Sabtu, 03 Februari 2018

SETI....A

Tentang Setia

Sore itu, di warung nasi padang, Nana (bukan nama sebenarnya) terus menatap gue sambil menembem-nembemkan pipinya. Katanya, Nana menginginkan sosok cowok yang setia bersamanya. Nana ingin berhenti berlayar di laut lepas, ia ingin menyandarkan perahunya di dada dermaga yang sehangat napas, di dada dermaga yang hanya boleh menerima sandaran perahunya seorang.

Nana mengacungkan kelingkingnya, meminta kelingking gue untuk dikaitkan kepada kelingkingnya.

“Untuk apa?” Tanya gue padanya. “Ah, gamau, kelingking kamu bau rendang.” Bales gue lagi.

“Ini..” Lanjut Nana sambil menawarkan kelingkingnya kembali.

Gue balas dengan mengacungkan telunjuk, “Yes, aku menang.”

“YANG NGAJAK MAIN SUIT SIAPAAAA??!!” Nana mulai kesal.

“Hah, terus gimana?” Gue mengeryitkan dahi.

“Kelingkingmu mana, aku mau kamu janji supaya kita saling setia.”

Gue panik, gimana ini.. kelingking gue yang mana cobak, jari gue mirip jempol semua. Duh, mampus gue. “I-ini, kelingkingku mau diapain ya?” Tanya gue lagi sambil mengacungkan kelingking ke depannya.

“ITU JEMPOL, SETAN.” Nana naik pitam.

Gue makin panik. Akhirnya, gue kasih liat semua jari gue ke dia. “DUHH REPOT YA, YAUDAH KAMU PILIH SENDIRI DEH!!”

Nana mengaitkan kelingkingnya ke kelingking gue. “Janji ya, kita akan saling setia.” Kata Nana, pelan.

Setia?

Gue hanya bisa tersenyum kemudian tertegun menatapnya matanya.


======

Sebenarnya gue sering bermasalah dengan kalimat sederhana namun penuh makna yang satu ini. Menurut gue, kata “setia” belakangan ini sudah menjadi komoditi yang murah di dalam suatu hubungan.

Balik ke waktu Kuliah, gue pernah punya pacar, nembaknya juga sederhana. Saat itu tengah berlangsung ujian, gue duduk di belakangnya. Seperti biasa, gue yang punya kesulitan dalam hitung hitungan, tentu saja gue kesulitan dalam menjawab. Setelah berpikir keras 10 menit, walaupun yang gue pikirin nyatanya adalah cara menanam jagung, akhirnya gue menemukan jalan keluar. Sebuah solusi yang tepat untuk menemukan jawaban dari soal-soal di depan mata.

Ya, jawaban itu adalah putus asa.

Ya, gue menyerah.

Tapi takdir berkata lain, seseorang yang ada di depan gue, seorang cewek berambut panjang yang digerai, tiba-tiba nengok ke belakang sambil bertanya, “Ada yang nggak bisa, Dan?”, Gue bengong sebentar. Itu sama aja kayak tiba-tiba ditanya sama Raisa, “Kamu mau aku ciyum di bagian mana, Dan?”

Gue langsung berdiri sambil gebrak meja dan berteriak, “SEMUANYA!! GUE NGGAK BISA SEMUANYA!!! KASIH TAU GUE NOMOR 1 – 10 CEPETAN BURUUUU!!”. Namun nggak gue lakukan.

Sambil clingak-clinguk mengawasi dosen agar nggak ngeliat ke arah sini, gue pun mencolek punggungnya, “Nomor 5 cara ngerjainnya gimana?” Bisik gue pelan.

Dua menit kemudian, dengan cepat dia membalikkan badan dan memberikan gue secarik kertas yang diuwel-uwel. Begitu gue buka, kertas itu berisi jawaban nomor 5 dan cara ngerjainnya. Gue terharu.

Sebagai tanda terimakasih, gue pun ngelempar kertas yang udah diuwel-uwel ke arahnya. Dia pun dengan sigap mengambil uwelan kertas itu dan membukanya. “Kamu baik banget sih, tapi daripada cuma jadi orang baik, mending kamu jadi pacarku sekalian.” Tulisan di kertas itu berhasil membuat Melissa madep ke belakang dan mesem-mesem ke arah gue.

Beberapa detik kemudian dia ngelempar uwelan kertas lagi. Gue dengan cepat membukanya,“Iyaa, tapi kamu harus janji setia sama aku ya.”Tulisan di kertas tersebut. Tanpa basa-basi, gue pun langsung ngelempar kertas uwelan untuk membalasnya,

“Okee siaaaap, eh btw, nomer 6-10 jawabannya apa?” Tulisan di kertas tersebut.

======

Semenjak itu, gue dengan nana sepakat jadian. Sungguh jadian yang tidak terduga. Dari sana gue belajar, sebenarnya nembak cewek modal nekat aja, yang penting udah ngomong. Dan setelah itu, setiap hari kami pulang kuliah bareng, naik angkot bareng, naik metromini bareng, tawuran pun juga bareng. Dia maju bawa gir, gue kabur naik bajaj. Laki banget.

Padahal dia adalah pihak yang paling sering menuntut dan menghumbar kata setia, namun dia jugalah yang duluan pergi meninggalkan kecewa. Mungkin benar, mulut yang hebat menjanjikan segala, nyatanya lebih mudah menghadirkan tiada. Begitulah kalimat dari seorang penyair chauvinistik di timeline.

Memasuki dunia perkuliahan, gue juga banyak menemukan pasangan yang mengucap kata setia dengan entengnya seperti mengucap“Hai, bantu follow akun motivazy yuk, twitnya ngena di hati loh”di timeline. Setia yang mereka lihat, tidaklah sama seperti setia yang gue lihat. Ada yang baru jadian sebulan dua bulan, langsung bersumpah serapah untuk setia satu sama lain. Sebenernya nggak salah sih, tapi itu persis kayak baru sebulan kuliah, dan langsung berteriak, “LIAT NIH GUE BAKAL LULUS TIGA SETENGAH TAUN!!”. Sebuah optimistis yang menurut gue terlalu cepat untuk diteriakkan. Padahal dunia kuliah nggak selurus yang kita bayangkan. Ada banyak tikungan, turunan, tanjakan, dan warnet buat main dota. Pokoknya jalan nggak akan selalu lurus. Gue jadi inget kata Valentino Rossi, dia pernah bilang,“Pembalap sejati tidak lahir dari track lurus.” Pun sama halnya dengan cinta.

