judge masih berharga atau nggak. Asli, ini stereotype yang jahat banget.

Padahal, buat lelaki, dapetin cewek perawan itu cuma sebatas memuaskan ego batiniah atau pride semata. Lelaki kayak abis menang  pertandingan lalu ngangkat trophy gitu.

Ini terjadi juga ke temen gue yang punya cewek, yang bekgrondnya, mohon maaf, pernah dipakai banyak cowok. Gue berulang kali menasehati bahwa itu cuma masa lalunya. "Sebenarnya di situlah tugas lo sob, lo harus bisa menerima semua masa lalunya, dan menjadi masa depan yang cerah untuknya." Kata gue ke Acong, temen gue yang IPK-nya 1,9 itu.

Nah, sialnya, kaki sebelah gue belum berpijak di pandangan yang sama. Entah karena ilmu sekuler gue yang belum seberapa, atau guenya yang belum seratus persen dewasa, gue juga merasakan apa yang dirasakan Acong.

Gue pernah juga punya pacar kayak gini. Bekas anak dugem. Dia gue selamatkan dari dunia tersebut. Padahal sih, emang guenya aja yang nggak punya duit lagi buat bayarin pacar untuk dugem.

Setiap ada mantannya yang berusaha untuk mendekatinya kembali, gue selalu sedih. Gue selalu kebayang ketika dulu, ketika banyak tangan para lelaki singgah dan bermain di tubuh pacar gue.

Kadang, gue masih nggak rela.

Suatu kondisi yang anjingbanget buat gue. Di satu sisi gue harus jadi dewasa dan berkata, "Gapapa, itu cuma masa lalu kamu kan, cintaku ke kamu adalah tetap, selalu, dan akan." Namun, di satu sisi lagi, "Lah anjing, murahan amat lo jadi cewek!"

Di bungkus gue yang nampak bajingan ini, gue masih menyimpan sisi anak kecil yang merindukan sosok perempuan yang belum dijamah banyak tangan lelaki. Walau gue sadar, perempuan yang gue cari, nyaris hampir nggak ada.

Gue nggak jahat kan, ya?

3) Seagama atau Tidak

Kalau kamu merasa bahwa hidup ini perjalanan dari ketidakberuntungan satu ke ketidakberuntungan lainnya, mungkin akan gue iyakan.

Dari sekian banyak cewek yang seagama, kenapa yang tertarik sama gue yang nggak seagama, ya?

No luck for me..

Apakah, ini disebut kesialan?

Nah, sebelah kaki gue, seperti yang kamu sudah tau, tentu akan sangat mendukung pacaran beda agama. Gue nggak peduli sama agamanya, yang gue tau, gue cinta. Buat gue, mencintai umat beragama adalah lakum dinukum waliyadin yang gue terapkan. Sebuah harga mati.

Ya udah, gue cintai deh yang nggak seagama.

Ternyata, penerapannya nggak semudah itu. Gue nggak nyangka bakal diusir. Gue juga nggak nyangka kalau endingnya dia bilang, "Sayang, papa aku nanya, kamu kapan pindah agama?"

Bahkan, belum pacaran nih, baru nembak aja gue udah kena ospek dari beda agama.

Malam itu gue beranikan diri untuk ungkapkan perasaan, "Aya, kita udah cocok banget kan, kamu ngerasain apa yang aku rasain kan?" Tanya gue sambil memegang tangannya.

"Emang apa sih yang kamu rasain, Don?" Tanyannya kembali.

"Setiap menatapmu, aku menemukan jalan pulang.." Jawab gue, pelan.

"Aww.." Balas Aya sambil menggigit bibirnya.

"Ja-jadi, mau kan jadi pacarku?" Tanya gue kembali.

"Iyah, Downy, kamu ganteng deh kalo ngomongnya pelan gitu." Jawab Aya sambil tersipu-sipu.

Belum selesai, hati gue berteriak "WOOOHH ANJINGGG AKHIRNYA ILANG JOMLO GUEEEEEH!! KENISTAAN DI HIDUP INI TELAH SIRNA!!!! THANKS GOD!!!"

Tiba-tiba Aya memotong,

"Eh tunggu, tapi kamu nanti bakal pindah agama kan?"

Satu kafe hening.

"A-apa, Ya? Gi-gimana?"

"Iya, kamu tapi bakal pindah agama kan?" Tanyanya lagi.

"Ngg, yaudah kita jalanin dulu aja, Sayang.." Jawab gue sekenanya.

"Oh, yaudah, kalo gitu gajadi."

LAH ANJING, NEMBAKNYA HARI INI, DITERIMANYA HARI INI, EH DI-CANCELNYA JUGA HARI INI.

Bayangin, dia udah bilang iya, terus tiba-tiba di-cancel.

Anjing.

