Sabtu, 03 Februari 2018

SETI....A

Tentang Setia

Sore itu, di warung nasi padang, Nana (bukan nama sebenarnya) terus menatap gue sambil menembem-nembemkan pipinya. Katanya, Nana menginginkan sosok cowok yang setia bersamanya. Nana ingin berhenti berlayar di laut lepas, ia ingin menyandarkan perahunya di dada dermaga yang sehangat napas, di dada dermaga yang hanya boleh menerima sandaran perahunya seorang.

Nana mengacungkan kelingkingnya, meminta kelingking gue untuk dikaitkan kepada kelingkingnya.

“Untuk apa?” Tanya gue padanya. “Ah, gamau, kelingking kamu bau rendang.” Bales gue lagi.

“Ini..” Lanjut Nana sambil menawarkan kelingkingnya kembali.

Gue balas dengan mengacungkan telunjuk, “Yes, aku menang.”

“YANG NGAJAK MAIN SUIT SIAPAAAA??!!” Nana mulai kesal.

“Hah, terus gimana?” Gue mengeryitkan dahi.

“Kelingkingmu mana, aku mau kamu janji supaya kita saling setia.”

Gue panik, gimana ini.. kelingking gue yang mana cobak, jari gue mirip jempol semua. Duh, mampus gue. “I-ini, kelingkingku mau diapain ya?” Tanya gue lagi sambil mengacungkan kelingking ke depannya.

“ITU JEMPOL, SETAN.” Nana naik pitam.

Gue makin panik. Akhirnya, gue kasih liat semua jari gue ke dia. “DUHH REPOT YA, YAUDAH KAMU PILIH SENDIRI DEH!!”

Nana mengaitkan kelingkingnya ke kelingking gue. “Janji ya, kita akan saling setia.” Kata Nana, pelan.

Setia?

Gue hanya bisa tersenyum kemudian tertegun menatapnya matanya.


======

Sebenarnya gue sering bermasalah dengan kalimat sederhana namun penuh makna yang satu ini. Menurut gue, kata “setia” belakangan ini sudah menjadi komoditi yang murah di dalam suatu hubungan.

Balik ke waktu Kuliah, gue pernah punya pacar, nembaknya juga sederhana. Saat itu tengah berlangsung ujian, gue duduk di belakangnya. Seperti biasa, gue yang punya kesulitan dalam hitung hitungan, tentu saja gue kesulitan dalam menjawab. Setelah berpikir keras 10 menit, walaupun yang gue pikirin nyatanya adalah cara menanam jagung, akhirnya gue menemukan jalan keluar. Sebuah solusi yang tepat untuk menemukan jawaban dari soal-soal di depan mata.

Ya, jawaban itu adalah putus asa.

Ya, gue menyerah.

Tapi takdir berkata lain, seseorang yang ada di depan gue, seorang cewek berambut panjang yang digerai, tiba-tiba nengok ke belakang sambil bertanya, “Ada yang nggak bisa, Dan?”, Gue bengong sebentar. Itu sama aja kayak tiba-tiba ditanya sama Raisa, “Kamu mau aku ciyum di bagian mana, Dan?”

Gue langsung berdiri sambil gebrak meja dan berteriak, “SEMUANYA!! GUE NGGAK BISA SEMUANYA!!! KASIH TAU GUE NOMOR 1 – 10 CEPETAN BURUUUU!!”. Namun nggak gue lakukan.

Sambil clingak-clinguk mengawasi dosen agar nggak ngeliat ke arah sini, gue pun mencolek punggungnya, “Nomor 5 cara ngerjainnya gimana?” Bisik gue pelan.

Dua menit kemudian, dengan cepat dia membalikkan badan dan memberikan gue secarik kertas yang diuwel-uwel. Begitu gue buka, kertas itu berisi jawaban nomor 5 dan cara ngerjainnya. Gue terharu.

Sebagai tanda terimakasih, gue pun ngelempar kertas yang udah diuwel-uwel ke arahnya. Dia pun dengan sigap mengambil uwelan kertas itu dan membukanya. “Kamu baik banget sih, tapi daripada cuma jadi orang baik, mending kamu jadi pacarku sekalian.” Tulisan di kertas itu berhasil membuat Melissa madep ke belakang dan mesem-mesem ke arah gue.

Beberapa detik kemudian dia ngelempar uwelan kertas lagi. Gue dengan cepat membukanya,“Iyaa, tapi kamu harus janji setia sama aku ya.”Tulisan di kertas tersebut. Tanpa basa-basi, gue pun langsung ngelempar kertas uwelan untuk membalasnya,

“Okee siaaaap, eh btw, nomer 6-10 jawabannya apa?” Tulisan di kertas tersebut.

