Jumat, 30 Desember 2016

500 days of summer

Apa kabar, pernah mendengar 500 Days of Summer?atau bahkan sudah menonton?perlu ditekankan bahwa ini adalah (bukan) kisah cinta seorang pria dan seorang wanita. Sang pria adalah Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt), bercita-cita menjadi arsitek namun ia malah terdampar menjadi penulis kartu ucapan. Sejak kecil Tom tumbuh dengan memegang teguh kepercayaannya bahwa ia tidak akan pernah bisa hidup bahagia sampai ia bertemu dengan cinta sejatinya. Sebaliknya, sang wanita, Summer Finn (Zooey Deschanel) sama sekali tidak percaya apa itu cinta, karna orang tuanya bercerai waktu dia masih kecil. Jadi tidak ada dalam kamus Summer Finn istilah “pacar” atau “komitmen”, baginya hubungan yang ia jalani dengan pria-pria selama ini hanyalah hubungan pertemanan biasa yang dapat dengan mudah dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun dapat ia putuskan kapan saja, seperti tanpa perasaan menyesal sedikitpun disaat ia memotong rambut hitam panjangnya yang indah itu.

Pada tanggal 8 Januari di musim semi yang indah, Tom akhirnya bertemu dengan Summer yang kebetulan bekerja sebagai asisten bosnya, dan pada saat itulah ia merasa bahwa Summer adalah wanita yang selama ini ia cari. Dan pada saat itu juga dimulailah a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story.

Film ini memberikan cerita yang segar, baru dan benar-benar nyata. mungkin kebanyakan dari kita pernah mengalami kejadian ini. Saya pernah, hehe.. 😅😅

SINOPSIS

Tom melihat Summer untuk pertama kalinya pada tanggal 8 Januari. Dan pada saat itu juga dimulailah a story of boy meets girl, but you should know upfront, this is not a love story.

Berikutnya scene beralih saat Tom yang baru putus dengan Summer lalu memecahkan piring satu per satu. Kedua temannya merasa lebih lega setelah Rachel Hansen (Chloe Moretz), adik Tom muncul untuk membantu mereka menghadapi Tom yang tengah depresi. Tom lalu mencurahkan isi hatinya mulai dari hari ke-4 saat ia tanpa sengaja bertemu dengan Summer di lift dan gadis itu ternyata menyukai musik yang tengah didengarkan Tom dengan head phone-nya. Di hari ke-8 Tom memiliki kesempatan bicara lebih banyak dengan Summer
Scene demi scene bergulir secara random sesuai ingatan Tom. Pada hari ke-154 Tom menggambarkan perasaan cintanya pada Summer pada temannya sebagai berikut, "I'm in love with Summer. I love her smile. I love her hair. I love her knees. I love this heart-shaped birth mark she has on her neck. I love the way she sometimes licks her lips before she talks. I love the sound of her laugh. I love the way she looks when she's sleeping." Sebaliknya pada hari ke-322 Tom berkata demikian tentang Summer, "I hate Summer. I hate her crooked teeth. I hate her 1960's haircut. I hate her knobby knees. And I hate her cockroach-shaped splotch on her neck. I hate the way she smacks her lips before she talks. And I hate the way she sounds when she laughs."

Di hari ke-11 Tom bercerita pada Rachel bahwa Summer menyukai Magritte and Hopper, lalu di hari ke-28 saat seisi kantor pergi ke tempat karaoke seusai jam kerja, Tom akhirnya bisa berbincang lebih jauh dengan Summer. ini dialog di hari ke-28 :

Summer: There's no such thing as love. It's a fantasy.

Tom: Well, I think you're wrong.

Summer: Okay well, what is it that I'm missing then?

Tom: I think you know it when you feel it.

Scene berikutnya lalu bercerita tentang perjalanan cinta Tom-Summer dari saat mereka pertama kali berciuman di dekat mesin fotocopy pada hari ke-31, berjalan-jalan ke IKEA untuk melihat wastafel dan spring bed dan berpura-pura itu rumah mereka, berjalan-jalan melihat bangunan kota, lalu hari-hari saat mereka bertengkar dan berbaikan lagi, hingga hari di mana Tom menyadari bahwa antara harapan dan kenyataan ternyata berbeda sama sekali. Summer mengundangnya datang ke pesta bukan untuk melanjutkan kisah ‘cinta’ mereka. Sebaliknya pada hari itu Summer bertunangan dengan pria lain.