Di sinilah sebelah kaki gue yang lain berpijak. Di indonesia, pacaran beda agama 90% tidak bermasa depan. Ketika gue sangat mendukung remaja yang pacaran beda agama, di sebelah sisi lain gue juga sangat menyayangkan.

Karena 90% pasti putus. Dan yang paling sedihnya, ketika kamu udah kasih semuanya, tapi kamu tetap nggak bisa bersatu denganya. Taruhannya berat: pindah agama, atau putus.

Tiga standar ganda terbaik, yang pernah gue miliki..

Jumat, 03 Maret 2017

Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah

Beberapa minggu ini gua jadi sering ketemu dengan kalimat yang sebenarnya multitafsir, dan nggak gua suka. Kalimat ini sering gua temukan dalam bentuk percakapan orang-orang maupun dalam bentuk curhatan org. Kalimatnya, menurut gua, udah semacam ideologi atau prinsip gitu. Kalimatnya kayak gini,

“Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah.”

Atau, “Lebih baik menunggu orang yang tepat daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah.”

Nggak ada yang salah kan?

Oh tentu, tentu saja nggak salah, lha wong  gua udah sering baca nya di medsos. setidaknya, kalimat itu diamini banyak orang. Ada banyak orang yang setuju dengan kalimat itu.

Gua juga meyakini bahwa tidak ada yang salah ketika membahas semua hal tentang cinta. Sebab cinta, menurut gua, adalah semacam argumen dan nggak pernah ada teori yang saklek tentang cinta. Toh, teori-teori yang dikeluarkan para pakar cinta di seminar-seminar yang mereka adakan, gak selalu diiyakan orang-orang. Nggak semua cewek bakal takluk dengan teori A, nggak semua cowok bisa melakukan teori A dan sebaliknya. Intinya ya argumen, selama bisa mempertahankan argumen itu, ya bisa dianggap benar. Ada yang setuju, ada yang nggak setuju, dan ada yang bilang sok tau. Semua bebas berpendapat.

Oke, kembali ke kalimat “Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah.”


PERTAMA.

Pertanyaan sederhana gua yang pertama adalah, “Kita ini bisa berhasil pada berapa kali percobaan, sih?” Dan tentu aja sangat mudah untuk dijawab dengan, nggak tau. Ya jelas nggak ada yang tau pasti seseorang bakal sukses atau berhasil lewat berapa kali percobaan. 

Begitu juga urusan cinta.

Siapa yang langsung tau siapa cinta sejati kita di hidup ini? Siapa yang bisa langsung menemukan orang yang tepat di sekali kesempatan? Siapa cowok yang bisa langsung dapet cewek di sekali sepikan? Nggak ada yang tau. Ada yang langsung berhasil menemukan di sekali pacaran, ada yang dua kali, ada yang berkali-kali. Bahkan yang udah menikah aja masih ada yang merasa bahwa suami atau istrinya sebenarnya bukan cinta sejati, bukan orang yang tepat.

Kalimat “lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah”, dan “Lebih baik menunggu orang yang tepat daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah”  di mata gua adalah kalimat pemalas, kalimat yang nggak mau susah, kalimat yang egois. Ketika di luar sana ada banyak orang harus berkali-kali jatuh bangun untuk menemukan seseorang yang tepat di hatinya, lha kalimat bercetak miring di atas kemudian datang seolah-olah tidak ingin merasakan gagalnya jatuh cinta. Nggak fair.

Buat gua, orang yang nggak mau gagal dalam sesuatu dan hanya maunya sukses, nggak layak mendapat kesuksesan. Padahal, kata orang-orang bijak jaman dulu, kini, hingga yang akan datang, gagal adalah kesuksesan yang buffering #tsaah gayaak lo dan. Kalau mau sabar dan perbaiki koneksi, ya bisa lancar lagi. Atau terinspirasi dari mbah Agus Hadi Sujiwo atau yang akrab dipanggil Sujiwotejo, “Gagal hanyalah sesuatu yang berjalan tidak sesuai keinginanmu, namun sesuai dengan kehendak-Nya.”

Begitu juga soal cinta, bagaimana cara menuju bahagia jika hanya mau mencari baiknya namun tidak mau menerima buruknya? Padahal, di depan cinta, baik dengan buruk cuma sedekat jantung dengan detaknya. Nah loh... Wekekekekek penggalauan 


KEDUA.

Pertanyaan kedua gua yang tak kalah sederhana adalah, “Mengapa kita bisa berkata bahwa orang yang sedang bersama kita adalah orang yang salah atau tidak tepat?” Apa karena dia melakukan perbuatan yang melukai hati kita? Seperti selingkuh, misalnya? Apa karena dia adalah orang yang egois? Apa karena dia bukan orang yang membuat nyaman? Apa karena dia bukan dari keluarga yang mapan? Apa karena dia  pacar orang? Apa karena dia nggak bisa lupain mantannya? Apa karena dia nggak mau bayarin SPP dan nggak mau bayarin tagihan kartu kredit seperti apa yang biasa dilakukan om-om kepada cewek-cewek sosialita simpenannya?