======

Semenjak itu, gue dengan nana sepakat jadian. Sungguh jadian yang tidak terduga. Dari sana gue belajar, sebenarnya nembak cewek modal nekat aja, yang penting udah ngomong. Dan setelah itu, setiap hari kami pulang kuliah bareng, naik angkot bareng, naik metromini bareng, tawuran pun juga bareng. Dia maju bawa gir, gue kabur naik bajaj. Laki banget.

Padahal dia adalah pihak yang paling sering menuntut dan menghumbar kata setia, namun dia jugalah yang duluan pergi meninggalkan kecewa. Mungkin benar, mulut yang hebat menjanjikan segala, nyatanya lebih mudah menghadirkan tiada. Begitulah kalimat dari seorang penyair chauvinistik di timeline.

Memasuki dunia perkuliahan, gue juga banyak menemukan pasangan yang mengucap kata setia dengan entengnya seperti mengucap“Hai, bantu follow akun motivazy yuk, twitnya ngena di hati loh”di timeline. Setia yang mereka lihat, tidaklah sama seperti setia yang gue lihat. Ada yang baru jadian sebulan dua bulan, langsung bersumpah serapah untuk setia satu sama lain. Sebenernya nggak salah sih, tapi itu persis kayak baru sebulan kuliah, dan langsung berteriak, “LIAT NIH GUE BAKAL LULUS TIGA SETENGAH TAUN!!”. Sebuah optimistis yang menurut gue terlalu cepat untuk diteriakkan. Padahal dunia kuliah nggak selurus yang kita bayangkan. Ada banyak tikungan, turunan, tanjakan, dan warnet buat main dota. Pokoknya jalan nggak akan selalu lurus. Gue jadi inget kata Valentino Rossi, dia pernah bilang,“Pembalap sejati tidak lahir dari track lurus.” Pun sama halnya dengan cinta.

Saat itu gue belajar, bahwa setia bukanlah barang yang murah, bukanlah sebuah kata yang mudah diucap begitu saja namun menguap di akhir cerita.

Ada begitu banyak definsi dari setia, dan ada begitu banyak pandangan tentang setia. Setiap dari kita bebas menentukan apa pengertian dari setia. Namun, semua sepakat, setia dalam arti sederhana adalah tidak pindah ke lain hati. Kalau menurut pandangan gue, setia adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Dan tentu masih banyak yang punya pandangan lain.

Namun, seiring bertambahnya umur dan kedewasaan, setia dalam sudut pandang gue semakin meluas. Seorang pebisnis dikatakan demikian karena ia memiliki bisnis, dan menghasilkan uang dari bisnis tersebut. Seorang dokter dikatakan demikian karena ia lulus dari fakultas kedokteran dan expert  tentang tubuh manusia. Dua profesi tersebut memakan banyak waktu dan proses. Gelar pebisnis dan dokter adalah konsekuensi yang didapat setelah mereka melewati banyak tahapan. Seorang dokter belum disebut dokter ketika ia ternyata masih kuliah kedokteran semester satu. Intinya, profesi mereka adalah sebuah hasil dari perjalanan panjang.

Aan Mansyur pernah menulis, “Setia adalah pekerjaan yang baik.” Jika setia adalah sebuah pekerjaan, apakah seseorang layak diberi gelar setia ketika baru menjalin umur pacaran yang baru kemarin sore? Adakah parameter yang pasti untuk menilai seseorang tidak akan pindah ke lain hati? Adakah cara yag pasti untuk mengetahui seseorang hanya jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?

Gue rasa nggak ada yang pasti.

Karena tidak ada yang tahu bagaimana mencapai hasil akhir tanpa memulai.




======

“Kok diem aja? Kamu nggak mau setia sama aku ya?” Nana tiba-tiba memecah lamunan gue.

“Eh, apa?” Gue baru kembali dari lamunan. Nana melepas kelingkingnya yang masih terkait di kelingking gue.

“Nggak gitu, Na.”Jawab gue kalem.

“Jadi, kamu beneran nggak mau terus sama aku?” Nana mulai mengernyitkan dahinya.

“Setia itu bukan kalimat yang dengan mudah kita ucap sekarang, Na.”

“Kenapa, tinggal bilang pengin setia emang apa susahnya sih?” Nana kembali melanjutkan.

“Setia itu adanya di akhir, setia itu adalah cara untuk menyebut perjalanan panjang kita dengan satu kata, Na.”

“Ah, dasar cowok, kebanyakan gombalnya! Hih.” Nana bangkit dari kursi dan ngeloyor gitu aja.

“Na, tunggu, Na! Ini nasi padangnya siapa yang bayar??” Gue pasrah.

Cewek emang sulit dimengerti..

Kamis, 01 Februari 2018

TERIMA AKU APA ADANYAA

Terima Aku Apa Adanya?

Mungkin, bukan cuma gue yang suka bertanya-tanya, "Kenapa ada cewek yang ketika di-pedekate memiliki tubuh langsing, tapi begitu dipacarin, menjadi gendut secara tiba-tiba?" Kejadian cewek langsing yang tiba-tiba menggendut ketika sudah berada dalam fase pacaran, menurut gue adalah sebuah kejadian yang mistis.