Di akhir cerita Summer menjelaskan pada Tom bahwa ia tidak pernah merasa yakin bahwa Tom adalah jodohnya, bahkan pada saat mereka masih bersama. Summer lalu bercerita bahwa pertemuannya dengan pria yang sekarang menjadi suaminya juga tidak terbayangkan olehnya. Ia tengah membaca buku Dorian Gray dan seorang pria bertanya padanya tentang isi buku itu. Tidak pernah terbayang oleh Summer dan ia sendiri terkejut karena ia tadinya adalah gadis yang tidak ingin menjadi kekasih siapa pun dan sekarang ia adalah seorang isteri. Summer berkata bahwa hal ini memang sudah ditakdirkan. Scene ini terasa agak mengharukan.

Berikutnya pada hari Rabu di tanggal 23 Mei, Tom yang telah berhenti bekerja sebagai pembuat kartu ucapan datang untuk wawancara kerja di sebuah gedung dan tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis yang akan menjadi kompetitornya. Mereka lalu berbincang dan gadis itu mengatakan pernah melihat Tom di Angelus Plaza saat melihat bangunan kota. Tom yang lalu dipanggil masuk ke ruangan untuk bertemu dengan pewawancaranya lalu menawari gadis itu untuk minum kopi bersama setelah itu. Meski sebelumnya Tom meyakini bahwa menemukan belahan jiwanya tidak ada hubungannya dengan nasib, takdir atau pun sudah ditakdirkan, tapi hanya sebuah kebetulan; tak urung Tom terhenyak saat gadis itu menyebutkan namanya: Autumn (Minka Kelly). Seolah hari-harinya bersama Summer memang sudah ditakdirkan berakhir karena ia akan bertemu dengan Autumn. Di antara banyak nama, Tom justru bertemu dengan gadis bernama Autumn yang juga nama sejenis musim

Senin, 26 Desember 2016

2016 Viral dan perjalanan

OM TELOLET DAN PERJALANAN 2016

“Ternyata, tahun 2016 punya punchline-nya sendiri, dan akan segera berakhir"

Itu yang terbersit di kepala gua ketika akhir akhir ini dihebohkan oleh,

OM TELOLET OM.

Apa sih sebenernya om telolet om ini sampai popularitasnya yang dalam hitungan hari bisa meroket bagaikan bigot agama yang tumbuh sporadis layaknya jamur di musim hujan? #tsah Om telolet om ini adalah hal yang sangat teramat sederhana – walau seringkali nampak ngga ada faedahnya – namun  dapat dengan mudah memberikan senyum dan tawa. 

Om telolet om ini cuma minta supir truk atau supir bis malem supaya mainin klaksonnya, kalau si supir mainin klaksonnya, anak-anak bersorak-sorai riang gembira. Kalau sang supir memilih untuk tidak koperatif, sang supir akan dikucilkan oleh masyarakat sekitar #heleeeh Ah bukan, sang supir dapat terus melaju demi mencari nafkah untuk keluarganya.

Tapi buat gua, kadar nggak jelasnya tuh percis kayak kadar horor-nya bapa-bapa nyirem air got ke jalanan sore-sore dan cuman pake kaos kutang. Kurang dapat dimengerti visi dan misinya. Sampai pada akhirnya ada satu hal yang bikin gua senyum: supir busnya mainin telolet-nya di luar pakem normal. 

Ada yang sampe niruin irama ibu kita kartini, ada juga yang niruin irama susu murni nasional, ada juga yang niruin irama aipama. Ada juga yang udah  nge-chat panjang-panjang tapi cuma centang doang. Di sini ada indikasi bahwa sang supir bus juga menikmati aksi om telolet om ini.