Jadi, apa karena itu dia dianggap salah dan tidak tepat?

Orang yang salah” di sini benar-benar multitafsir dan rawan disalahartikan. Kenapa nggak pernah ada kalimat, “Lebih baik kamu sendiri daripada bersama aku yang salah”? Apakah manusia adalah hakim yang adil untuk diri sendiri, namun tidak kepada orang lain? Apakah kesalahan dalam suatu hubungan selalu mutlak berada pada orang lain, bukan berasal dari diri sendiri? #Duarr!!!

Jika ada dua orang yang berpacaran dan esok masing-masing dari mereka beranggapan, “Lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah”, berarti dua orang tersebut saling menyalahkan satu sama lain. Mereka berdua berpendapat bahwa orang yang tengah mereka pacari adalah orang yang salah.

Tapi tidak satupun dari mereka yang merasa bahwa dirinyalah yang salah.

Iya kalau dia adalah orang yang salah, kalau bukan?

Kalau ternyata dia adalah orang yang benar dan tepat, tapi cara kita melihatnya yang selalu salah, gimana? Hayoooo loh


=====

Gua jadi teringat dengan cerita seorang lelaki yang berdoa pada Tuhannya tentang perempuan yang tepat. Lelaki itu selalu berbincang pada Tuhan tentang perempuan yang diinginkannya, di sela-sela percakapannya, ia selalu meminta agar Tuhan mengabulkan doanya.

Tidak lama kemudian, lelaki itu merajut cinta dengan seorang perempuan yang berbeda kota. Sang perempuan menerima lelaki itu dengan segala kondisinya, dan dengan segala jarak yang merentang di tengah-tengah mereka.

Lelaki itu merasa kesepian, kadang ia sering merasa jauh dengan kekasihnya. Ia seperti harus membayar mahal kepada jarak untuk cinta yang kata orang-orang happens effortly. Lantas lelaki itu kembali berbincang dengan Tuhan, ia bertanya apakah perempuan yang tepat untuknya harus berada jauh di luar jangkauannya. Namun Tuhan tak menjawab, Tuhan hanya diam dan tersenyum.

Beberapa minggu kemudian, lelaki itu bertemu dengan seorang perempuan lain yang mirip kekasihnya. Lelaki itu melihat wajah kekasihnya yang jauh di sana sedang tersenyum kepadanya lewat perempuan itu. Perempuan itu putih mulus dan lebih seksi dari kekasihnya yang jauh di sana. Lelaki itu sempat beranggapan bahwa cinta adalah ketika kuat ia rasakan bibir kekasihnya di bibir kekasih orang lain. Lelaki itu menemukan seseorang yang mampu mengisi kekosongan ruang yang jarak jauh telah ciptakan. Tak butuh waktu lama untuk membuat seseorang berpaling. Kali pertama lelaki itu menatap perempuan lain layaknya ia menatap kekasihnya, sebenarnya ia telah berpaling.

Setelah tidak menjalin asmara dengan perempuan yang jauh di sana, lelaki itu mantap menjalani hari bersama perempuan baru yang ia temui dan jatuh cintai pada pandangan pertama itu. Hubungan mereka berdua tampak bahagia seperti pasangan yang baru mendapat mobil dari kuis super deal dua milyar. Semua baik-baik saja sampai akhirnya batu kerikil dan jalan berlubang mewarnai perjalanan mereka. Biduk rumah tangga pacaran mereka seperti membuka tirai di kuis super deal dua milyar, terus isinya zonk. Uya Kuya ketawa puas.

Perempuan yang dicintainya mulai menunjukkan sifat asli yang awalnya tidak diketahui olehnya. Ya, mabuk-mabukkan. Hidup di hingar-bingar dunia malam. Sering pulang pagi, dan akrab dengan hangover. Melihat kelakuan kekasihnya yang selalu mabuk-mabukkan diam-diam, lelaki itu tentu berang. Entah sudah berapa tangan lelaki hinggap di paha mulus kekasihnya itu yang suka berpakain seksi dan ketat, pikirnya. Masalah pun berlarut-larut, lelaki itu kecewa pada perempuannya. Dan ia pun kembali berbincang pada Tuhan tentang kekasihnya yang dianggapnya mudharat itu. Ia kembali bertanya pada Tuhan apakah perempuan yang tepat baginya adalah perempuan yang tiap hari pulang pagi dan tubuhnya dihinggapi banyak tangan lelaki. Namun Tuhan tak menjawab. Tuhan hanya kembali diam dan tersenyum.

Di sela karut-marut dan kalut hatinya, lelaki itu dipertemukan dengan seorang gadis yang kebetulan berpapasan di kampus Hukum UN***. Entah apa yang membawa lelaki itu berkunjung ke kampus Hukum, tapi nyatanya ia berpapasan dengan perempuan yang teduh sekali senyumnya. Tubuh mereka berjalan ke arah yang berbeda, namun tatapan mereka searah. “Mungkin inilah jawaban Tuhan untukku.” bisik lelaki itu dalam hati.