Saat itu gue belajar, bahwa setia bukanlah barang yang murah, bukanlah sebuah kata yang mudah diucap begitu saja namun menguap di akhir cerita.

Ada begitu banyak definsi dari setia, dan ada begitu banyak pandangan tentang setia. Setiap dari kita bebas menentukan apa pengertian dari setia. Namun, semua sepakat, setia dalam arti sederhana adalah tidak pindah ke lain hati. Kalau menurut pandangan gue, setia adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Dan tentu masih banyak yang punya pandangan lain.

Namun, seiring bertambahnya umur dan kedewasaan, setia dalam sudut pandang gue semakin meluas. Seorang pebisnis dikatakan demikian karena ia memiliki bisnis, dan menghasilkan uang dari bisnis tersebut. Seorang dokter dikatakan demikian karena ia lulus dari fakultas kedokteran dan expert  tentang tubuh manusia. Dua profesi tersebut memakan banyak waktu dan proses. Gelar pebisnis dan dokter adalah konsekuensi yang didapat setelah mereka melewati banyak tahapan. Seorang dokter belum disebut dokter ketika ia ternyata masih kuliah kedokteran semester satu. Intinya, profesi mereka adalah sebuah hasil dari perjalanan panjang.

Aan Mansyur pernah menulis, “Setia adalah pekerjaan yang baik.” Jika setia adalah sebuah pekerjaan, apakah seseorang layak diberi gelar setia ketika baru menjalin umur pacaran yang baru kemarin sore? Adakah parameter yang pasti untuk menilai seseorang tidak akan pindah ke lain hati? Adakah cara yag pasti untuk mengetahui seseorang hanya jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?

Gue rasa nggak ada yang pasti.

Karena tidak ada yang tahu bagaimana mencapai hasil akhir tanpa memulai.




======

“Kok diem aja? Kamu nggak mau setia sama aku ya?” Nana tiba-tiba memecah lamunan gue.

“Eh, apa?” Gue baru kembali dari lamunan. Nana melepas kelingkingnya yang masih terkait di kelingking gue.

“Nggak gitu, Na.”Jawab gue kalem.

“Jadi, kamu beneran nggak mau terus sama aku?” Nana mulai mengernyitkan dahinya.

“Setia itu bukan kalimat yang dengan mudah kita ucap sekarang, Na.”

“Kenapa, tinggal bilang pengin setia emang apa susahnya sih?” Nana kembali melanjutkan.

“Setia itu adanya di akhir, setia itu adalah cara untuk menyebut perjalanan panjang kita dengan satu kata, Na.”

“Ah, dasar cowok, kebanyakan gombalnya! Hih.” Nana bangkit dari kursi dan ngeloyor gitu aja.

“Na, tunggu, Na! Ini nasi padangnya siapa yang bayar??” Gue pasrah.

Cewek emang sulit dimengerti..

Kamis, 01 Februari 2018

TERIMA AKU APA ADANYAA

Terima Aku Apa Adanya?

Mungkin, bukan cuma gue yang suka bertanya-tanya, "Kenapa ada cewek yang ketika di-pedekate memiliki tubuh langsing, tapi begitu dipacarin, menjadi gendut secara tiba-tiba?" Kejadian cewek langsing yang tiba-tiba menggendut ketika sudah berada dalam fase pacaran, menurut gue adalah sebuah kejadian yang mistis.

Ini terjadi juga ke cowok seperti gue. Ya, gue beberapa kali secara live terjebak dalam percakapan kayak gini:

"Sayang, kamu cantik deh malam ini."

"Oh, jadi selama ini aku terlihat nggak cantik di mata kamu?"

Atau,

"Sayang, kamu makan apasih, kok langsing gini? Uwuwuw, makin sayang deh.."

"Apa?? Jadi selama ini aku gendut di mata kamu? Jadi, kalau aku gendut, kamu udah nggak sayang lagi ? Iya, bener begitu?"

Atau,

"Sayang, kamu kenapa sih, kok kayaknya kamu kurang sehat gitu?"

"Jadi, menurut kamu, aku nggak sehat karena aku gendut? Iya, bener begitu?!! Jawab!!"

Atau,

"Sayang, aku capres milih Jokowi nih, kamu siapa?"

"Oh, gitu, jadi kamu pilih Jokowi? Oke fine, kamu milih Jokowi karena dia lebih kurus dari aku kan?! Udahlah, kebaca banget."

"Ng-nggak, nggak jadi, aku milih Prabowo kok, suer deh."

"Ohh, terus aja nyindir aku, kamu mau bilang aku gendut kan?!! Kamu mau sama-samain aku kayak Prabowo yang embem itu kan?? Kamu jahat! Nggak punya perasaan!!!"

Skak mat.

Kenapa sih ada banyak cewek yang nggak mau jujur tentang kondisi tubuhnya? Kenapa juga sensi ketika mendengar kata "gendut"? Kenapa juga harus badmood

Apa karena banyak cewek kepengin punya badan langsing, semok, dan curvy, tapi nggak mau ngeluarin efforts buat dapetin hal di atas?

Apa benar cewek pengin dibilang dan dianggap langsing oleh kaum cowok dengan cara seperti: konsisten maraton dvd di akhir pekan, dengan cara berkomitmen leyeh-leyeh sambil ngemil, atau dengan cara persisten tidur-tiduran tanpa menggerakkan lengan, paha, dan perut seharian?

Apa benar begitu?

Belum, belum selesai sampai di situ, ternyata banyak cewek punya counter attack dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan gue barusan. Ya, ketika mereka dibilang gendut, ketika mereka diminta untuk olahraga, dan ketika mereka dianjurkan untuk memperbaiki pola makan dan gaya hidup, mereka akan menjawab dengan ini:

"KAMU JAHAT, KAMU EGOIS, KAMU NGGAK BISA TERIMA AKU APA ADANYA!!!"