Setelah gua menonton lebih banyak tayangan video, partisipasi orang-orang mancanegara, dan raut wajah bahagia teman kantor gua yang turun ke pinggir jalan cuma untuk di-telolet-in, (gua juga gak ikut nemenin, dan tapi kok gua juga ikut girang),  tiba-tiba gua seperti menemukan hal yang luar biasa dari om telolet om ini:

Telolet adalah miniatur sebuah perjalanan

Telolet adalah miniatur perjalanan jatuh cinta: bahwasanya (caileeh bahwasanya) cinta datang begitu sederhana.

Pernahkah kita benar-benar berkata bahwa cinta datang begitu sederhana? Pernahkah bersusah payah mengejar seseorang yang nyatanya semakin dikejar semakin tidak ada? Pernahkah duduk diam, berhenti mencari, namun malah menemukan?

Gua pernah.

Telolet-teloletan ini bukanlah barang baru, ini sudah lama dimainkan anak-anak yang rumahnya di pinggir jalan tol pantura. Mereka berbahagia dengan sesuatu yang gua anggap remeh-temeh. Pun sama halnya dengan gua, mengejar yang tak ingin dikejar, memberi perhatian pada yang tak ingin diperhatikan, berjuang untuk yang tak ingin diperjuangkan, dan.. bersusah payah mencari yang sejatinya tak ingin ditemukan.

Abang lelah, dik.

Sampai pada akhirnya gua duduk diam, memejam, dan memutuskan untuk berhenti mencari. Sesaat setelah membuka mata, gua sadar, bahwasanya berhenti mencari adalah cari lain menemukan. Gua menemukan dirinya yang sebenarnya tidak lain dan tidaklah bukan adalah orang yang selama ini telah ada di dekat gua, dan gua anggap remeh.

Gua seperti bocah kecil yang kegirangan mendapat balasan sederhana dari supir bus, yaitu telolet. #teloletloletlolet

Gua seperti ingin curhat dadakan, “Anjirgua ke mana aja, selama ini dia tuh sayang sama gua, tapi malah gua pandang sebelah mata.” 

Hari itu gua jadi mengerti kuatnya sesuatu yang datang dari cara yang sederhana: Jangan main-main dengan seseorang yang tahu betul bagaimana membuatmu tersenyum, tertawa, bersedih, menangis, dengan cara yang sangat sederhana.

Om telolet om.... #lah 😂

Om, cintai aku dengan sederhana, om..

Telolet adalah miniatur perjalanan jatuh cinta: bahwasanya cinta adalah simbol dari rasa saling.

sesaat setelah gua tersenyum melihat gelak tawa teman gua yang mendapat telolet dari bus malam Kramat Djati di Bypass.

Cuma senyum dan sedikit tawa yang bisa gua tunjukkan ketika menemukan temen gua bisa bahagia dengan cara yang amat sederhana ini. 

Betapa contagious-nya orang yang sedang tersenyum dan berbahagia. Senyuman seperti menciptakan rasa saling di antara kami. Bahkan, untuk orang kayak gua yang nggak peduli dan nggak ngerti di mana letak lucunya om telolet om ini, sore itu gue berbahagia.

Hanya karena dia tersenyum, gua jadi ikut bahagia. Hanya karena dia bersedih, gua turut menderita. Hanya karena dia yang tertusuk, gua yang ikut berdarah. Hanya karena dia yang terjatuh, gua yang sama-sama merangkak untuk bangun sekali lagi.

Sore itu, gua jadi kembali diingatkan, bahwa bukanlah cinta jika tidak membawa rasa saling di antara kita.

Telolet, sekali lagi, menyadarkan gua dengan cara yang amat sederhana, bahwasanya cinta adalah simbol dari rasa saling, bahwa yang tertusuk padamu, berdarah padaku.

Jika dia nggak merasakan bahwa kamu khawatir saat dia nggak ngabarin,

jika dia nggak merasakan betapa hancurnya kamu yang udah nge-chat panjang-panjang tapi dibales dia cuma pake emot,

jika dia nggak merasakan bahwa semua nomensyen kamu di twitter, di path, di status BBM itu adalah untuk dia seorang,

jika dia nggak merasakan bahwa betapa berantakannya hatimu pas dia udah ngacak-ngacakin rambut kamu tapi dia nggak ngajak pacaran,

jika dia nggak merasakan betapa porak-porandanya hatimu pas dia udah nyium keningmu tapi dia masih aja suka ilang-ilangan,

itu bukan cinta.

tiada rasa saling di antara kalian.. #asek

Udah, tinggalin aja.