Mereka berdua kembali dipertemukan dalam seminar yang diadakan di kampus perempuan itu. Seminar nasional tentang Kedaulatan Negara. “Persetan dengan tema seminarnya, yang penting hatiku dengan hatinya harus segera berdaulat.” Bisik lelaki itu kepada hati kecilnya. Perempuan itu berbeda sekali dengan kekasihnya yang dianggap mudharat itu. Senyumnya teduh, bicaranya sopan, dan tak kalah seksi pula. Beberapa minggu kemudian, mereka memutuskan untuk melangkahkan kaki bersama. “Aku kaki kirimu, engkau kaki kananku.” Bisik lelaki itu tepat di telinga kekasih barunya. Perempuan itu tersipu malu.

Lelaki itu bahagia sekali, kekurangan-kekurangan mantannya di masa lalu, dipenuhi oleh kekasihnya sekarang. Dekat di hati, bukan perempuan yang hidup di hingar-bingar malam, dan hebatnya menerima apapun kondisi si lelaki itu. “Terimakasih Tuhan, kau menjawab doaku, dialah perempuan yang benar dan tepat untukku!” Teriak lelaki itu keras-keras di dalam hati.

Belum lama lelaki itu mengucap terimakasih kepada Tuhan akan kehadiran kekasih barunya, lelaki itu kembali diguncang prahara. Sang perempuan tau jika orang tuanya tak satu pemikiran, maka ia tak pernah memberitahu sosok lelakinya kepada orang tuanya. Namun, sepandai-pandainya menutupi bau badan dengan deodorant, jika jarang mandi, kelak akan tercium juga aroma kelek sopir taksinya. Akhirnya, perbedaan pemikiran tersebut tercium juga. Orang tua sang perempuan berang.

Lelaki itu galau, hatinya hacep bor. Lelaki itu pun langsung berlari dan mengetuk pintu di mana Tuhan bertempat tinggal, ya hatinya. Ia bertanya, harus di mana ia menemukan perempuan yang tepat? Apakah ia lebih baik sendiri daripada bersama orang yang salah? 

“Tuhan hadirkan aku perempuan yang tepat, aku suduh cukup menghadapi perempuan yang salah..” Pinta lelaki itu.

“Aku sudah menghadirkanmu tiga perempuan yang tepat, dan semuanya kau anggap salah?” Tuhan tidak lagi diam, Ia kini menjawab.

Lelaki itu menahan rasa herannya.

“Aku hadirkan perempuan yang tepat namun jauh darimu agar kau belajar bagaimana mengelola rasa rindu, agar kau tahu bahwa sesungguhnya jarak tidak diukur oleh satuan kilometer, melainkan satuan kepercayaan.”

Lelaki itu diam.

“Namun kau anggap bahwa perempuan itu kurang tepat, maka aku hadirkan perempuan yang dekat denganmu, yang akan mencintaimu dengan terlalu namun ia memiliki sifat yang kau benci. Kubuat ia seperti itu agar kau tahu cara memaafkan seseorang. Untuk melihat seberapa hebat kau mencintai perempuan itu, jika kau cinta, maka kau akan bawa ia pada perubahan yang lebih baik, pada jalan yang lebih baik. Namun kau anggap perempuan itu salah, tidak tepat. Kau tinggalkan ia yang menaruh harapan besar padamu.” Jawab Tuhan kembali.

Lelaki itu menelan bulat-bulat rasa bersalahnya.

“Dan telah juga kau kupertemukan dengan perempuan yang baik hatinya, yang ketika kau lihat senyumnya akan kau temukan Aku di sana. Namun kubuat pihaknya berbeda denganmu dan kubuat kau berbeda dengannya, agar kau tahu apa itu perbedaan. Agar kau belajar bahwa cinta yang aku ajarkan ke dunia akan selalu mampu menyatukan perbedaan. Akan selalu. Namun kau berhenti berjuang, kau terlalu takut menghadapi perbedaan, dan apa yang membuatmu takut tidaklah dapat kausebut cinta. Sebab, cinta yang kuberi hanya akan menguatkanmu, bukan sebalikya.” Tuhan kembali melanjutkan.

Lelaki itu terjatuh dan ia sadar, bahwa ia sebenarnya telah salah.

“Sayang, tak akan cukup jika hidupmu digunakan untuk selalu mencari yang tepat. Sebab yang tepat berada di dalam dirimu sendiri, di dalam cara berpikirmu, di dalam sudut pandangmu.” Tuhan kembali menambahkan.

“Lalu bagaimana cara untuk bisa bertemu dengan orang yang tepat, Tuhan?

Tuhan hanya tersenyum.