"KAMU GAK BISA NERIMA MASA LALU AKU YA TINGGALIN GUE, CARI AJA YG SEMPURNA !!! "

*eh

Skak ster.

Yang gendut siapa, yang pengin punya badan langsing siapa, yang pengin bisa pake banyak jenis baju siapa, dan yang tetep disalahin adalah.....

Ahok... Ah, bukan.

Yang salah pasti cowok.

Hmm, "terima aku apa adanya?"

======

Semakin ke sini, kalimat "terima aku apa adanya", menurut gue, udah semakin disalahgunakan dan disalahartikan. Buat gue, kalimat "terima aku apa adanya" adalah sebuah cara untuk menutupi kelemahan tanpa mau memperbaiki atau melihat ke dalam diri sendiri sebagai introspeksi.

Mayoritas cewek akan memilih cowok yang mapan, yang punya jaminan masa depan yang pasti, dan yang mampu memberikan kehidupan di atas kata layak. Itu adalah sebuah hal yang nggak bisa kita argumenkan keabsahannya. Itu udah benar-benar sah. Tapi, semakin dewasanya cara berpikir, munculah prinsip lain, yang intinya adalah berjuang bersama-sama dari nol. Iya, nggak mapan dari awal gapapa, yang penting punya niat dan itikad untuk berjuang. Lalu ketika cowok itu nggak berjuang, lalu dengan standar yang sama, dengan mengucapkan kalimat, "Terima aku apa adanya dong.." Kira-kira apa yang bakal terjadi?

Ya, diputusin lah.
Egois banget kan 😭😭😭

Cewek-cewek socialites udah jelas bakal ngebully cowok kayak gitu di kehidupan nyata.

Kalau cewek aja nggak mau mendapat jawaban “terima aku apa adanya” dari cowok,

Pun pada cowok, tidak satupun dari kami ingin mendapat jawaban seperti itu dari cewek.

Lebih baik berjuang bersama, lalu kita terima bersama hasil dari perjuangan kita..

Jangan ada terima aku apadanya di antara kita..

Mungkin seperti kata Tulus,

Jangan cintai aku apa adanya,

Jangan..

Tuntutlah sesuatu,

Biar kita jalan ke depan..

Kamis, 27 April 2017

Time

Apapun teori tentang waktu, yang jelas manusia hanya ingin 2 hal. Turn back time and see the future.
Ah, manusia mana yang tidak ingin.
Bisa pergi ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahannya dan bisa pergi ke masa depan untuk sekedar melihat apa yang akan terjadi.
Tapi coba dipikir lagi, masa lalu itu paling asik buat jadi bahan ketawaan atau sekedar penghibur dikala bosan. Membayangkan kebodohan yang pernah dibuat, sambil berfikir seandainya dia yang dulu itu gua yang sekarang pasti semuanya bakal lebih baik. Yakin? Belum tentu.
Kecuali orang-orang yang tidak menyukai keadaan yang sekarang, masa lalu membuat kita menjadi kita yang sekarang.

Kalau bisa tau masa depan, mungkin kita bakal mati-matian ngerubahnya kalau nggak suka. Capek kan? Iya capek.

Dulu mungkin kita bodoh, akhirnya menyesal dan belajar bahwa kebodohan itu gak boleh terulang lagi.

Dulu mungkin semuanya terasa berat, toh sekarang semuanya bisa kita tertawakan.

Ever wonder what will come next to your life? 

Just wait. It will come to you.

Hari ini saya belajar bahwa hal kecil bisa mengubah hidup saya dengan mudahnya.

Dear God, i will be waiting for your next surprise. Like, whatever kind of surprises 😉

*Tulisan ini tercipta karena kejenuhan yang sangat amat tinggi dan pikiran yang entah kemana*

Rabu, 26 April 2017

Rokok dan Analoginya

 Hari ini gua meneruskan ketidaksuksesannya lewat postingan lanjutan.Postingan kali ini adalah tentang langkah-langkahnya.



Tapi tenang, gua tidak pernah bermaksud untuk menggurui, sebab ini adalah tentang rokok. Gua juga suka mikir bahwa petisi dan ajakan untuk tidak merokok adalah hal yang sia-sia. Jika semua berhenti merokok, petani tembakau akan bunuh diri. Jika semua orang berhenti merokok, Indonesia akan menjadi negara yang dipenuhi  pengangguran. Di negara yang penduduknya seringkali bertikai hanya karena perbedaan agama, tentu ketika kehilangan pekerjaan akibat terkena PHK dari pabrik rokok, akan menjadi alasan kuat kenapa kriminalitas meningkat pesat.

Yang merokok silahkan merokok pada tempatnya, yang tidak merokok tidak perlu melarang orang lain merokok, semua akur jika kita mengerti apa itu toleransi. Pun tentang beragama, yang beragama A silahkan beragama A, tidak perlu merasa memiliki Tuhan yang paling benar, tidak perlu merasa memiliki kitab suci yang paling menjamin masuk Surga, dan tidak perlu meninggikan agama sendiri dengan cara merendahkan agama yang lain.

Oke sorry, gua kebawa suasana Pilgub.. 

Sampai di mana tadi?


=====

Menghisap rokok sama saja dengan berpacaran, sedang berhenti merokok sama saja dengan berakhir selamat jalan.

Kenapa move on dari mantan itu sulit? Kenapa berhenti merokok itu sulit?

Ya, karena dua-duanya adalah tentang kebiasaan.

Perihal melupakan, sederhananya adalah tentang mengubah kebiasaan.

Dan sialnya, mengubah kebiasaan tak pernah sederhana.


Ini juga terjadi di bulan pertama gua mencoba berhenti dari asap rokok, semuanya terasa asing. Gua nggak membenci rokok, karena semakin gua benci, gua hanya akan kepikiran dengannya. Persis dengan mantan, semakin dibenci, hanya akan mempersulit proses move on. Yang harusnya dilakukan adalah melupakannya pelan-pelan, dengan cara memafkan. Sama halnya dengan rokok, yang gua lakukan hanyalah mengubah kebiasaan.