Om telolet om. #lah 😂

Telolet adalah miniatur perjalanan jatuh cinta: bahwasanya cinta dan benci adalah sedekat jantung dengan detaknya.

Cinta yang suka datang tiba-tiba ini, yang suka datang dengan cara yang sederhana dan kita luput sadari ini, cinta yang entah kita tidak sadari diam-diam menciptakan rasa saling di antara kita ini, ternyata acapkali datang tidak sendiri, namun berdua dengan sahabat sejatinya: Benci.

Danar, salah satu teman baik gue pernah menepuk bahu gua di sela-sela kesedihan yang gua derita karena diputusin pacar, “Apa lawan kata dari cinta, Dan?” Tanyanya.

“Benci, kan? Buktinya dia pergi ninggalin gua gara-gara gua lupa kalau hari ini adalah anniversary kami yang kedua minggu. Pasti dia benci kan sama gua?” Jawab gua dengan pandangan kosong ke langit-langit kamar.

“Bukan.” Dengan satu isapan rokoknya, “Lawan kata cinta bukan benci, tapi kepercayaan. Lo bisa artiin kepercayaan di sini sebagai rasa saling percaya, ataupun kepercayaan sebagai agama atau keyakinan. Karena dua-duanya sudah teruji klinis mematikan banyak cinta anak manusia.”

Anjay.” Bisik gua dalam hati.

“Benci itu bukan lawan dari cinta, justru dia adalah sahabat sejati, dia adalah punggung dari dada empuk saat kau memeluk perempuan, dia adalah detak dari jantung yang kau rasakan berdenyut hari ini.” Tambahnya lagi setelah satu embusan asap rokok dari mulutnya.

“Gimana-gimana, nar?” Gua rada bego nih kalau abis diputusin gini.” Balas gua sambil menggaruk kepala.

“Sederhananya, cinta dan benci cuma sedekat jantung dengan detaknya.” Imbuhnya kembali.

Dan lagi-lagi, telolet seperti membawa gua kembali ke percakapan tersebut. Ketika gua melihat begitu banyak keriaan, kesenangan, kebahagiaan yang ditimbulkan olehtelolet, di saat yang bersamaan, gua juga harus siap menerima sahabat sejatinya cinta, yaitu benci.

Ada banyak yang nggak suka dan muak terhadap telolet. I’m done with this fukkenlet.

Dan pada dua hari yang sama, yaitu dua hari yang membuat telolet mendunia, dua hari itu menjadi ajang debat dan twitwar telolet. Banyak yang muak karena om telolet om ini di-spamming ke semua komen sosial media. Bahkan ketika ada yang nge-post untuk membantu korban bencana alam, komen yang membajiri postingan tersebut adalah, om telolet om.

Selain karena spamming, banyak orang muak terhadap telolet ini disebabkan karena mereka nggak nemu di mana lucunya. Ini persis bingungnya kayak jomlo yang ditanya kenapa nggak punya pacar, ya karena nggak nemu di mana jodohnya.

Gua juga sebenernya nggak nemu di mana lucunya, tapi telolet menyadarkan gue banyak hal..

Bahwasanya ada begitu banyak cara untuk berbahagia, dan terkadang kita selalu mencari yang paling sulit, sehingga ketika ada orang lain yang bahagia dengan cara yang sederhana, kita jadi judgmental dan menetapkan standar sulit kita pada mereka.

Bahwasanya cinta datang sepaket dengan benci, di saat kita melihat ada orang yang berbahagia, di saat yang bersamaan kita juga akan melihat hal yang sebaliknya. Di sanalah kita melihat jatuh cinta bekerja. Ia menghasilkan kebijaksanaan.

Dari telolet gua kembali diingatkan,

Jangan persulit dirimu untuk berbahagia, dan jangan juga kebahagiaanmu mempersulit orang lain.

Om telolet om,

om anak cewenya bisa kali om..