Minggu, 07 April 2013

K . O . P . I



Secangkir kopi yang mencari rasa pahitnya sendiri

“Mbak, saya pesan kopi, pisahkan pahitnya ya” , pintaku pada pelayan ini.
“Hidup, tak boleh memilih rasa nyeri” , jawabnya menjauh pergi

“Baiklah, satu cangkir saja, kopi tanpa gula, agar pahitnya membuat luka makin dewasa” , jawabku, sambil menatap daftar menu.

“Pesan saja kopi yang kamu mau, siapa tahu, pada teguk terakhir kopimu; luka menemukan takdir yang ia mau” , pelayan kafe itu menceramahiku.

“Seperti apa kau tahu tentang rasa sakitku , apakah sebaik pengetahuanmu tentang rasa pahit kopiku?” , kataku, sambil menghisap rokok filterku.

“Minum saja kopimu , jangan kau habiskan waktumu dengan bertanya padaku. Rasa pahit , dan juga rasa sakit, memiliki deadline sendiri-sendiri” , katanya sambil malu-malu sambil menatapku.

“Terima kasih mbak, telah memberikan rasa pahit pada kopiku. Boleh minta nomor teleponmu, nanti kutelepon kalau aku sudah bisa melupakan rasa sakitku”  , pintaku ragu-ragu.

“Tak perlu menghubungiku. Sebab, saat kau telah melupakan rasa sakitmu, aku sudah tak lagi menjadi pelayan di kafe ini” , jawabnya , sendu.

Kutinggalkan kafe itu pelan-pelan, ada yang menetes perlahan-lahan; mungkin rasa pahit, mungkin kesedihan. Kubaca sebuah pesan pada bon yang baru saja aku bayarkan:

 “Selain Kopi, Tak Ada Lagi Kekasih Yang Tak Menyakiti”.

 

Sumber: Don Juan (Playboy yang gagal Move on)