1) Kurangi Dosisnya

Seperti yang udah gua bahas di postingan sebelumnya, gua adalah pemuja garpit. Untung saat itu gua sudah dibekali dengan agama, jika tidak, sudah tentu gua akan menyembah garpit dan koreknya.

Benar-benar nggak keren.

Pertama-tama, gua nggak lantas tanpa asap rokok sama sekali. Itu mustahil. Itu seperti sudah bertahun-tahun bersama, tapi beberapa detik kemudian langsung talak tiga. Gua kurangi dosisnya, dari garpit sebungkus sehari, menjadi mild sebungkus sehari.

Apakah itu ngaruh?

Sangat.

Kalau udah biasa ngerokok berat, ketika ngerokok yang ringan akan terasa kempos. Dalam arti yang lebih mudah dicerna, itu artinya hampa tiada rasa. Persis seperti seminggu setelah putus, selalu akan ada rasa untuk menghubunginya. Jika semasih pacaran SMS-nya “Sayaaaaang, kos aku sepi lho..” dan sekarang hanya bisa,  “Hae lagi apa?”

Ya, dosisnya berkurang.

SMS seperti itu rasanya kempos, hampa tiada rasa.

Lalu untuk apa menurunkan dosis rokok berat ke rokok mild? Ya, untuk membiasakan tubuh menerima kadar nikotin dan tar yang lebih rendah.  Lalu untuk apa membiasakan diri mengurangi akses telfon kepada mantan? Untuk membiasakan diri pada kehilangan, bahwa kebersamaan tak selalu sejalan, bahwa kehilangan sejatinya adalah kebersamaan yang berbeda jalan.. #Tsaaah gaya lo daneee


2) Temukan Substitusi

Tiada kata yang tidak terganti, akan selalu ada kata-kata lain yang akan menggantikan. Sejak itu gue sadar, bahwa kalimat “Goodbye” tidaklah abadi, ia akan tergantikan dengan SMS “Hae lagi apa?” dari yang lain, sebut saja ia strangers.

Power strangers.

Ya, orang asing yang punya kekuatan untuk mengubah duka menjadi suka.

Begitu juga dengan rokok. Setelah gua sukses mengurangi dosis hisapan rokok dari mild sebungkus sehari, lalu menjadi setengah bungkus sehari, dan akhirnya cuma menjadi ketengan-ketengan sesempetnya. Tapi kesementaraan itu belumlah cukup.

Mari ke level selanjutnya, menemukan substitusi.

Yang namanya mencoba berhenti merokok, akan ada saat-saatnya sakau. Saat di mana tubuh menagih jatah nikotinnya. Seperti saat menunggu orang, saat berkumpul dengan teman-teman, saat ngerjain revisi skripsi terus nggak tau mau dibenerin yang mana, dan yang paling krusial adalah setelah makan. Ya, gejalanya adalah bibir pecah-pecah, tenggorakan sakit, dan sulit buang air besar. Ah, bukan. Gejalanya adalah bibir terasa asem, pikiran terasa tidak tenang, sanubari terkoyak, dan mata sepet-sepet burem.

Itu juga yang gua derita ketika seminggu berusaha tanpa rokok mild sama sekali.

Saat itu, galau tanpa kekasih mungkin tak semenderita galau tanpa sebatang rokok.

Ketika sakau datang menghampiri, gue mencoba tenang. Gua ambil sebungkus Oreo, putar sedikit, jilat perlahan, lalu celupkan. Seperti itu sampai sakau pergi. Tapi seiring perubahan zaman, harga Oreo sudah tidak murah lagi, bahkan harga sebungkus Oreo dengan krim coklat hampir menyamai harga sebungkus rokok mild isi 12 batang.

Setelah Oreo dikatakan berhasil meredam nafsu mengemut rokok, gue temukan bahwa susu Indomilk  dapat juga dapat menekan nafsu itu. Setelah makan, gua coba sempatkan untuk ke warung, beli minuman itu. Sekedar mencegah sakau dadakan.

Selain Oreo dan Indomilk, gua juga sempatkan membawa permen. Ketika kongko sama teman-teman, saat mulut mereka penuh dikepul asap, pipi gua tembem dipenuhi lollipop. Yeah..

Ternyata ngemut lollipop gaul juga..

Sama halnya ketika berhadapan dengan mantan, setelah mampu mengurangi dosis kangen, tentu saja harus mencari penggantinya. Tidak harus selalu dipacari, anggap saja pengalih perhatian. Ya, dari sanalah sebenarnya asal muasal pelarian dan PHP. Haha.

Bertemulah dengan yang lain, dengan yang asing. Jika cinta dimatikan oleh orang dekat, maka luka akan disembuhkan oleh orang asing.

Percayalah..


3. Bertahan

Konsisten yang akan membuat kita bertahan di kala suka, komitmen yang akan membuat kita bertahan di kala duka.

Kalimat sederhana di atas adalah sebuah prinsip yang selalu gua pegang dan gua bawa ke mana-mana. Segala yang dikatakan berjuang, butuh konsisten dan komitmen. Dan yang namanya berjuang, selalu berteman dengan godaan, halangan, dan rintangan. Mereka bertiga bertugas untuk membuat gua mengeluh. Membuat gua merasa pesimis, lalu mundur perlahan.

Apalagi jika berhadapan dengan yang namanya mengubah kebiasaan. Berhenti merokok adalah perjalanan panjang.  Ada banyak godaan yang gua rasakan untuk kembali ke pangkuan garpit.

Dan tentu saja ke pangkuan mantan.

Mantan adalah makhluk yang keji. Ia dapat berubah menjadi cantik dan semok sesaat setelah diputusin. Entah harus dengan hukum apa menjelaskannya, rambutnya makin harum, tubuhnya makin semampai, dan senyumnya makin bersinar.

Gua sadar, dia memang lebih bahagia dengan yang lain.

Saat gua mulai yakin bahwa dia memang lebih bahagia dengan yang lain, tiba-tiba dia SMS, “Ngerasa nggak sih kalau kita sebenarnya cuma emosi sesaat?” #Duarr

See?

Ketika hati paling kecil gua merasa kangen, dia datang kembali menawarkan perubahan.