Lelaki itu akhirnya sadar, bahwa seseorang yang tepat tidaklah datang begitu saja, tidak sekadar menunggu yang tepat saja, mungkin seseorang yang tepat adalah seseorang yang awalnya dianggap salah, seseorang yang awalnya diragukan, namun seiring kematangan berpikir dan berproses, kelak bisa menjadi orang yang tepat.

Atau sesuai dengan kalimat yang akrab di telinga kita, “Daripada cuma menunggu orang yang tepat, lebih baik memperbaiki diri untuk menjadi orang yang tepat.”


You are the anwer that i never questioned.



Jadi, yakin lebih baik sendiri dan menunggu yang tepat daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah?

Nggak mau introspeksi lagi?



Oh iya, lelaki di atas adalah, gue....

Danny kelahiran 9 Februari .. 



Perbincangan dengan Tuhan pada cerita di atas hanyalah perumpamaan belaka, tidak ada maksud untuk sok tau ataupun menjelek-jelekkan, dan berasal dari nasihat org terdekat

Kamis, 02 Maret 2017

Namanya juga idup ....

Kehidupan

keluh kesah itu rata-rata sama. Nggak jauh-jauh dari sikluspedekate-ngajakjalan-nembak-pacaran-putus-ngajakbalikan-dan-begitu-terus-sampai-kiamat.

Sebenarnya, nggak ada yg salah keluhan kayak siklus kampret di atas. Yang jadi kesalahan adalah: klo nanya ke gua. Otomatis, gua pun jarang nggak pernah kasih solusi. Bukannya mencerahkan, gua malah memperkeruh kegalauan mereka.

Tapi belakangan, rentetan keberhasilankegagalan gue dalam mengarungi kejamnya dunia pedekate-ngajakjalan-nembak-pacaran-putus-ngajakbalikan-dan-begitu-terus-sampai-kiamat, membuat gua lebih peka terhadap banyak hal. Terutama kode-kodeThey were right, men are from mars, women are from venus, orang di planet Mars nggak pernah ngerti kode-kode kampret orang di planet Venus.

Kegagalan datang nggak dengan tangan kosong, dia datang membawa jam terbang. Iya, jam terbang. Di kesempatan ini, gua nggak bermaksud tipsy atau menggurui, gua cuma mau berbagi cerita berdasarkan pengalaman kelam di masa silam

Semoga tidak menginspirasi.

Berjuta-juta orang udah ngebahas ini di mana-mana, pasti setiap hari ada aja yang ngebahas tentang hal yang satu ini.

Gua harus jawab apa?

Nggak ada kata salah dan benar untuk urusan cinta. Jadi nggak ada paham saklek untuk memulai jatuh cinta. Ngedeketin cewek orang aja bisa dianggap benar kok. Contohnya, ketika ngedeketin cewek yang suka disakitin cowoknya, kamu datang di sana untuk menyelamatkan. Di primbon playboy, ini disebutmenikung dengan tujuan menyelamatkan. Gayak lo daneeeeeh

Satu-satunya jalan paling benar adalah dengan memulai pembicaraan dengannya. Bisa ngajak dia ketemuan, atau kalau belum berani, bisa mulai via chatting. Belum selesai gua bercerita, mereka-mereka ini langsung melontarkan pertanyaan lagi.

“Gua mesti ngomong apa aja ke dia?”

Piye? Aku mesti njawab apa, Cuk?

Oke, tehnik paling sederhana yang paling sering gue pakai untuk memulainya adalah tehnik FORM.

FORM itu apa ya?

FORM itu singkatan dari Familly, Occupatiom, Recreation, and Message. Inget, yang terakhir itu Message. Bukan Massage.

Bingung mau ngajak ngomong apa?

Nah, coba tanyain family-nya. Contohnya:“Kamu asli mana?” “Kamu ngekos di mana?”“Kamu punya saudara kembar ya, kok mirip sama mantan aku?” “Kamu punya anjing ya?”(anggap aja anjing adalah salah satu keluarganya). Dan masih banyak lagi.

Setelah kelar ngepoin family-nya, coba masukin topik recreation atau hobi. Ajak ngobrolin hobinya. Menurut ilmu psikologi, orang itu paling suka kalau ditanyain tentang hal yang dia suka. Kalau dia cewek clubbing,udah jelas jangan ajak dia ngomongin tentang sembahyang mengaji. Bukannya dia nggak suka sembahyang mengaji, tapi saat itu cuma Si Doel yang kerjaanya sembahyang mengaji. Coba ajak ngomong tentang minuman. Seperti wedang jahe, bajigur, atau STMJ. Kalau dia cowok gamer, coba ajak ngomong tentang permainan yang dia suka. Gua yakin, dia bakal panjang lebar ngomongin game kesukaannya. Intinya, tanya hal kesukaannya dia, dan gali terus di sana. Biarkan dia menceritakan semuanya ke kamu. 

Be a great listener.