Ini terjadi juga ke cowok seperti gue. Ya, gue beberapa kali secara live terjebak dalam percakapan kayak gini:

"Sayang, kamu cantik deh malam ini."

"Oh, jadi selama ini aku terlihat nggak cantik di mata kamu?"

Atau,

"Sayang, kamu makan apasih, kok langsing gini? Uwuwuw, makin sayang deh.."

"Apa?? Jadi selama ini aku gendut di mata kamu? Jadi, kalau aku gendut, kamu udah nggak sayang lagi ? Iya, bener begitu?"

Atau,

"Sayang, kamu kenapa sih, kok kayaknya kamu kurang sehat gitu?"

"Jadi, menurut kamu, aku nggak sehat karena aku gendut? Iya, bener begitu?!! Jawab!!"

Atau,

"Sayang, aku capres milih Jokowi nih, kamu siapa?"

"Oh, gitu, jadi kamu pilih Jokowi? Oke fine, kamu milih Jokowi karena dia lebih kurus dari aku kan?! Udahlah, kebaca banget."

"Ng-nggak, nggak jadi, aku milih Prabowo kok, suer deh."

"Ohh, terus aja nyindir aku, kamu mau bilang aku gendut kan?!! Kamu mau sama-samain aku kayak Prabowo yang embem itu kan?? Kamu jahat! Nggak punya perasaan!!!"

Skak mat.

Kenapa sih ada banyak cewek yang nggak mau jujur tentang kondisi tubuhnya? Kenapa juga sensi ketika mendengar kata "gendut"? Kenapa juga harus badmood

Apa karena banyak cewek kepengin punya badan langsing, semok, dan curvy, tapi nggak mau ngeluarin efforts buat dapetin hal di atas?

Apa benar cewek pengin dibilang dan dianggap langsing oleh kaum cowok dengan cara seperti: konsisten maraton dvd di akhir pekan, dengan cara berkomitmen leyeh-leyeh sambil ngemil, atau dengan cara persisten tidur-tiduran tanpa menggerakkan lengan, paha, dan perut seharian?

Apa benar begitu?

Belum, belum selesai sampai di situ, ternyata banyak cewek punya counter attack dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan gue barusan. Ya, ketika mereka dibilang gendut, ketika mereka diminta untuk olahraga, dan ketika mereka dianjurkan untuk memperbaiki pola makan dan gaya hidup, mereka akan menjawab dengan ini:

"KAMU JAHAT, KAMU EGOIS, KAMU NGGAK BISA TERIMA AKU APA ADANYA!!!"

"KAMU GAK BISA NERIMA MASA LALU AKU YA TINGGALIN GUE, CARI AJA YG SEMPURNA !!! "

*eh

Skak ster.

Yang gendut siapa, yang pengin punya badan langsing siapa, yang pengin bisa pake banyak jenis baju siapa, dan yang tetep disalahin adalah.....

Ahok... Ah, bukan.

Yang salah pasti cowok.

Hmm, "terima aku apa adanya?"

======

Semakin ke sini, kalimat "terima aku apa adanya", menurut gue, udah semakin disalahgunakan dan disalahartikan. Buat gue, kalimat "terima aku apa adanya" adalah sebuah cara untuk menutupi kelemahan tanpa mau memperbaiki atau melihat ke dalam diri sendiri sebagai introspeksi.

Mayoritas cewek akan memilih cowok yang mapan, yang punya jaminan masa depan yang pasti, dan yang mampu memberikan kehidupan di atas kata layak. Itu adalah sebuah hal yang nggak bisa kita argumenkan keabsahannya. Itu udah benar-benar sah. Tapi, semakin dewasanya cara berpikir, munculah prinsip lain, yang intinya adalah berjuang bersama-sama dari nol. Iya, nggak mapan dari awal gapapa, yang penting punya niat dan itikad untuk berjuang. Lalu ketika cowok itu nggak berjuang, lalu dengan standar yang sama, dengan mengucapkan kalimat, "Terima aku apa adanya dong.." Kira-kira apa yang bakal terjadi?

Ya, diputusin lah.
Egois banget kan 😭😭😭

Cewek-cewek socialites udah jelas bakal ngebully cowok kayak gitu di kehidupan nyata.

Kalau cewek aja nggak mau mendapat jawaban “terima aku apa adanya” dari cowok,

Pun pada cowok, tidak satupun dari kami ingin mendapat jawaban seperti itu dari cewek.

Lebih baik berjuang bersama, lalu kita terima bersama hasil dari perjuangan kita..

Jangan ada terima aku apadanya di antara kita..

Mungkin seperti kata Tulus,

Jangan cintai aku apa adanya,

Jangan..

Tuntutlah sesuatu,

Biar kita jalan ke depan..