Ketika tubuh gua sebenarnya masih membutuhkan nikotin, teman-teman gua datang ke depan gua, membanting  berbungkus-bungkus rokoknya dan berkata, “Dan, ini ambil, buat teman kayak lo, ini selalu gratis Dan, gratis. Ambil ini Dan, ini adalah karya terbaik anak bangsa.”

Damn.

Untuk itulah Tuhan menciptakan konsisten dan komitmen, sebab setia hanyalah kiasan. Setia hanyalah ketidakmampuan manusia dalam menyebut dua kata luar biasa yang sering luput dan disepelekan. Setia hanyalah satu kata, yang dibangun dari dua kata di atas.

Jika gua bisa setia untuk merokok, gua juga harus bisa setia untuk tidak lagi merokok. Selamanya.




=====

Sebenarnya, selain tiga langkah sederhana untuk jadi ganteng maksimal, untuk berhenti dari merokok, gua punya satu motivasi yang melatarbelakanginya, yang di postingan sebelumnya nggak gua ceritakan.

Ya, ini sangat rahasia, bahkan ini menjadi kunci penting dari keberhasilan gua berhenti merokok.

Tetep, tentang cinta.

Dulu, ketika gua merokok, pacar gua pernah bilang, “Bibir kamu bau aspal.”

Gua amat terpukul.


Ketika hatiku tak lagi diterima hatinya, di sanalah jarak terjauh untuk dicapai, dari sanalah perpisahan dimulai

Senin, 17 April 2017

My Best Regret

My Best Regret: ARSITEK Gagal

Ada satu hari di pertengahan Februari 2008 kemarin, yang menjadi momen krusial buat gua. Ya, gua hadir di sebuah acara besar yang dihadiri banyak mahasiswa dan mahasiswi, yang kompak memakai setelan hitam-hitam. Ya, setelan hitam-hitam dengan topi khas orang wisuda yang apabila setelah selesai dipakai akan mereka lempar tinggi-tinggi ke angkasa. Gua sudah siap dengan kamera yang telah disiapkan seorang teman gua, ketika ia melompat dan melempar toganya ke angkasa, bidikan kamera gua tepat membuatnya terlevitasi. Ya, dia adalah seorang teman gua yang telah diwisuda dari Fakultas Teknik.

Ya, sudah entah ke berapa kali, gua menjadi tukang potret wisuda temen sendiri. Kepedihan gua belum sampai di situ, gua juga bertemu dengan teman yang lain, dan kembali diminta untuk memotretnya. Sayangnya, dia adalah junior gua di kampus. Dia satu angkatan lebih muda.

Hati ini remuk redam.

Buat gua saat itu, acara wisuda yang memakai setelan hitam-hitam lebih mirip ke acara pemakaman. Ketika acara pemakaman, semua orang pasti sedih atas kepergian orang yang dicintai. Yang bisa mereka lakukan adalah mengikhlaskan dan mendoakan agar sang almarhum bisa bahagia di afterlife.

Begitu juga dengan gua saat itu, yang gua hanya bisa lakukan adalah mengucapkan selamat serta mendoakan agar teman-teman gua bisa sukses di dunia yang sebenarnya. Senyuman dan rasa bangga yang gua sematkan di tiap toga yang dikenakan teman-teman gua itu, selalu diikuti dengan rasa sedih setelahnya. Rasanya campur aduk, antara kapan gua menyusul mereka, dengan ketidakrelaan gua ditinggal teman-teman seperjuangan.

Di tengah-tengah euforia mereka, gua tertawa sambil menyembunyikan rasa sepi, penyesalan-penyesalan gua di hari kemarin seperti terputar kembali satu per satu. Kalimat, “Andai saja gua bisa kembali ke masa silam dan mengubah cerita.” – sebuah kalimat yang sungguh delusional, kembali muncul dan membuat gua terdiam sebentar.

=====

ARSITEK Gagal

Bokap gua adalah seseorang yang bekerja di bidang teknik. Karena di masa silam kakek gua tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan bokap gua di sekolah teknik, akhirnya kakek gua mendarat di sekolah STM. Sejak SD, gua sudah suka dengan yang namanya pelajaran MIPA terutama Fisika. Dan semenjak itulah, ketika masuk ke jenjang SMP, gua berniat mewujudkan keinginan terbesar bokap gua – dengan menjadi arsitek. Jika bokao gua saat itu nggak bisa menjadi arsitek, maka gua yang akan menggantikannya.

Setelah sukses merajai pelajaran fisika tiga tahun berturut-turut, dengan rambut tegak berdiri menantang, tatapan tegas, dan kepercayaan diri yang tiada cela, gual mantap melangkahkan kaki ke SNMPTN. Dan seperti yang sudah kalian duga, gua
bakal milih jurusan Fisipol.

Ya, nggaklah.

Gimana sih..

Ya, gua mantap untuk menuju fakultas teknik di salah satu dari tiga besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Di tahun itu, gua mengikuti 5 macam seringan masuk di PTN. Kalau tidak diterima di nomor satu PTN terbaik Indonesia, setidaknya gua masih bisa mendarat di nomor dua dan tiga.

Prinsip gua hanya satu, yaitu menjadi arsitek adalah harga mati. Lebih baik menjadi arsitek daripada menyerah pada kemunafikan. Gua tak mampu membayangkan bagaimana caranya menjalani masa muda tanpa sekolah di teknik sipil, pasti sangat menyedihkan sekali. Jika tidak diterima di teknik kemungkinan paling besar, gua hanya akan menjadi cowok ganteng pada umumnya.

Ini tidak boleh terjadi.

Tidak boleh..

Tiga dari lima saringan masuk yang gua ikuti sudah memberikan hasil. Ada yang diumumkan lewat harian pagi di koran, ada yang lewat situs universitas, dan ada yang langsung di-SMS ke hape peserta ujian. Kebetulan, hasil USM (Ujian Saringan Masuk) di univ A sudah keluar, kepastian gua diterima atau nggak diumumkan lewat SMS tepat pukul 7 pagi.

Setelah minum susu dan curcuma plus, gue beranikan membuka SMS yang masuk itu. Nomor di pesan itu terlihat sangat asing, seperti di-sms melalui komputer atau sistem, bukan nomor-nomor provider pada umumnya,

Gua klik pesan tersebut, degup jantung yang cepat mulai membahana di seisi ruangan kepala gua.