Udah puas ngomongin hal kesukaannya, coba masuk di occupation atau kerjaan, atau minimal kesibukannya. Setelah ngomongin hal yang disuka, pada topik pekerjaan, dia kemungkinan akan bercerita tentang keluh kesahnya. Pengalaman gua, jangan tergoda untuk memberi solusi, dengerin aja sambil manggut-manggut pertanda menyimak keluhannya.

Tak terasa obrolan ringan di depan indomaret berlanjut ke obrolan di kamar kosan. Ah bukan. Bukan itu. Tak terasa obrolan ringan itu berlangsung berjam-jam lamanya. Nah, di sinilah sesi Message dibutuhkan. Bukan, bukanMassage. Ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Abis ngajak ngobrol terus minta dipijet? Tidak tahu diri sekali kamu. Message di sini adalah meninggalkan pesan. Ini contoh sederhana yang paling sering gua pakai saat menyudahi obrolan dengan cewek embem: “Eh, bentar lagi aku ada kuliah, kayaknya kita bakal ketemu lagi besok, kamu bisa save nomor aku. Miskol ya.”

Dapet deh nomor telfonnya...
Urusan selanjutnya terserah anda ...

Tapi ini nggak harus nomor telfon. Bisa pin BB, skype, atau yang lain. Kalau Line, Kakao, Wechat, Watsap, dll itu mudah. Jaman sekarang, orang udah dengan sendirinya memberi tau alamat chatting mereka di profil FB dan twitter. Buuuuuh..

Kemungkinan dapat nomer telfon dia, ditentukan dari seberapa hebat kamu melakukan ice-breaking di awal dengan topik family, occupation, dan recreation. Semakin seru dan enak jalan obrolan, kemungkinan berhasil dalam meninggalkan pesan akan semakin besar. Oh iya, gua juga belajar bahwa saat ngobrol, usahakan jangan tergoda untuk menceritakan diri sendiri, buatlah lawan bicara yang menceritakan semua tentang dirinya.

Dulu, hal kecil di atas adalah hal yang paling besar gua sepelekan.

Udah dapet nomor telfonnya, udah sering BBM-an, udah sering telfon-telfonan, kemungkinan besar hubungan yang sedang dibangun tersebut akan berakhir di kamar kosan. Ah bukan. Bukan itu. ....

Hubungan akan menuju pada stepngajak jalan. Yang paling berharap besar pada hubungan itu pasti yang akan berinisiatif ngajak jalan. Kalau cewek, bisa ngajak lewat telfon dengan cara seperti ini: “Eh, aku besok mau nyari buku di Gramed, kamu nggak mau temenin aku?” tentunya keberhasilan juga ditentukan dari desahan. Semakin mendesah, cowok akan semakin tidak punya pilihan selain, iya.

Oke, gua becanda lagi ...

Pada awal-awal membangun hubungan, mayoritas step ngajak jalan akan dilakukan oleh cowok. Mungkin cowok punya nafsu lebih untuk urusan yang satu ini. Oke, urusan di kamar kosan juga. Oke-oke, untuk banyak urusan, cowok memang lebih bernafsu. Yang cewek, ati-ati aja.

Lah, sampai di mana tadi?

Kembali lagi ke masa lalu, gua ini adalah tipikal cowok glory hunter. Gua mengejar cewek seperti Cheetah yang mengejar Impala. Niat abis. Nggak berhenti sampai Impala berhasil diterkam. Makanya, cara gua ngajak jalan itu sering barbar atau lebih tepatnya cara “mbuh piye carane dek’e kudu jalan karo aku”

Yang paling kampret, gua pernah nelfon ngajak jalan seorang cewek tepat di depan pagar kosannya. Ketika ditelfon dia mengelak lagi di luar sama temennya, otomatis gua nggak bisa ditipu. Ya karena gua tau dia ada di dalem. Mau nggak mau akhirnya dia keluar nemuin gua dengan rasa malu.

Kampret kan? Hahahahahahahahahahaps

Sekali lagi, belajar dari kegagalan, dulu gua selalu ngajak jalan dengan kesan “memohon”. Seperti misalnya di telfon, “Eh, malem nanti kamu ada acara nggak?” dan tentu aja bakal mudah dijawab, “Oh, ada.”  Atau seperti, “Eh, kemarin kan kamu janji jalan sama aku, nanti aku jemput ya?”

Akhirnya gua tau, kalau ini bukan cara yang elegan. Gue kehilangan postur di sini.

Gua memutuskan untuk belajar dari teman lain. Ya, dari telemarketer! Itu tuh, yang suka nawarin asuransi atau langganan internet lewat telfon. Jangan salah, mereka bisa ngejual barang cuma lewat telfon dan orang bisa percaya !? Itu keren! Makanya, setiap ditelfon telemarketer yang nawarin asuransi, internet, atau produk lain, gua selalu pelajari kalimat-kalimat yang mereka ucapkan.