SELAMAT,

Sebuah kata yang sangat mengharukan, sebuah kata yang sangat tepat untuk menjawab sebuah pengharapan dan penantian.

Gua coba turunkan lagi pesan itu ke arah bawah untuk melihat isi keseluruhan SMS,

SELAMAT,

SELAMAT MENCOBA LAGI DI KESEMPATAN BERIKUTNYA,

JALAN MASIH PANJANG

JANGAN MENYERAH,

TERIMA KASIH TELAH MENGIKUTI USM UNIVERSITAS A.

Gua terdiam sebentar, tak lama kemudian gua terjerembab ke lantai. Menatap ke langit-langit kamar, bertanya-tanya di kepala, mengapa gua tidak terlahir dengan otak yang pandai.

Akhirnya, di pengumuman hasil ujian masuk universitas lainnya, gua juga ditolak masuk Fakultas Teknik. Nilai ujian gua nggak pernah nyentuh passing grade Fakultas Teknik di tiga besar PTN di Indonesia. Gua sadar, untuk bisa kuliah di teknik haruslah pintar. Tidak hanya sekedar pintar Biologi dan Fisika. Tapi juga harus pintar Matematika dan Kimia.

Teknik yang erat dengan basic Biologi dan Fisika, di mana dua bidang itu sangat gua kuasai, namun kenyataannya gua malah gagal karena kurangnya kemampuan gua di bidang Matematika dan Fisika. Jadi, gua nggak bisa jadi arsitek karena nggak jago Matematik dan Fisika. Walau gua gagal di ujian masuk, sampai sekarang gua masih percaya kalau gua akan sangat kompeten ketika sudah kuliah di sana.

Ini persis kayak nasib seorang lelaki yang mau bekerja keras, mau belajar untuk merancang masa depan yang mapan, namun ia ditolak dan dibuang oleh perempuan yang dicintainya karena satu hal: ia belum mapan di awal. Perempuan itu hanya ingin menerima lelaki itu dengan kesempurnaan sejak dari awal. Perempuan itu nggak menilai kemauan lelaki itu untuk bekerja keras membangun masa depan yang cerahh.

Persis kayak Fakultas Teknik yang membuang gua cuma karena gua nggak begitu jago Matematika dan Kimia. Fakultas Teknik nggak melihat kemampuan Biologi dan Fisika yang gua punya.

Akhirnya, sekarang gua kuliah di jurusan yang nggak gua suka, yang gua pilih sebagai pelarian. Kalau gua nggak bisa kuliah di Fakultas Teknik Universitas terbaik di Indonesia, gua akan milih jurusan lain. Yang penting masih di Universitas itu. Sekarang, gua sadar, keputusan gua salah besar.

Jangankan jadi Arsitrk, mengambil keputusan aja gua gagal..

=====

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengobati luka di hati ini. Sampai semester tiga, gua masih nggak rela kuliah di jurusan selain teknik. Tapi di sudut pandang yang lain, gua mengakui ketidakmampuan gua. Gua sadar dan menerima, sebab menerima adalah pekerjaan besar, karena harus berhadapan dengan ilmu tertinggi di  hidup ini,,,
Yaitu  Ikhlas.....






Mungkin benar, gagal hanyalah caraku menamai apa yang sesuai dengan kehendak-Nya, namun tak sesuai dengan kehendakku.

Minggu, 26 Maret 2017

Kehidupan (2)


"kelak kalo gua mau menguji kesabaran calon istri mau gua suruh dia internetan pakai indosat kalo dia ga treak kontol brati dia org yg tepat... Ya tepat utk menghadapi urusan biduk rumah tangga yg terjal" - danny


Menjadi manusia harus selalu belajar untuk mendewasakan akal dan pikiran seiring bertambahnya usia. Jangan sampai sikap kurang dewasa kita mempengaruhi kebahagian pernikahan.


Karena ketidakbahagiaan dalam pernikahan, efeknya tidak jauh beda dengan penyakit kronis: mematikan. Bedanya, yang satu kelihatan dan yang satunya tidak.

Ketidakbahagiaan dalam pernikahan bisa bersumber dari banyak hal. Namun secara garis besar bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Ketidakbahagiaan dari dalam diri sendiri

Sumber ketidakbahagiaan pernikahan yang berasal dari diri sendiri misalnya karena menikah dengan orang yang tidak dicintai & diri sendiri enggak ada usaha untuk belajar mencintai (jadi dari awal emang udah enggak sreg) atau bisa dari sikap diri sendiri yang pada dasarnya emang enggak pernah bersyukur sekalipun sudah memiliki & mendapatkan segalanya.

2. Ketidakbahagiaan yang berasal dari orang lain

Ketidakbahagiaan yang berasal dari luar diri sendiri bisa terjadi karena diri mendiamkan ketika dibully (bisa karena tidak berdaya atau yang lain) sehingga pihak ketiga pun bisa bebas semaunya. Suami suka main tangan, mertua dan ipar yang jahat, kedatangan pihak ketiga, anak yang tidak bisa diatur, adalah beberapa contoh di antaranya.

Dua penyebab di atas bisa berakibat fatal kalau dibiarkan. Bersikap seolah-olah kuat, sabar, & tabah bukanlah solusi karena pasti akan ada efeknya walau dalam bentuk tidak langsung.

Misal, seorang istri rela dan sabar diperlakukan kasar oleh suaminya. Sekilas sikap istri tersebut seolah bijak padahal ternyata ada efek negatifnya.

Atau, ketika mertua memiliki menantu laki-laki, dia berusaha menjadikan si menantu tersebut seperti dirinya dulu dan seolah enggak rela ketika menantunya bahagia bersama anaknya, ada saja hal yang diusik seperti membandingkan dengan keluarga yang lebih kaya dan lain sebagainya. Nah, bukankah ini juga tidak sehat? Bukankah banyak sekali yang semacam ini? Padahal si menantu pria enggak salah apa-apa. Dan kira-kira bagaimana perasaan orangtua si menantu pria ketika ayah mertuanya memiliki niat seperti itu walau tidak ia sadari.

Ketidakbahagiaan dalam pernikahan juga bisa membuat seseorang sangat tidak suka melihat orang lain bahagia. Seperti kata pepatah hurt people hurt people. Misal, berkata-kata pedas menyakitkan padahal orang lain enggak mengusik ketenangan hidupnya/enggak merebut suaminya:

 "Gitu aja dianterin, emang enggak bisa ya berangkat sendiri," padahal sejatinya dia ingin juga diperlakukan seperti itu.
"Kalau aku sih emang pekerja keras ya enggak suka nganggur. Bedalah sama kamu yang di rumah aja," padahal dia juga mau diperlakukan seperti itu.
"Kok gak hamil-hamil ya ntar suamimu nikah lagi lhoh," entah apa untungnya bilang begini. Kenapa bahagianya harus nunggu ketika perasaan orang lain hancur? Na'udzubillah.
"Kapan rumahmu kamu rehab, itu si A baru 2 tahun nikah sudah punya mobil dan rumahnya tingkatnya sudah mewah", nah bagaimana perasaan menantu laki-lakinya, padahal jika dibandingkan juga lebih banyak lelaki yang kurang beruntung dalam pekerjaanya.
"Suamimu mandul ya, kok kamu nggak hamil-hamil", padahal suaminya menyembunyikan masalah sulit hamil istrinya, karena rasa sayangnya.
Atau keusilan lainnya.

Jika mertua/orangtua sudah seperti ini, maka bisa dihitung detik-detik kehancuran rumah tangga anaknya.

Jika disimpulkan, ketidakbahagiaan dalam pernikahan bisa membuat seorang wanita/laki-laki menyakiti orang lain selain dirinya (ingin membuat orang lain menderita seperti dirinya) atau menyakiti diri sendiri (bunuh diri atau semacamnya).

Adakah wanita/laki-laki yang tidak bahagia dalam pernikahan tapi tidak seperti itu? Kenyataannya ada jika kita mau membuka mata, sangat banyak sekali perpecahan rumah tangga hanya karena campur tangan orangtua.

Jika kita sudah tahu bahwa efek ketidakbahagiaan dalam pernikahan ini sifatnya domino banget, semoga kita memiliki usaha untuk membuat pernikahan kita bahagia sesuai dengan kondisi masing-masing. Peradaban besar dimulai dari keluarga. Yang itu artinya untuk membentuk peradaban terbaikk dibutuhkan keluarga-keluarga yang sehat mental dan jiwanya, tidak hanya penampakan fisik saja yang mentereng. Semoga kita bisa mewujudkannya demi dunia yang lebih damai. Aamiin sodara - sodara ??

Selasa, 07 Maret 2017

Logika ....

Tiga Standar Ganda Terbaik

Pernah nggak kamu mendukung sesuatu, namun kalau sesuatu itu diaplikasikan ke kamu, hati kecilmu seperti berkata lain? Kamu jadi nggak dukung sesuatu itu lagi.

Contoh simpelnya, kamu menghujat LBGT, kamu menghunus agama layaknya pedang untuk menebas leher para LBGT yang berkeliaran di kampus-kampus, meneriaki LBGT itu penyakit yang harus dibasmi. Tapi kalau papasan sama Bunda Dorce, kamu salim, atau mungkin cium kening.

Atau, kamu mendukung LBGT, tapi begitu dagumu dijawil sama cowok ngondek, kamu mengurung diri di dalam kamar satu semester dan merasa bahwa dagumu sudah tidak memiliki kesucian lagi.

Kamu berdiri di dua kaki, namun masing-masing kaki berpijak di tempat yang berlawanan.

Kamu bermain dua kaki, kamu secara nggak sengaja menerapakan standar ganda pada pandanganmu terhadap sesuatu.

Sebagai anak muda belia yang hidup di belantara ibu kota, penuh macet, dan dipenuhi remaja yang pacaran beda agama (iya-iya, gue tau ini nggak nyambung tapi yasudah sih) gue pun menyadari hal ini. Sebijak-bijaknya manusia, pasti ada flaw -nya juga. Semantap-mantapnya gue berdiri dengan dua kaki, pasti ada sesekali kaki gue berpijak di hal yang berlawanan.

Iya, gue masih punya standar ganda, gue masih punya logical fallacy atas banyak hal.

Lewat tulisan yang gue buat dengan kemampuan seadanya ini, ijinkan gue untuk menjelaskan standar ganda yang mungkin dialami setiap lelaki.

Oh, nggak semua lelaki, ya?

Gue doang, ya?

Ini pasti bohong! Kalian semua telah berdusta padaku!

=======

1) Merokok dan Gemerlap Dunia Malam

Gue adalah cowok yang kayak gini. Tapi dulu. Buat gue, gapapa nggak punya pacar, yang penting bisa ngerokok dan dugem. Gue sangat senang bergaul dengan cewek-cewek di gemerlap malam.

Cewek-cewek dugem, atau yang lebih akrab disapa cewek 3B: belah tengah, behelan, dan blek mentolan, adalah tipe cewek yang gue idolai. Buat gue, mereka adalah tipe cewek yang sangat open minded. Enak banget ngobrol sama mereka, nggak ada GAP apapun. Teori-teori tentang cinta yang gue miliki banyak terinspirasi dari mereka.

Nah itu cuma sebelah kaki gue berpijak. Pada akhirnya, gue nggak mendukung sepenuhnya. Sebelah kaki gue berpijak di tempat yang berbeda. Gue adalah lelaki yang sangat mengidolai ibu. Gue pengin punya pacar atau bahkan istri yang mirip dengan ibu gue. Dan itu sangat berbeda dengan para cewek cantik yang merokok dan suka mabok ini.

Gue sangat mendukung cewek untuk ngerokok, mabuk, dugem, dll, namun sebagai teman. Tidak untuk pacar ataupun sebagai istri. Itulah kenapa gue nggak pernah langgeng kalau pacaran sama cewek yang merokok dan besar di tempat dugem.

Pernah waktu itu gue megang tangan mantan, terus bilang, "Kamu abis bangun rumah ya?"