Intinya, bukalah sebuah ajakan dengan memberi peluang atau tawaran. Bukan dengan memohon. Percaya nggak percaya, itu naikinpostur gua saat ngajak jalan.

Awalnya agak ragu, tapi jika melihat status jomblo gua yang mulai berkarat, gua beranikan diri untuk mencoba tehnik baru ini. Berikut adalah contoh yang sering gua praktekin lewat telfon:

“Eh, kebetulan aku punya 2 tiket nonton, dan kayaknya kamu adalah orang yang tepat untuk tiket ini.”

“Kita baru bertemu, dan aku tau ini gila, tapi seneng bisa ngobrol sama kamu, aku pengin ngobrol-ngobrol lagi sama kamu di kafe ini. Dan aku juga tau kalau kamu punya waktu.”

“Kebetulan aku mampir di daerah sini, kita kayaknya bisa ketemu di situ deh.”

“Kamu lagi senggang kan? Nah, aku juga. Kalau kesenggangan di antara kita digabungin, itu bisa jadi kesibukan baru loh.”

Kampret nggak? 
Apa ? Norak ?! Oh yaudah deh ...

Gua orang yang nggak nyerah dengan segala keterbatasan. Yang penting maju dulu. Karena aksi punya pacar yang niat ini juga, salah satu temen gua, anak otomotif,  bikin kalimat ini.

“Mesin boleh standar, tapi cara bawanya tetep moto jipi.”

Mungkin, tampang boleh standar, tapi cara ngajak jalan nggak standar.

Entahlah.

Tapi sekali lagi, cara-cara ini nggak akan langsung berhasil. Ingat lagi kalimat di awal-awal postingan ini. Nggak ada cara yang saklek buat mengawali semua ini. Kembali pada diri masing-masing. Saat itu, gua gagal di mana-mana. Gua belajar bahwa ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menaikkan intesitas kegantengan.

Setelah banyak kencan dilalui, setelah getaran di hati kian bergejolak, mungkin inikah saat yang tepat untuk nembak?

Nggak.

Nggak tau, maksudnya.

Pertanyaan paling tidak ingin dijawab adalah, “Kapan waktu yang tepat untuk mengutarakan rasa?” Satu-satunya orang yang bisa menjawabnya adalah orang yang tengah menjalin cinta itu sendiri. Kalau dari pengalaman temen-temen gue, katanya sih, nembak itu harus menciptakan momen. Momen saat lagi manis-manisnya, saat lagi ketawa-ketawanya, saat lagi intensnya percakapan di telfon, dan saat dia sudah tak ragu lagi nginep di kamar kosan kamu.

Yang terakhir, tolong diabaikan.

Lalu kenapa nggak pakai pengalaman gua?

Semenjak sering ditolak, gua udah dari lama nggak nembak. Buat gua, mengutarakan rasa lewat “Aku sayang kamu, kamu mau kan jadi pacarku?” sekali lagi menurunkan postur. Di sini gua sebagai pihak yang memohon. Harusnya kalau udah sama-sama cinta, nggak ada lagi yang harus saling memohon untuk dicintai.

Beberapa momen terakhir, cara gua mengutarakan rasa udah seperti pihak yang menawarkan kerja sama.

Salah satunya ini. 

Waktu itu hari Jumat, seperti biasa gua udah nongkrong di depan kosannya buat nungguin dia kelar dandan. Hari itu kami sepakat nonton di bioskop. Kami menonton film boneka beruang yang hidup karena wish anak kecil – TED. Sesampainya di mall tersebut, gua reflek ngegandeng tangannya. Dia cuma bisa menatap gua sembari sedikit melihat apa yang tengah terjadi di antara tangan kami.

Gua tau dia kaget.

Kejadian gua menggandeng tangannya dan dia cuma bisa bengong, berlangsung sampai naik di eskalator.

“Danny, ini maksudnya apaa?”

Gua menatap matanya, “Kamu bisa ngerti kan apa yang aku rasain ke kamu selama ini?”

Dia cuman senyum .

“Oke, senyummu telah menjawabnya.” Bales gua lagi.

Eskalator terus berjalan dan semakin ke atas.

“Kalau kamu belum siap, kamu bisa lepasin tangan aku. Kalau kamu merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarang, diamlah di sana. Biarkan genggaman kita yang bicara.” Bisik gua dekat di telinganya.

Dia hening.

Sampai mengantri di depan loket tiket, tangannya masih ada di genggaman tangan gua. Mungkin itu jawabannya. Kami pun bahagia sehidup semati sampai akhirnya pihak ketiga memisahkan. #duaar 

Kisah cinta yang seperti menawarkan kerja sama ini, mengingatkan gua pada ucapan gua.

“Relationship is am open tender, everyone can submit their proposal, so make sure you have an excellent portfolios.”