Dia cuma mengernyitkan dahi, mungkin dia ngira mau digombalin. "Hah, kenapa emangnya?" Tanyanya.

"Tangan kamu baunya kayak kuli yang lagi istirahat terus ngerokok sambil minum kupi, bau aspal."

Abis itu, dia nggak mau megang tangan gue lagi. Iya, mantan gue itu rokoknya Jarum super.

Gue nggak rela ngeliat pacar gue ngerokok. Mungkin, karena gue udah nggak ngerokok.

Gue nggak jahat kan, ya?

2) Virginity

Ini juga menjadi kasus mainstream di kalangan para lelaki. Gue juga bingung dengan para lelaki ini, mereka kepengin punya istri yang perawan, tapi pas pacaran maunya merawanin.

Jujur, masalah keperawanan ini sebenarnya, buat gue, nggak penting banget. Cuma karena ada atau nggaknya selaput tipis aja, cewek udah bisa di-judge masih berharga atau nggak. Asli, ini stereotype yang jahat banget.

Padahal, buat lelaki, dapetin cewek perawan itu cuma sebatas memuaskan ego batiniah atau pride semata. Lelaki kayak abis menang  pertandingan lalu ngangkat trophy gitu.

Ini terjadi juga ke temen gue yang punya cewek, yang bekgrondnya, mohon maaf, pernah dipakai banyak cowok. Gue berulang kali menasehati bahwa itu cuma masa lalunya. "Sebenarnya di situlah tugas lo sob, lo harus bisa menerima semua masa lalunya, dan menjadi masa depan yang cerah untuknya." Kata gue ke Acong, temen gue yang IPK-nya 1,9 itu.

Nah, sialnya, kaki sebelah gue belum berpijak di pandangan yang sama. Entah karena ilmu sekuler gue yang belum seberapa, atau guenya yang belum seratus persen dewasa, gue juga merasakan apa yang dirasakan Acong.

Gue pernah juga punya pacar kayak gini. Bekas anak dugem. Dia gue selamatkan dari dunia tersebut. Padahal sih, emang guenya aja yang nggak punya duit lagi buat bayarin pacar untuk dugem.

Setiap ada mantannya yang berusaha untuk mendekatinya kembali, gue selalu sedih. Gue selalu kebayang ketika dulu, ketika banyak tangan para lelaki singgah dan bermain di tubuh pacar gue.

Kadang, gue masih nggak rela.

Suatu kondisi yang anjingbanget buat gue. Di satu sisi gue harus jadi dewasa dan berkata, "Gapapa, itu cuma masa lalu kamu kan, cintaku ke kamu adalah tetap, selalu, dan akan." Namun, di satu sisi lagi, "Lah anjing, murahan amat lo jadi cewek!"

Di bungkus gue yang nampak bajingan ini, gue masih menyimpan sisi anak kecil yang merindukan sosok perempuan yang belum dijamah banyak tangan lelaki. Walau gue sadar, perempuan yang gue cari, nyaris hampir nggak ada.

Gue nggak jahat kan, ya?

3) Seagama atau Tidak

Kalau kamu merasa bahwa hidup ini perjalanan dari ketidakberuntungan satu ke ketidakberuntungan lainnya, mungkin akan gue iyakan.

Dari sekian banyak cewek yang seagama, kenapa yang tertarik sama gue yang nggak seagama, ya?

No luck for me..

Apakah, ini disebut kesialan?

Nah, sebelah kaki gue, seperti yang kamu sudah tau, tentu akan sangat mendukung pacaran beda agama. Gue nggak peduli sama agamanya, yang gue tau, gue cinta. Buat gue, mencintai umat beragama adalah lakum dinukum waliyadin yang gue terapkan. Sebuah harga mati.

Ya udah, gue cintai deh yang nggak seagama.

Ternyata, penerapannya nggak semudah itu. Gue nggak nyangka bakal diusir. Gue juga nggak nyangka kalau endingnya dia bilang, "Sayang, papa aku nanya, kamu kapan pindah agama?"

Bahkan, belum pacaran nih, baru nembak aja gue udah kena ospek dari beda agama.

Malam itu gue beranikan diri untuk ungkapkan perasaan, "Aya, kita udah cocok banget kan, kamu ngerasain apa yang aku rasain kan?" Tanya gue sambil memegang tangannya.

"Emang apa sih yang kamu rasain, Don?" Tanyannya kembali.

"Setiap menatapmu, aku menemukan jalan pulang.." Jawab gue, pelan.

"Aww.." Balas Aya sambil menggigit bibirnya.

"Ja-jadi, mau kan jadi pacarku?" Tanya gue kembali.

"Iyah, Downy, kamu ganteng deh kalo ngomongnya pelan gitu." Jawab Aya sambil tersipu-sipu.

Belum selesai, hati gue berteriak "WOOOHH ANJINGGG AKHIRNYA ILANG JOMLO GUEEEEEH!! KENISTAAN DI HIDUP INI TELAH SIRNA!!!! THANKS GOD!!!"

Tiba-tiba Aya memotong,

"Eh tunggu, tapi kamu nanti bakal pindah agama kan?"

Satu kafe hening.

"A-apa, Ya? Gi-gimana?"

"Iya, kamu tapi bakal pindah agama kan?" Tanyanya lagi.

"Ngg, yaudah kita jalanin dulu aja, Sayang.." Jawab gue sekenanya.

"Oh, yaudah, kalo gitu gajadi."

LAH ANJING, NEMBAKNYA HARI INI, DITERIMANYA HARI INI, EH DI-CANCELNYA JUGA HARI INI.

Bayangin, dia udah bilang iya, terus tiba-tiba di-cancel.

Anjing.

Di sinilah sebelah kaki gue yang lain berpijak. Di indonesia, pacaran beda agama 90% tidak bermasa depan. Ketika gue sangat mendukung remaja yang pacaran beda agama, di sebelah sisi lain gue juga sangat menyayangkan.

Karena 90% pasti putus. Dan yang paling sedihnya, ketika kamu udah kasih semuanya, tapi kamu tetap nggak bisa bersatu denganya. Taruhannya berat: pindah agama, atau putus.

Tiga standar ganda terbaik, yang pernah gue miliki..