Sekali lagi, nggak harus dengan cara di atas, kalau dengan “Aku sayang kamu, kamu mau jadi pacarku” udah bikin dia klepek-klepek, kenapa nggak? Nggak ada cara yang runut dalam mengutarakan perasaan.

Itu cerita nembak gua, bagaimana cerita nembakmu?

Apa? Ditolak?

Hahaha. Ciyan.

Pacaran udah, kemana-mana pegang tangan udah, nyium udah, digampar bokapnya gara-gara seharian anak gadisnya nggak dipulangin udah, nah terus apa lagi?

Biasalah. Tiga bulan pertama, semua terasa surga dunia. Semua milik berdua. Hati-hati, pulang berbadan dua.

Biasalah. Tiga bulan kedua, semua masih terasa surga dunia. Masih terasa milik berdua, walau sudah ada yang mulai menganggu. Tapi tetep, hati-hati pulang berbadan dua.

Biasalah. Tiga bulan ketiga, atau sembilan bulan lamanya, mulai diganjar batu kerikil. Jalan kini tak lagi mulus. Bebatuan dan terjal pun terlintas di depan mata. Mulai saling menyalahkan satu sama lain. Kini ego yang bicara. Suara mulai meninggi. Suara yang tinggi itu dibalas dengan dengki. Pecah ketuban. Selamat, anak telah lahir setelah mengandung sembilan bulan lamanya. Anak itu diberi nama..... Cemburu.

Biasalah. Menginjak tahun pertama. Jika bertahan, akan saling menguatkan. Mulai tumbuh kedewasaan antar pasangan. Yang tadinya marah karena satu pihak lupa nge-like status FB pacar, kini mulai rutin nge-like tanpa diminta. Yang tadinya emosi karena mention twitter nggak dibales, kini mulai rajin bales. Timbul pengertian yang tidak biasa di tengah mereka. Kini mulai melihat tentang masa depan. Melihat sebuah rumah. Rumah yang dibangun dari fondasi kesetiaan.

NB: Ini tidak berlaku bagi kaum LDR (Ketemu aja jarang).

Iya, bagi mereka yang bertahan? Yang tidak?

Selamat, anda kandas di persimpangan jalan.

Salah satu pihak yang paling dirugikan akan mengucapkan kalimat penuh kode-minta-putus seperti “Ayang, nyadar nggak sih kalau kita setiap hari berantem terus?” atau “Mbem, kamu sekali-sekali ngertiin aku bisa nggak sih? Aku capek kayak gini terus!” atau bisa juga “Beb, mama kamu kok makin cantik?”

Salah satu kalimat putus paling absurd menurut gue, “Sayang, kamu terlalu baik buat aku” bener-bener kampret. Ini contoh minder yang tak pantas ditunjukkan oleh generasi muda. Harusnya kalimat itu direvisi jadi,“Sayang, kita mending sampai di sini aja, aku terlalu baik buat kamu”. Nah, di sini pihak yang mutusin bener-bener punya postur saat mutusin. Seakan-akan dia adalah pihak yang benar-benar dirugikan. Dan dia berusaha menyelamatkan hidupnya dari kekangan pacarnya.

Sebelum menutup tulisan ini, salah seorang temen gua pernah menepuk bahu gue, dan berkata, “Dan, kalau ada duit, semua yang lu bilang barusan itu nggak ada gunanya. Money always talks louder than anything.”

Gua cuma bisa berdehem sambil mengiyakan. Nggak ada yang salah. Kembali lagi pada pelaku yang ingin menjatuhkan cintanya.

Pengalaman mengajarkan bahwa pedekate, pacaran, sampai menemukan pasangan yang tepat, layaknya memancing di lautan bebas. Ikan yang dipancing tergantung dengan umpannya. Jika umpannya uang, akan banyak ikan yang terpancing. Jika uangnya tidak ada, ikan tidak akan kembali lagi ke kail yang sama. Jika umpannya attitude, mungkin akan sedikit ikan yang tergiur, tapi gua yakin, ikan itu adalah ikan yang sebenar-benarnya dibutuhkan, bukan sekedar diinginkan.

Sekali lagi, iya sekali lagi, ini semua tidak menggurui. Pilih mana jalan yang dianggap sesuai. Kembali pada diri masing-masing.
Semoga tidak menginspirasi.

Mungkin tak bisa mendapatkan semua yang diinginkan, tapi jika sedikit lebih bersyukur, Tuhan bisa kasih sesuatu yang benar-benar kita butuhkan.

Security di kantor gua, di tengah kegalauan gua, pernah menepuk pundah gua dan berbisik, “Mas jangan nyerah buat pacaran lagi, toh ending-nya cuma dua. Kalau nggak jadi mantan, ya jadi manten.. Hehe.”

Gak kerasa udah jam 9 malam

28 02 2017

Anjay, endingnya khas om-om gini..... Kamphang

Danny -manusia yang riang, terampil, dan gembira. Sering jalan-jalan. Kalau ketemu, disapa aja..